Minggu, 08 Februari 2026

Kajian Subuh Ust. Haikal Sya'ban: "Zakat Wajib Hukumnya"

Kedudukan orang yang sudah diyakini masuk syurga, kemudian ditambahkan umurnya untuk mendapatkan keberkahan ramadhan maka derajat surganya bagai rentang bumi dan langit.

Maka selalulah berdoa agar kita sampai dibulan Ramadhan. Dapat beramal dengan keimanan dengan harapan mendapatkan ridhonya Allah. 

Serta mendapatkan hidayah Allah dalam melaksanakan pelbagai ibadah dibulan suci yang sangat mulia ini.

Diharapkan juga lebih fokus mengerjakan yang wajib dengan menambah amalan-amalan sunahnya.

Wajibnya Zakat

Menunaikan zakat  pada hakekatnya sebagai anugrah pada pertambahan harta kita supaya tumbuh. Terutama atas h
arta yang sudah memenuhi nisabnya.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

خُذْ مِنْ اَمْوَا لِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيْهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۗ اِنَّ صَلٰوتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ ۗ وَا للّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ

Khuz min amwaalihim shodaqotang tuthohhiruhum wa tuzakkiihim bihaa wa sholli 'alaihim, inna sholaataka sakanul lahum, wallohu samii'un 'aliim.

"Ambillah zakat dari harta mereka guna membersihkan dan menyucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui."
(QS. At-Taubah 9: Ayat 103).

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَاَ قِيْمُواالصَّلٰوةَ وَاٰ تُواالزَّكٰوةَ وَا رْكَعُوْا مَعَ الرّٰكِعِيْنَ

wa aqiimush-sholaata wa aatuz-zakaata warka'uu ma'ar-rooki'iin

"Dan laksanakanlah sholat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang yang rukuk."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 43).

Zakat adalah wajib hukumnya. Muslim yang tidak membayarkan zakat akan jatuh kedalam dosa besar.

Bahkan bagi orang yang mengatakan zakat tidak wajib maka dia dikategorikan sebagai kafir bahkan disebut murtad.

Abubakar Siddiq memerangi orang-orang yang memisahkan kewajiban zakat ini, karena Allah selalu menghubungkan antara sholat dan zakat.

Harta yang wajib dizakatkan:

1. Hewan ternak yaitu unta, sapi dan kambing

Hadist Rasulullah siapa yang tidak menunaikan zakat hewan, maka diakhirat nanti hewan tersebut akan dihidupkan kembali lebih besar lalu menanduk pemiliknya.

2. Alat tukar (uang):

Emas, perak dan uang hukumnya  wajib untuk dikeluarkan zakatnya.
Bagi orang yang tidak mengeluarkannya maka dihari kiamat akan menjadikan emas dan perak tersebut disetrikakan setelah dibakar kepada yang tidak menjalankan zakat ini.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَنْفِقُوْا مِنْ طَيِّبٰتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّاۤ اَخْرَجْنَا لَـكُمْ مِّنَ الْاَ رْضِ ۗ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيْثَ مِنْهُ تُنْفِقُوْنَ وَلَسْتُمْ بِاٰ خِذِيْهِ اِلَّاۤ اَنْ تُغْمِضُوْا فِيْهِ ۗ وَا عْلَمُوْۤا اَنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ

Yaaa ayyuhallaziina aamanuuu angfiquu ming thoyyibaati maa kasabtum wa mimmaaa akhrojnaa lakum minal-ardh, wa laa tayammamul-khobiisa min-hu tungfiquuna wa lastum bi-aakhiziihi illaaa ang tughmidhuu fiih, wa'lamuuu annalloha ghoniyyun hamiid.

"Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Janganlah kamu memilih yang buruk untuk kamu keluarkan, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya, melainkan dengan memicingkan mata (enggan) terhadapnya. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya, Maha Terpuji."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 267).

3, biji bijian dan buah buahan
Biji bijian yang khusus untuk dimakan

4. Barang tambang dan rikaz
Rikaz adalah harta Karun yang temukan.

Hikmah zakat:

1. Membersihkan dan menumbuhkan harta menghadirkan keberkahan, menghilangkan keburukan
2. Membersihkan Muzakki (pembayar zakat) dari kikir dan Bakhil
3. Melipur duka fakir miskin
4. Mewujudkan solidaritas, tolong menolong
5. Mensyukuri nikmat Allah.
6. Menunjukan kejujuran.

