Kamis, 30 April 2026

Hakikat Qurban: Allah Tidak Butuh Daging dan Darahnya



Makna hakiki qurban bukan sekadar menyembelih hewan, melainkan wujud ketaatan mutlak kepada Allah, ketulusan, serta penyembelihan sifat-sifat kebinatangan (egois, serakah, sombong) dalam diri manusia. Ibadah ini juga bermakna sosial untuk berbagi, menanamkan kepedulian, dan menghidupkan persaudaraan.

Bukan daging dan darahnya

Qurban berakar dari kata qaruba, yang berarti pendekatan diri kepada Allah SWT demi mendapat ridha-Nya. Menurut Imam Al-Ghazali, qurban adalah simbol mematikan sifat kebinatangan dalam diri manusia, seperti nafsu amarah, keserakahan, dan egoisme. Meneladani ketaatan Nabi Ibrahim AS yang rela mengorbankan putranya, Ismail AS, atas perintah Allah.

Yang dinilai Allah bukanlah daging atau darah hewan kurban, melainkan ketakwaan dan ketulusan hati pelakunya. Qurban berfungsi meringankan beban kaum fakir miskin dan mempererat tali persaudaraan (ukhuwah).

Singkatnya, qurban adalah pengorbanan harta dan jiwa untuk mencapai derajat ketaqwaan tertinggi serta menebar kebaikan kepada sesama manusia.

Adapun tujuan disyariatkannya kurban adalah untuk meraih derajat ketaqwaan, sementara menyembelih hewan hanyalah sarana (wasilah) untuk mendekatkan diri (qurban-taqarrub) kepada Allah Swt.

Mengikis nafsu hewani

Menurut Imam al-Ghazali dalam Kitab Ihya’ Ulumuddin, kurban merupakan simbol dari penghilangan sifat dan nafsu hewani yang ada dalam jiwa manusia yang menjadi penghalang (hijab) manusia untuk dekat kepada Allah.

Jadi hakikat berkorban sejatinya sama dengan hakikat berjuang. Mereka yang memiliki naluri dan mental berjuang sudah barang tentu tidak akan berhenti berjuang sebelum tujuannya tergapai. 

Dahulu saat bertempur melawan penjajah, slogan para pejuang adalah merdeka atau mati, begitu juga dengan orang yang ber-kurban, karena berjuang atau kurban merupakan panggilan hati yang terdalam, sehingga tidak layak jika dilakukan hanya setengah hati, atau dengan tujuan agar memperoleh pujian dan balasan dari orang lain. Karena yang dinilai dalam kurban tidak lain kecuali adalah ketulusan dan keikhlasan. Karena Allah tidak butuh daging atau darahnya.

Mempertajam kepekaan

Jika spirit kurban menghilangkan sifat kikir dan memperlihatkan kemahabesaran kasih sayang (rahmat) Allah pada seluruh hamba-Nya, maka sejatinya kurban juga mengajarkan manusia untuk mempertajam kepekaan dan tanggungjawab sosial (social responsibility). 

Dengan berqurban, diharapkan timbul rasa kebersamaan dalam masyarakat sehingga bisa menggalang solidaritas, kesetiakawanan sosial dan introspeksi diri untuk kemaslahatan bersama.

Nabi Ibrahim, Qurban Teragung

Dalam Al-Qur’an disebutkan Nabi Ibrahim berkurban dengan menyembelih putranya, Isma’il. Kurban dengan menyembelih seorang putra ini tentu termasuk kurban yang paling agung, atau puncak pengorbanan serta puncak kepatuhan seorang hamba pada Tuhannya. Sebab Nabi Ibrahim diuji oleh Allah belum memiliki keturunan hingga usia lanjut.

Di saat Nabi Ibrahim yang sudah tua dan belum memiliki keturunan, kemudian beliau dianugerahi putra oleh Allah, ini berarti bahwa sang putera merupakan harta yang tiada tara. Meski demikian, ketika mendapatkan wahyu melalui mimpi untuk menyembelih puteranya, Nabi Ibrhim tetap melaksanakan perintah Allah dengan tanpa sedikitpun keraguan, tanpa menawar, tanpa ta’wil dan tanpa meminta diganti perintah yang lain.

Tidak hanya itu, bahkan putra Ibrahim, Isma’il, lebih hebat lagi, dengan tanpa sedikitpun keraguan, Isma’il kecil ini malah meminta agar ayahnya segera menyembelihnya demi melaksanakan perintah Allah. 

