Makna hakiki qurban bukan sekadar menyembelih hewan, melainkan wujud ketaatan mutlak kepada Allah, ketulusan, serta penyembelihan sifat-sifat kebinatangan (egois, serakah, sombong) dalam diri manusia. Ibadah ini juga bermakna sosial untuk berbagi, menanamkan kepedulian, dan menghidupkan persaudaraan.
Bukan daging dan darahnya
Qurban berakar dari kata qaruba, yang berarti pendekatan diri kepada Allah SWT demi mendapat ridha-Nya. Menurut Imam Al-Ghazali, qurban adalah simbol mematikan sifat kebinatangan dalam diri manusia, seperti nafsu amarah, keserakahan, dan egoisme. Meneladani ketaatan Nabi Ibrahim AS yang rela mengorbankan putranya, Ismail AS, atas perintah Allah.
Yang dinilai Allah bukanlah daging atau darah hewan kurban, melainkan ketakwaan dan ketulusan hati pelakunya. Qurban berfungsi meringankan beban kaum fakir miskin dan mempererat tali persaudaraan (ukhuwah).
Singkatnya, qurban adalah pengorbanan harta dan jiwa untuk mencapai derajat ketaqwaan tertinggi serta menebar kebaikan kepada sesama manusia.
Adapun tujuan disyariatkannya kurban adalah untuk meraih derajat ketaqwaan, sementara menyembelih hewan hanyalah sarana (wasilah) untuk mendekatkan diri (qurban-taqarrub) kepada Allah Swt.
Adapun tujuan disyariatkannya kurban adalah untuk meraih derajat ketaqwaan, sementara menyembelih hewan hanyalah sarana (wasilah) untuk mendekatkan diri (qurban-taqarrub) kepada Allah Swt.
Mengikis nafsu hewani
Menurut Imam al-Ghazali dalam Kitab Ihya’ Ulumuddin, kurban merupakan simbol dari penghilangan sifat dan nafsu hewani yang ada dalam jiwa manusia yang menjadi penghalang (hijab) manusia untuk dekat kepada Allah.
Jadi hakikat berkorban sejatinya sama dengan hakikat berjuang. Mereka yang memiliki naluri dan mental berjuang sudah barang tentu tidak akan berhenti berjuang sebelum tujuannya tergapai.
Menurut Imam al-Ghazali dalam Kitab Ihya’ Ulumuddin, kurban merupakan simbol dari penghilangan sifat dan nafsu hewani yang ada dalam jiwa manusia yang menjadi penghalang (hijab) manusia untuk dekat kepada Allah.
Jadi hakikat berkorban sejatinya sama dengan hakikat berjuang. Mereka yang memiliki naluri dan mental berjuang sudah barang tentu tidak akan berhenti berjuang sebelum tujuannya tergapai.
Dahulu saat bertempur melawan penjajah, slogan para pejuang adalah merdeka atau mati, begitu juga dengan orang yang ber-kurban, karena berjuang atau kurban merupakan panggilan hati yang terdalam, sehingga tidak layak jika dilakukan hanya setengah hati, atau dengan tujuan agar memperoleh pujian dan balasan dari orang lain. Karena yang dinilai dalam kurban tidak lain kecuali adalah ketulusan dan keikhlasan. Karena Allah tidak butuh daging atau darahnya.
Mempertajam kepekaan
Mempertajam kepekaan
Jika spirit kurban menghilangkan sifat kikir dan memperlihatkan kemahabesaran kasih sayang (rahmat) Allah pada seluruh hamba-Nya, maka sejatinya kurban juga mengajarkan manusia untuk mempertajam kepekaan dan tanggungjawab sosial (social responsibility).
Dengan berqurban, diharapkan timbul rasa kebersamaan dalam masyarakat sehingga bisa menggalang solidaritas, kesetiakawanan sosial dan introspeksi diri untuk kemaslahatan bersama.
Nabi Ibrahim, Qurban Teragung
Nabi Ibrahim, Qurban Teragung
Dalam Al-Qur’an disebutkan Nabi Ibrahim berkurban dengan menyembelih putranya, Isma’il. Kurban dengan menyembelih seorang putra ini tentu termasuk kurban yang paling agung, atau puncak pengorbanan serta puncak kepatuhan seorang hamba pada Tuhannya. Sebab Nabi Ibrahim diuji oleh Allah belum memiliki keturunan hingga usia lanjut.
Di saat Nabi Ibrahim yang sudah tua dan belum memiliki keturunan, kemudian beliau dianugerahi putra oleh Allah, ini berarti bahwa sang putera merupakan harta yang tiada tara. Meski demikian, ketika mendapatkan wahyu melalui mimpi untuk menyembelih puteranya, Nabi Ibrhim tetap melaksanakan perintah Allah dengan tanpa sedikitpun keraguan, tanpa menawar, tanpa ta’wil dan tanpa meminta diganti perintah yang lain.
Tidak hanya itu, bahkan putra Ibrahim, Isma’il, lebih hebat lagi, dengan tanpa sedikitpun keraguan, Isma’il kecil ini malah meminta agar ayahnya segera menyembelihnya demi melaksanakan perintah Allah.
Singkat cerita, berkah keikhlasan dan kesabaran Nabi Ibrahim dan putranya Nabi Isma’il kecil ini, Allah kemudian mengganti Isma’il dengan kambing besar dari surga, yaitu kambing yang dibuat kurban (shadaqah) oleh Habil putra Nabi Adam.
(masyaallah tabarakallah/nas/humas/jurnalis/kisunda-10/rw-10/almuhajirin-10/blogspot/dari berbagai sumber)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.