Zakat mas sudah masuk nisab 85 gr. Dikenakan zakat 2,5 %
Sedangkan Dinar atau perak nisabnya 559 gr.

Kalau uang dihitung dengan emas sedangkan ulama Saudi menetapkan dengan perak, maka sekiranya uang yang disimpan sudah melebihi nisabnya dan haulnya sudah setahun menurut kalender Hijriyah Maka wajib hukumnya mengeluarkan zakatnya.

Semoga kita selalu melakukan perintah Allah, dalam perihal zakat ini dan diberi kekuatan menunaikannya.

Aamiin ya rabb...(Rep:Rusdi/Edit:Nas)

Jumat, 06 Februari 2026

Bahagia Menyambut Ramadhan

Menyambut Ramadhan dengan bahagia adalah wujud syukur dan tanda keimanan, sesuai hadits bahwa yang bergembira menyambutnya diharamkan dari api neraka. Kegembiraan ini diwujudkan dengan persiapan fisik-mental, meningkatkan ibadah, serta menjaga silaturahmi. Ramadhan adalah tamu agung penuh berkah, rahmat, dan ampunan.

Berikut adalah poin-poin penting dalam menyambut Ramadhan dengan penuh kebahagiaan:

Penyucian Hati dan Syukur: Menyambut dengan hati bersih, rindu, dan sukacita karena dipertemukan kembali dengan bulan suci.

Persiapan Fisik dan Mental: Menjaga kesehatan, pola makan seimbang, dan tidur teratur agar ibadah maksimal
.
Peningkatan Ibadah: Memperbanyak doa, istighfar, membaca Al-Qur'an, dan beramal saleh.

Tradisi Positif: Melakukan munggahan atau tradisi silaturahmi bersama keluarga dan kerabat untuk mempererat tali persaudaraan.

Keutamaan Bulan Suci: Bulan penuh ampunan, di mana pintu surga dibuka dan setan dibelenggu, menjadikannya momen terbaik meningkatkan ketaqwaan.

Bahagia menyambut Ramadhan membantu meningkatkan keikhlasan dan semangat dalam berpuasa sebagai momen penyegaran iman.

Bulan panen pahala

Dalam hitungan hari, umat Islam seluruh dunia akan memasuki bulan Ramadhan. Sebuah bulan yang diyakini mulia dan meningkatkan pahala amal ibadah. Dalam artikel berjudul Amalan menyambut Ramadhan di NU Online yang ditulis Ulil Hadrawy, disebutkan bahwa di antara hal penting dalam menyambut Ramadhan yaitu senang dengan datangnya Ramadhan dan meminta maaf kepada sesama manusia. 

Dua amal ini terlihat berbeda dalam tulisan, tapi sejatinya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Bagi seseorang yang senang dengan datangnya Ramadhan, maka ia akan mengunjungi keluarga, tetangga dan teman untuk membagikan kebahagiaan dan minta maaf. Sehingga ketika memasuki bulan Ramadhan, bisa ibadah bersama. 

Pertama, saling memaafkan. Amal baik yang bisa dilakukan ketika menyambut datangnya bulan Ramadhan yaitu meminta maaf kepada Allah (taubat) dan saling memaafkan sesama manusia. Namun, bagi yang meminta maaf terlebih dahulu memiliki nilai lebih. 

Dalam kehidupan sosial sesama manusia, tak jarang terjadi kesalahpahaman yang berujung permusuhan. Sehingga dirasakan perlu meminta maaf kepada sesama manusia agar ketika Ramadhan datang, hati dan pikiran dalam keadaan bersih. 
Hal ini sesuai dengan anjuran Islam dalam al-Baqarah ayat 178 ...فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ ذَلِكَ تَخْفِيفٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَرَحْمَةٌ فَمَنِ اعْتَدَى بَعْدَ ذَلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌ 

Artinya: "Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (dia) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih." (QS Al-Baqarah :178) 

Dalam sebuah hadis shahih, Nabi Muhammad saw menganjurkan agar siapa yang mempunyai tanggung jawab terhadap orang lain, baiknya itu menyangkut kehormatan atau apa saja, segera menyelesaikannya di dunia ini, sehingga tanggung jawab itu menjadi bebas (bisa dengan menebus, bisa dengan meminta halal, atau meminta maaf). 