Singkat cerita, berkah keikhlasan dan kesabaran Nabi Ibrahim dan putranya Nabi Isma’il kecil ini, Allah kemudian mengganti Isma’il dengan kambing besar dari surga, yaitu kambing yang dibuat kurban (shadaqah) oleh Habil putra Nabi Adam.
(masyaallah tabarakallah/nas/humas/jurnalis/kisunda-10/rw-10/almuhajirin-10/blogspot/dari berbagai sumber)

Minggu, 26 April 2026

DKM Al-Muhajirin Terima Titipan Hewan Kurban: "Apa Keutamaannya?"





Apa yang menjadi keutamaan berkurban?

Dari Aisyah ra, Nabi saw bersabda, “Tidak ada suatu amalan pun yang dilakukan oleh manusia pada hari raya Kurban yang lebih dicintai Allah SWT dari menyembelih hewan Kurban.

Sesungguhnya hewan Kurban itu kelak pada hari kiamat akan datang beserta tanduk-tanduknya, bulu-bulunya dan kuku-kukunya. Dan sesungguhnya sebelum darah Kurban itu menyentuh tanah, ia (pahalanya) telah diterima di sisi Allah, maka beruntunglah kalian semua dengan (pahala) Kurban itu.” (HR Tirmidzi).

Hukum Berkurban

Ibadah kurban hukumnya sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan). Bagi orang yang mampu melakukannya lalu ia meninggalkan hal itu, maka ia dihukumi makruh. 

Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim bahwa Nabi saw pernah berkurban dengan dua kambing kibasy yang sama-sama berwarna putih kehitam-hitaman dan bertanduk. Beliau sendiri yang menyembelih kurban tersebut, dan membacakan nama Allah serta bertakbir (waktu memotongnya).

Dari Ummu Salamah ra, Nabi saw bersabda, “Dan jika kalian telah melihat hilal (tanggal) masuknya bulan Dzul Hijjah, dan salah seorang di antara kamu ingin berkurban, maka hendaklah ia membiarkan rambut dan kukunya.” HR Muslim

Alhamdulillah kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa ta’ala, diiringi sholawat dan salam semoga tercurah kepada nabi Muhammmad shollallahu ‘alaihi wasallam, menjelang Idul Adha 1447 H, Tahun 2026, DKM Al-Muhajirin kembali menerima titipan hewan qurban, sebagai berikut:

Qurban Sapi 
(Panitia hanya menyediakan dan menerima titipan hewan qurban Sapi).
Biaya Pengadaan & Pengelolaan :
Rp 3.850.000 / Mudhohi
(Tiga Juta Delapan Ratus Lima Puluh Ribu Rupiah)

Biaya Pengelolaan :
Rp 2.000.000* / Sapi

Bagi Yang Membawa Sapi Sendiri.
Batas waktu pendaftaran qurban sapi tanggal 25 Mei 2026.
Melalui Bpk. Whilly Fauzi HP/WA No. 0858 7156 5083.

Qurban Domba / Kambing 
(Panitia hanya menerima titipan saja).
Biaya Pengelolaan :
Rp 200.000 / Ekor
(Dua Ratus Ribu Rupiah).

Pendaftaran:

Pendaftaran tanggal 26 Mei 2026 (H-1) jam 07.00 – 20.00 WIB
Melalui Bpk. Mukhlis Effendi HP/WA No. 0811 2470 38.
Pendaftaran & Pembayaran Dapat dilakukan melalui :

1. Sekretariat
Masjid Al-Muhajirin Jl. Jayapura No.2
Antapani Kidul.

2. Transfer Bank
Bank Syariah Indonesia (BSI)
No. Rekening: 7780060047
a.n Masjid Al-Muhajirin.

Konfirmasi / kirim bukti transfer ke:
Nomor Admin Pendaftaran Sapi & Domba/Kambing.

Demikian disampaikan.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
(nas/komdigi/dkm-almuhajirin-10/ankid-10/2026)


Selasa, 21 April 2026

Keutamaan dan Lima Amalan Penting Bulan Zulkaidah



Kalender Hijriah memiliki dua belas bulan yang masing-masing menyimpan makna dan keutamaan tersendiri bagi umat Islam. Salah satu bulan yang memiliki kedudukan istimewa adalah Zulkaidah, bulan ke-11 yang hadir setelah perayaan Idulfitri di bulan Syawal.

