Catatan: Khotib Jum'at tanggal 29 Januari 2021 di Masjid Al-Muhajirin, RW-10, Antapani Kidul, menampilkan Ust. Dr. H. Haris Muslim, Lc. MA. Adapun tema yang disampaikan terkait dengan Perniagaan dalam Islam. Mari kita simak, apa yang dimaksud dengan Perniagaan dalam Islam yang menyelamatkan itu?
Masjid Al-Muhajirin RW-10 Kelurahan Antapani Kidul, Kecamatan Antapani, Kota Bandung, mengemban amanah menjalin Ukhuwah Islamiah, Menempa Aqidah, Keimanan dan Ketaqwaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala
Sabtu, 30 Januari 2021
Jumat, 22 Januari 2021
Protokol Ilahiyah di tengah wabah
Pengantar: Khatib dan Imam, Shalat Jum'at di Masjid Al-Muhajirin RW-10, Antapani Kidul, tanggal 22 Januari 2021 menghadirkan alumnus dari Al-Azhar Mesir, Ust. Deni Albar, Lc. Adapun tema yang dibawakan seputar dzikir di masa Pandemi Covid-19. Selain hadir di Website ini juga hadir di Youtube. Selamat menyimak...
Al-Imam al-Hasan al-Bashri—seorang ‘alim shaleh ternama dari generasi tabi’în yang dijuluki sayyidut tâbi’în (tuannya para tabi’in) berasal dari negeri Bashrah, Irak, dan wafat pada tahun 110 H / 728 M-- pernah bertutur:
“Sungguh heran apabila ada orang yang sedang ditimpa musibah dan kesulitan, kemudian lalai tidak membaca lima bacaan dzikir berikut ini. Padahal ia telah mengetahui janji Allah (dalam ayat-ayat tersebut) yang akan diberikan sebagai balasan bagi yang membacanya.
Pertama, dzikir yang ada pada ayat di bawah ini (innâ lillâhi wa innâ ilaihi rôji’ûn):
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (155) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (156) أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ (157)
Artinya: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun". Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. Al-Baqarah [2]: 155-157).
Kedua, dzikir yang ada pada firman Allah di bawah ini (hasbunallôh wa ni’mal wakil):
الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ (173) فَانْقَلَبُوا بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ لَمْ يَمْسَسْهُمْ سُوءٌ وَاتَّبَعُوا رِضْوَانَ اللَّهِ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَظِيمٍ (174)
Artinya: “(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka", maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung". Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar” (QS. Ali Imran [3]: 173, 174).
Ketiga, dzikir yang ada pada ayat di bawah ini (wa ufawwidlu amrî ilallôh, innallôha bashîrum bil ‘ibâd):
فَسَتَذْكُرُونَ مَا أَقُولُ لَكُمْ وَأُفَوِّضُ أَمْرِي إِلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ (44) فَوَقَاهُ اللَّهُ سَيِّئَاتِ مَا مَكَرُوا وَحَاقَ بِآلِ فِرْعَوْنَ سُوءُ الْعَذَابِ (45)
Artinya: “Kelak kamu akan ingat kepada apa yang kukatakan kepada kamu. Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya". Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan Fir'aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk” (QS. Al-Mu’min [40]: 44, 45).
Keempat, dzikir yang ada pada firmanNya di bawah ini (lâ ilâha illâ anta subhânaka innî kuntu minazh zhôlimîn):
وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ (87) فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ (88)
Artinya: “Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: "Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim." Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman” (QS. Al-Anbiyâ` [21]: 87, 88).
Kelima, dzikir yang ada dalam firman Allah di bawah ini (robbanaghfir lanâ dzunûbanâ, wa isrôfanâ fî amrinâ, wa tsabbit aqdâmanâ, wangshurnâ ‘alal qaumil kâfirîn):
وَمَا كَانَ قَوْلَهُمْ إِلَّا أَنْ قَالُوا رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ (147) فَآتَاهُمُ اللَّهُ ثَوَابَ الدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ الْآخِرَةِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (148)
Artinya: “Tidak ada doa mereka selain ucapan: "Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir". Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan” (QS. Ali Imran [3]: 147, 148)”.
Imam Hasan al-Bashri kemudian kembali berkata: “Siapa yang ketika ditimpa kesulitan dan kesusahan membaca ayat-ayat di atas, maka Allah akan memberikan jalan keluar dan kemudahan dari kesulitan dan kesusahan yang sedang dihadapinya itu. Hal ini karena Allah telah berjanji (dalam firmanNya di atas) dan telah menetapkan hukum (akan diberikan jalan keluar dan kemudahan) bagi yang membacanya. Hukum Allah itu tidak mungkin akan dibatalkan, dan janjiNya tidak mungkin akan diingkari”.
(Diambil dari kitab: Al-Faraj Ba’da asy-Syiddah, karya Imam Abu Ali al-Muhsin bin Ali bin Muhammad at-Tanûkhi al-Bashry (w 384 H), 1/62-64).
Semoga kita semua termasuk orang-orang yang dapat membaca ayat-ayat di atas atau paling tidak dzikir-dzikir yang ada pada ayat-ayat di atas, khususnya ketika sedang ditimpa kesulitan dan kesusahan. Karena Allah telah menjanjikan orang yang membacanya dengan penuh keyakinan kepadaNya, akan diberikan balasan yang sangat istimewa dan luar biasa yang di antaranya diberikan jalan keluar dan kemudahan dari setiap kesulitan dan kesusahan yang dihadapinya.