Sebab nanti di akhirat sudah tidak ada lagi uang untuk tebus menebus. Orang yang mempunyai tanggungan dan belum meminta halal ketika dunia, kelak akan diperhitungkan dengan amalnya: apabila dia punya amal saleh, dari amal shalehnya itulah tanggungannya akan ditebus; bila tidak memiliki, maka dosa atas orang yang disalahinya akan ditimpakan kepadanya, dengan ukuran tanggungannya. (Lihat misalnya, Jawahir al-Bukhari, hlm. 275, hadis nomer: 353 dan shahih Muslim, II/430). 

Kedua, senang dengan kedatangan Ramadhan. Anjuran menyambut Ramadhan dengan senang merupakan ajaran Rasulullah dan kebiasaan para ulama serta orang saleh. Hal ini bisa dilihat dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad bin Hambal dalam Musnadnya sebagai berikut:

 حَدَّثنا عَبْدُ اللهِ، حَدَّثَنِي أَبِي، حَدَّثنا عَفَّانُ، حَدَّثنا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ حَدَّثنا أَيُّوبُ، عَنْ أَبِي قِلاَبَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلى الله عَليه وسَلم يُبَشِّرُ أَصْحَابَهُ قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ يُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَيُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ 

Artinya: "Abdullah telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Ayahku telah menceritakan kepadaku, ia berkata, Affan telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Hammad bin Zaid telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Ayyub telah menceritakan kepada kami, dari Abu Qiladah, dari Abu Hurairah r.a., ia berkata: Rasulullah saw. memberikan kabar gembira kepada sahabat-sahabatnya, “Bulan Ramadhan telah datang. Ramadhan adalah bulan yang diberkahi. Allah telah mewajibkan puasa atas kalian. Pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup rapat-rapat dan setan-setan dibelenggu di dalamnya. 

Di dalam bulan Suci Ramadhan ada satu malam yang lebih baik dari pada malam seribu bulan. Orang yang menghalangi kebaikan di dalam bulan Suci Ramadhan ini, maka dia akan terhalang dengan kebaikan.” 

Hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad ini bisa dijadikan dasar. Bagi orang yang beriman, mengetahui keutamaan-keutamaan yang spesial untuk bulan Ramadhan yang tidak dimiliki oleh bulan-bulan yang lain adalah kabar gembira yang tidak terhingga. 

Dari Abu Hurairah Ra dalam redaksi hadits lain, Rasulullah SAW juga bersabda:

 مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “

Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 38 dan Muslim No. 860). 

Menurut keterangan Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani di kitab Fathul Bari, yang dimaksud berpuasa atas dasar iman yaitu berpuasa karena meyakini akan kewajiban puasa Ramadhan sedangkan yang dimaksud ihtisab adalah mengharap pahala dari Allah Ta’ala. 

Syekh Usman Al-Khaubawi dalam kitabnya yang Durratun Nashihin menulis bahwa seseorang yang bahagia menyambut Ramadhan akan selamat dari api neraka:

مَنْ فَرِحَ بِدُخُوْلِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلَى النِّيْرَانِ 

Barang siapa yang berbahagia dengan masuknya bulan Ramadhan, maka Allah haramkan jasadnya di atas api neraka. 

Hanya saja, redaksi di kitab Durratun Nashihin ini masih diperdebatkan. Apakah mungkin hanya dengan senang saja, seseorang lepas dari api neraka. (kontributor: Syarif Abdurrahman/editing:nanas)


berpuasa, menjadikannya momen penyegaran iman.

Rabu, 04 Februari 2026

Tipu Daya Iblis di Arafah

Cerita tentang "Talbis Iblis" (tipu daya iblis) di Arafah, khususnya dalam konteks sufi, sering merujuk pada upaya iblis untuk merusak amal ibadah yang paling utama di saat puncak haji. 

Kisah ini sering dikaitkan dengan narasi hikmah tentang keputusasaan iblis pada hari Arafah, meskipun mereka tidak berhenti menipu manusia.