Zulkaidah termasuk dalam golongan bulan haram yang dimuliakan dalam ajaran Islam. Keistimewaan ini menjadikannya bukan sekadar bulan biasa, tetapi bulan yang penuh dengan nilai spiritual dan tanggung jawab bagi umat Islam.

Bulan ini juga dikenal sebagai bulan tenang sebelum musim haji yang berlangsung di bulan Zulhijah. Bagi para calon jamaah haji, bulan ini menjadi waktu persiapan fisik dan mental sebelum menunaikan rukun Islam kelima tersebut.

Kesadaran akan kehadiran bulan Zulkaidah seharusnya mendorong umat Islam untuk terus meningkatkan kualitas ibadah pasca-Ramadan dan Syawal. Momen ini menjadi jembatan menuju bulan Zulhijah yang sarat dengan ibadah seperti haji dan Iduladha.

Lantas, apa itu bulan Zulkaidah? Yuk simak penjelasannya berikut ini yang dikutip dari laman Baznas:

Apa Itu Bulan Zulkaidah?

Bulan Zulkaidah adalah bulan ke-11 dalam kalender Hijriah yang datang tepat setelah bulan Syawal. Kehadirannya menandai babak baru perjalanan spiritual umat Islam setelah merayakan kemenangan Idulfitri.

Nama Zulkaidah berasal dari kata qa'ada yang berarti duduk atau beristirahat. Penamaan ini merujuk pada tradisi masyarakat Arab di masa lampau yang memilih untuk tidak berperang dan hidup lebih tenang di bulan ini.

Bulan ini termasuk dalam kelompok asyhurul hurum atau bulan-bulan haram bersama Zulhijah, Muharam, dan Rajab, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an surah At-Taubah ayat 36. Penetapan keempat bulan ini sebagai bulan haram menunjukkan betapa Islam sangat menghargai waktu-waktu tertentu sebagai momen untuk memperkuat ketakwaan.

Dalam bulan haram seperti Zulkaidah, umat Islam secara khusus diingatkan untuk lebih berhati-hati dalam menjaga perilaku dan memperbanyak amal kebaikan. Perbuatan dosa di bulan-bulan haram diyakini membawa dampak yang lebih besar dibandingkan bulan-bulan biasa, sehingga setiap umat Islam dianjurkan untuk lebih waspada.

Keutamaan Bulan Zulkaidah

Bulan Zulkaidah bukan sekadar bulan biasa dalam kalender Hijriah. Bulan ini menyimpan sejumlah keutamaan yang bersumber dari Al-Qur'an, hadis, dan riwayat para ulama yang patut diketahui oleh setiap umat Islam. Berikut beberapa keutamaannya dikutip dari laman muslimah.or.id:
Termasuk Bulan Haram yang Dimuliakan Allah

Keutamaan pertama dan paling utama dari bulan Zulkaidah adalah kedudukannya sebagai salah satu dari empat bulan haram. Ibnu Abbas sebagaimana dikutip dalam Lathaiful Ma'arif menyebutkan bahwa Allah mengistimewakan empat bulan tersebut, yaitu Zulkaidah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab, dengan meninggikan kehormatannya.

Dosa yang dilakukan pada keempat bulan itu lebih besar dibandingkan bulan lainnya, begitu pula amal saleh yang dikerjakan di dalamnya memiliki pahala yang lebih besar.

Termasuk Bulan-Bulan Haji

Keutamaan kedua, bulan Zulkaidah termasuk dalam bulan-bulan haji yang disebutkan dalam Al-Qur'an. Allah SWT berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 197:

اَلْحَجُّ اَشْهُرٌ مَّعْلُوْمٰتٌ

"Haji adalah pada bulan-bulan yang telah diketahui."

Hal ini menegaskan bahwa Zulkaidah memiliki keterkaitan erat dengan salah satu rukun Islam yang paling agung.

Bulan Umrah Para Nabi

Keutamaan ketiga, bulan Zulkaidah adalah bulan ketika Rasulullah SAW menunaikan seluruh ibadah umrah beliau semasa hidupnya, selain umrah yang digabungkan dengan ibadah haji. Rasulullah SAW melaksanakan umrah sebanyak empat kali semasa hidup beliau, yakni umrah Hudaibiyah, umrah qadha, umrah Ji'ranah, dan umrah yang dilaksanakan saat haji wada'.

Terkait perbandingan keutamaan umrah, sebagian ulama salaf seperti Ibnu Umar, Aisyah, dan Atha berpendapat bahwa umrah di bulan Zulkaidah lebih utama karena mengikuti sunah Rasulullah SAW. 

