Miskin harta itu tidak dikenal dalam kehidupan orang yang beriman kepada Allah dengan sepenuhnya. Setiap orang yang memiliki keyakinan dan keimanan penuh kepada Allah, serta giat beribadah dan berdoa kepada-Nya, maka ia akan merasa kaya dalam naungan Yang Maha Kaya.
Karena yang dinamakan kaya itu adalah ‘kaya hati’, yaitu seseorang yang hatinya merasa kaya hingga tidak terikat dengan gegap gempita kehidupan dunia, khususunya pada urusan pengumpulan dan penumpukan harta.
Jadi ada orang yang memiliki hati kaya, maka itulah hakikat kekayaan sesungguhnya yang harus dimiliki setiap orang, sekalipun dirinya tidak memiliki harta kekayaan.
Berbeda dengan orang yang memiliki sifat rakus harta, yaitu orang yang tidak pernah merasa puas dengan pembagian rezeki halal dari Allah, hingga berani mengambil langkah durhaka seperti menghalalkan segala cara untuk menumpuk kekayaan, tanpa mengenal dari sumber halal atau haram, maka semuanya diterjang, yang penting dapat uang, demi memenuhi hasrat pribadinya.
Sy. Abu Hurairah RA berkata bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Allah SWT berfirman, ‘Wahai anak Adam, luangkanlah waktumu untuk beribadah kepada-ku, niscaya Aku penuhi hatimu dengan kecukupan, dan Aku tutupi kemiskinanmu. Jika kamu tidak melakukannya, maka Aku penuhi hatimu dengan kesibukan, dan Aku tidak akan menutupi kemiskinanmu.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Sy. Abu Humaid As-Sa’idi RA mengabarkan, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Berlaku baiklah kalian dalam menuntut dunia, karena setiap orang telah dimudahkan untuk apa dia diciptakan di dunia ini.” (HR. Ibnu Majah).
Rezeki yang halal itu sudah diatur pembagiannya oleh Allah setiap hari, dan selalu diberikan kepada semua orang yang telah berikhtiar mencarinya secara wajar, dan masing-masing orang akan mendapatkan sesuai jatah yang telah ditentukan oleh Allah.
Sedangkan bagi orang yang mengambil jalan pintas untuk meraih kekayaan namun dengan cara yang tidak halal, maka harta yang didaptkan secara curang itu hakikatnya adalah ujian dari Allah dan akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat.
Sy. Abu Hurairah RA berkata, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memberikan kepada hamba-Nya apa yang sudah ditetapkan bagian rezeki untuk dirinya. Karena itu, berlaku baiklah kalian dalam mencari rezeki. Ambillah apa yang halal dan tinggalkanlah yang haram.” (HR. Abu Ya’la).
Rezeki halal bagi setiap orang itu tidak akan pergi jauh dari dirinya, dan demikianlah yang riil terjadi dalam kehidupan masyarakat, maka tak akan lari rezeki dikejar, sebaliknya mengejar rezeki itu belum tentu didapat.
Sy. Abu Darda’ RA mengabarkan, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya rezeki itulah yang mengejar manusia, sebagaimana kematian mengejarnya.” (HR. Ibnu Hibban dan Bazaar).
Sy. Abu Sa’id Al-Khudri RA memberitahukan, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Apabila seseorang di antara kamu lari dari rezekinya, tentu rezeki itu akan mengejarnya seperti maut mengejar dirinya.” (HR. Ath-Thabrani).
(Ust. Luthfi Bashori)
Masjid Al-Muhajirin RW-10 Kelurahan Antapani Kidul, Kecamatan Antapani, Kota Bandung, mengemban amanah menjalin Ukhuwah Islamiah, Menempa Aqidah, Keimanan dan Ketaqwaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Program dan Jadwal Ceramah Masjid Al-Muhajirin
Ketua DKM Al_Muhajirin saat Menyampaikan Program di Hari Pertama Tarawih (19/2) Hari ini, Kamis 19 Februari 2026, adalah hari pertama uma...
-
Ketua DKM Al_Muhajirin saat Menyampaikan Program di Hari Pertama Tarawih (19/2) Hari ini, Kamis 19 Februari 2026, adalah hari pertama uma...
-
Kedudukan orang yang sudah diyakini masuk syurga, kemudian ditambahkan umurnya untuk mendapatkan keberkahan ramadhan maka derajat surganya b...
-
Pengantar Redaksi: Spirit Ramadhan adalah momentum peningkatan kualitas diri, ketakwaan, dan disiplin sosial melalui puasa guna melatih keju...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.