Berikut adalah ringkasan cerita dan konsep Talbis Iblis di Arafah berdasarkan perspektif sufi dan ulama:

1. Narasi Iblis Menangis dan Putus Asa di Arafah

Dalam banyak kitab hikmah, diceritakan bahwa pada hari Arafah, iblis merasa sangat jengkel dan merana. Iblis menangis meraung-raung karena melihat rahmat Allah SWT turun secara besar-besaran, dan dosa para jamaah haji diampuni secara massal. 

Talbis: Saat itu, iblis menyadari bahwa usahanya selama setahun untuk menyesatkan manusia hancur dalam sekejap ketika mereka wukuf.

Puncak Kecemburuan: Iblis cemburu melihat hamba-hamba Allah yang kembali suci. Namun, keputusasaan ini tidak membuat iblis berhenti, melainkan memicunya untuk membuat "tipu daya" baru, khususnya terhadap para ahli ibadah (termasuk kaum sufi).

2. Talbis Iblis terhadap Sufi (Orang Zuhud) di Arafah

Imam Ibnu al-Jauzi dalam kitabnya Talbis Iblis mengungkap bagaimana iblis menipu kaum sufi dan orang zuhud, termasuk dalam momen haji: Menyalahi Sunah: Iblis merayu mereka untuk merasa "terlalu suci" sehingga meninggalkan sunah Nabi SAW. Misalnya, berhaji tanpa membawa bekal sama sekali dengan alasan tawakul ekstrim, padahal Nabi SAW sendiri membawa perbekalan.

Kekaguman Diri (Ujub): Iblis berusaha menanamkan perasaan bahwa ibadah mereka lebih tinggi daripada orang awam, membuat mereka terjebak pada ujub (bangga diri) saat berwukuf di Arafah, sehingga pahala haji mereka terhapus.

Tingkah Laku Berlebihan: Iblis membisikkan perilaku berlebihan yang dianggap sebagai zuhud, seperti menyiksa diri sendiri atau meninggalkan kebersihan, yang sebenarnya bertentangan dengan ajaran Islam.

3. Esensi Talbis Iblis di Arafah

Talbis Iblis bertujuan mengubah yang buruk menjadi tampak baik. Di Arafah, iblis tidak selalu menggoda dengan maksiat telanjang, melainkan melalui: Syubhat (Keraguan): Membuat sufi ragu akan sahnya haji mereka sehingga was-was.

Riya dan Sum'ah: Iblis berusaha meyakinkan bahwa membuat ibadah di Arafah ditujukan untuk dipuji atau ingin dianggap sebagai orang shalih.

Kesimpulan Cerita

Kisah "Talbis Iblis di Arafah" adalah pengingat bahwa bahkan di tempat paling suci dan waktu paling mulia, tipu daya iblis tetap mengintai. Iblis tidak hanya menggoda orang awam, tetapi justru fokus menipu para ahli ibadah agar terjebak pada kesombongan ruhani, meninggalkan sunah, dan beramal tanpa dasar ilmu yang benar.

Berikut cuplikan kisah dialog iblis dan sufi

“Apabila kamu telah bertolak dari Arafah, maka berzikirlah kepada Allah…” Begitulah yang tersurat dalam QS. Al-Baqarah (2) : 198.

WUKUF di 'Arafah, kerap dipahami sebagai peristiwa pengenalan dan kesadaran—ketika Nabi Ibrahim meyakini bahwa mimpinya adalah perintah dari Allah.

Dari makna inilah Arafah dipahami sebagai “mengenali” dan “menyadari”.
Saat wukuf di Arafah jemaah haji berdiam sejenak untuk merenung dan bertaubat atas semua kesalahan yang pernah dilakukannya.
Inilah puncak ibadah haji. 

Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ :
“Al-hajju ‘Arafah” — Haji itu (intinya) adalah Arafah. (HR. Tirmidzi, Abu Dawud).

Apabila haji seseorang mabrur, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni. 

Inilah yang membuat Iblis iri. Sehingga ia menggoda manusia dengan ujub—merasa kagum pada amalnya sendiri. Sebab orang yang ujub merasa tak lagi membutuhkan ampunan.