Namun pendapat yang lebih kuat menyatakan bahwa umrah di bulan Ramadan tetap lebih utama, berdasarkan sabda Rasulullah SAW:

عُمْرَةٌ فِي رَمَضَانَ تَعْدِلُ حَجَّةً

"Umrah di bulan Ramadan sama pahalanya dengan haji."

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, dan menjadi dasar pendapat yang paling kuat di kalangan para ulama.

Bulan Janji Allah kepada Nabi Musa

Keutamaan keempat, bulan Zulkaidah merupakan tiga puluh hari yang dijanjikan Allah SWT kepada Nabi Musa AS, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an surah Al-A'raf ayat 142:

وَوَاعَدْنَا مُوسَىٰ ثَلَاثِينَ لَيْلَةً وَأَتْمَمْنَاهَا بِعَشْرٍ فَتَمَّ مِيقَاتُ رَبِّهِۦٓ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

"Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam."

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa tiga puluh malam tersebut adalah bulan Zulkaidah, yang kemudian disempurnakan dengan sepuluh hari pertama bulan Zulhijah.

Lima  Amalan Penting Bulan Zulkaidah:

1. Memperbanyak zikir.

 Imam Ibnu Athaillah dalam kitab Al-Hikam menekankan pentingnya zikir sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Beliau berkata, “Tidak ada yang lebih bermanfaat bagi hati selain zikir kepada Allah.” 

Di bulan Zulkaidah, perbanyaklah zikir, baik itu zikir pagi dan petang, atau zikir setelah salat. Zikir menghubungkan hati kita dengan Allah dan memberikan ketenangan serta kedamaian batin. Baca juga: Hukum Menganiaya Diri Sendiri Dalam Islam, Simak Jangan Sampai Keliru! 

2. Melakukan Puasa Sunah 

Puasa sunah, terutama pada hari-hari yang dianjurkan dalam bulan Zulkaidah, memiliki keutamaan yang besar. Imam Ibnu Athaillah menyebutkan bahwa puasa adalah salah satu cara untuk mengendalikan hawa nafsu dan mendekatkan diri kepada Allah. Meskipun tidak ada puasa sunah khusus di bulan Zulkaidah, kita tetap dianjurkan untuk memperbanyak puasa sunah seperti puasa Senin dan Kamis. 

3. Menghidupkan Malam dengan Salat Tahajud 

Imam Ibnu Athaillah As Sakandari dalam Al-Hikam menekankan pentingnya salat malam sebagai bentuk ibadah yang mendekatkan hamba kepada Tuhannya. Beliau berkata, “Jika engkau ingin mengetahui kedudukanmu di sisi Allah, lihatlah di mana Allah menempatkanmu.” Salat tahajud adalah salah satu amalan yang sangat dianjurkan di bulan Zulkaidah untuk meraih rahmat dan ampunan dari Allah. 

4. Bersedekah dan Berinfak 

Amalan bersedekah dan berinfak memiliki nilai yang sangat tinggi dalam Islam. Dalam Al-Hikam, Ibnu Athaillah menekankan pentingnya sikap dermawan dan berbagi kepada sesama. Di bulan Zulkaidah, perbanyaklah bersedekah dan membantu mereka yang membutuhkan, karena setiap sedekah yang diberikan dengan ikhlas akan mendapatkan balasan yang berlipat ganda dari Allah Swt. 

5. Memperdalam Ilmu Agama 

Imam Ibnu Athaillah selalu mendorong umat muslim untuk menuntut ilmu, karena ilmu adalah cahaya yang menerangi jalan kehidupan. Bulan Zulkaidah adalah waktu yang tepat untuk memperdalam ilmu agama, baik melalui membaca kitab-kitab ulama, mengikuti majelis taklim, atau mendengarkan ceramah-ceramah keagamaan. 

Dengan memperdalam ilmu, kita akan semakin memahami ajaran Islam dan mengamalkannya dengan benar. Demikian nasihat dari Imam Ibnu Athaillah As Sakandari dalam kitab Al-Hikam menjadi panduan yang berharga dalam menjalani kehidupan yang lebih dekat dengan Allah.
Masyaallah Tabarakallah...

17 Goweser Waspada Kesehatan Pasca Idul Qurban

(berpose di Depan Kantor Dinas Teritorial Bandara Husen Sastranegara) (Rest Pertama di Gedung Sebelah Hotel Homan) Tujuh belas goweser RW-10...