Talbis Iblis

SUATU ketika, di saat jutaan manusia berdiri dengan tangan terangkat dan air mata bercucuran di Padang Arafah, seorang wali Allah memilih untuk duduk agak menjauh.

Bukan karena enggan berdoa, tapi ia menjaga agar hatinya tidak sibuk membandingkan dirinya dengan manusia lain.

Tiba-tiba datang seorang lelaki berpakaian lusuh. Wajahnya pucat, tubuhnya kurus, dan matanya memancarkan kelelahan yang panjang.

Ia duduk tak jauh dari sang wali, lalu berkata lirih,
“Sungguh beruntung manusia-manusia ini. Mereka datang dari berbagai penjuru dunia, lalu berdiri di Arafah, kemudian pulang dengan dosa yang telah diampuni.”

Nada suaranya terdengar sedikit galau, seperti ada sebuah penyesalan.
Sang wali menoleh dan bertanya dengan tenang,
“Mengapa engkau berkata demikian wahai fulan..?”

Lelaki itu lalu menoleh dan tersenyum pahit.
“Bagaimana tidak. Aku telah beribadah ribuan tahun. Sujudku pun tak terhitung," ucapnya lirih. "Tapi karena satu kesalahan, aku dihukum untuk selamanya. Sedangkan mereka, hanya dengan hadir di sini, seluruh dosanya diampuni..,” tambahnya seolah tak terima.

Sang wali lalu memandangnya lebih dalam. Kemudian berkata,
“Apakah engkau menyesal?”

Wajah lelaki itu mengeras.

“Aku menyesal karena mereka diampuni,” jawabnya.
Saat itu sang wali bertanya dengan suara agak tinggi,
“Apakah Engkau Iblis wahai fulan..?”

Lelaki itu tertawa perlahan, lalu menjawab,
“Benar,” katanya. “Tapi aku hanya membicarakan tentang keutamaan wukuf di 'Arafah...”

Sang wali menjawab,
“Ya. Engkau memang membicarakan tentang keutamaan wukuf di Arafah, tapi hatimu penuh kedengkian. Engkau menyebut tentang ampunan, tapi dirimu merasa lebih baik...”

Iblis mendekat dan berbisik,
“Bukankah aku hanya mengatakan bahwa orang-orang ini beruntung? Dan yang tidak hadir di sini adalah orang-orang yang merugi?”

Sang wali menunduk sejenak, lalu berkata,
“Celaka engkau, wahai Iblis. Engkau memang tidak sedang mengajak manusia berbuat dosa. Tapi engkau telah membuat mereka merasa bangga dengan ibadahnya.”

Wajah Iblis pun berubah muram. Lalu berkata,
“Alangkah celakanya diriku, kapankah mereka akan memandang amalnya dengan pandangan ujub (sehingga menjadi sia-sia)? Jangan-jangan mereka sudah lebih pandai dari tipu dayaku?”

Sekejap kemudian iblis pun menghilang, seolah tak pernah ada.

Sang wali kembali mengangkat tangannya dan berdoa,
“Ya Allah, lindungilah aku dari ibadah
yang membuat diriku merasa lebih baik
daripada hamba-hamba-Mu yang lain.”

KISAH ini mengingatkan kita agar selalu berhati-hati terhadap talbis Iblis–yang berusaha menggoda manusia secara halus untuk menimbulkan rasa ujub dalam ibadahnya.

Wukuf di Arafah bukanlah sekadar ritual ibadah, melainkan sebuah perenungan agar manusia senantiasa menjaga kemurnian amalannya.

"Wallahu a‘lam bish-shawab."

DJ-Way | 5 Februari 2026
Copyleft. Free to share.
Sumber : Disadur dari Ihyaa ‘Ulumuddin – al-Ghazali.
Keterangan :
¹ Talbis adalah istilah klasik dalam khazanah tasawuf yang berarti tipuan halus.
² Kisah adabi/simbolik, bukan cerita sebenarnya.

17 Goweser Waspada Kesehatan Pasca Idul Qurban

(berpose di Depan Kantor Dinas Teritorial Bandara Husen Sastranegara) (Rest Pertama di Gedung Sebelah Hotel Homan) Tujuh belas goweser RW-10...