Dalam dzikir pertama misalnya, Allah menjanjikan: “Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”
Dalam dzikir kedua, Allah berjanji: “Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar”.
Dalam dzikir ketiga, Allah memberikan balasan mulia: “Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan Fir'aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk”.
Dalam dzikir keempat, Allah memberikan balasan istimewa: “Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman”.
Demikian juga dengan dzikir kelima, Allah menjanjikan balasan sangat agung: “Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan”.
Bahkan yang lebih menarik, dalam ayat-ayat di atas, Allah menggunakan huruf ‘fa’ (fangqolabû, fawaqôhullôh, fastajabnâ, faâtâhumullâh) ketika menjelaskan balasan mulia yang akan diterima oleh mereka yang membaca dzikir-dzikir di atas.
Ini artinya bahwa jalan keluar dan kemudahan yang akan Allah berikan kepada mereka yang membaca ayat-ayat di atas (atau dzikir-dzikirnya) insya Allah dalam waktu sangat dekat dan cepat, tidak dalam waktu lama. Hal ini karena menurut para ulama, huruf ‘fa’ ini di antara fungsinya adalah littartîb watta’qîb.
Semoga saudara-saudari kita-- baik yang seagama maupun yang sesama manusia bahkan sesama makhluk Allah di manapun berada-- yang saat ini sedang ditimpa musibah berupa kesulitan, kesusahan, penyakit, termasuk corona dan lainnya, segera diberikan jalan keluar dan kemudahan dari semua kesulitannya itu, dan segera diangkat oleh Allah penyakitnya serta segera diberikan kesembuhan seperti sedia kala, dengan idzinNya, âmîn ya robbal ‘âlamîn.
Insya Allah membaca ayat-ayat di atas adalah di antara cara dan upaya semoga Allah segera mengangkat kesulitan, kesusahan dan penyakit yang sedang kita hadapi, sebagaimana disampaikan oleh al-Imam al-Hasan al-Bashri di atas, insya Allah dengan idzin Allah. Semoga.
Washollollôhu ‘alâ sayyidinâ wa maulana Muhammadin, wa ‘alâ âlihî wa shohbihî wa sallama ajma’în.
“Sungguh heran apabila ada orang yang sedang ditimpa musibah dan kesulitan, kemudian lalai tidak membaca lima bacaan dzikir berikut ini. Padahal ia telah mengetahui janji Allah (dalam ayat-ayat tersebut) yang akan diberikan sebagai balasan bagi yang membacanya.
Pertama, dzikir yang ada pada ayat di bawah ini (innâ lillâhi wa innâ ilaihi rôji’ûn):
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (155) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (156) أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ (157)
Artinya: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun". Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. Al-Baqarah [2]: 155-157).
Kedua, dzikir yang ada pada firman Allah di bawah ini (hasbunallôh wa ni’mal wakil):
الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ (173) فَانْقَلَبُوا بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ لَمْ يَمْسَسْهُمْ سُوءٌ وَاتَّبَعُوا رِضْوَانَ اللَّهِ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَظِيمٍ (174)
Artinya: “(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka", maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung". Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar” (QS. Ali Imran [3]: 173, 174).
Ketiga, dzikir yang ada pada ayat di bawah ini (wa ufawwidlu amrî ilallôh, innallôha bashîrum bil ‘ibâd):
فَسَتَذْكُرُونَ مَا أَقُولُ لَكُمْ وَأُفَوِّضُ أَمْرِي إِلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ (44) فَوَقَاهُ اللَّهُ سَيِّئَاتِ مَا مَكَرُوا وَحَاقَ بِآلِ فِرْعَوْنَ سُوءُ الْعَذَابِ (45)
Artinya: “Kelak kamu akan ingat kepada apa yang kukatakan kepada kamu. Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya". Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan Fir'aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk” (QS. Al-Mu’min [40]: 44, 45).
Keempat, dzikir yang ada pada firmanNya di bawah ini (lâ ilâha illâ anta subhânaka innî kuntu minazh zhôlimîn):
وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ (87) فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ (88)
Artinya: “Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: "Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim." Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman” (QS. Al-Anbiyâ` [21]: 87, 88).
Kelima, dzikir yang ada dalam firman Allah di bawah ini (robbanaghfir lanâ dzunûbanâ, wa isrôfanâ fî amrinâ, wa tsabbit aqdâmanâ, wangshurnâ ‘alal qaumil kâfirîn):
وَمَا كَانَ قَوْلَهُمْ إِلَّا أَنْ قَالُوا رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ (147) فَآتَاهُمُ اللَّهُ ثَوَابَ الدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ الْآخِرَةِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (148)
Artinya: “Tidak ada doa mereka selain ucapan: "Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir". Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan” (QS. Ali Imran [3]: 147, 148)”.
Imam Hasan al-Bashri kemudian kembali berkata: “Siapa yang ketika ditimpa kesulitan dan kesusahan membaca ayat-ayat di atas, maka Allah akan memberikan jalan keluar dan kemudahan dari kesulitan dan kesusahan yang sedang dihadapinya itu. Hal ini karena Allah telah berjanji (dalam firmanNya di atas) dan telah menetapkan hukum (akan diberikan jalan keluar dan kemudahan) bagi yang membacanya. Hukum Allah itu tidak mungkin akan dibatalkan, dan janjiNya tidak mungkin akan diingkari”.
(Diambil dari kitab: Al-Faraj Ba’da asy-Syiddah, karya Imam Abu Ali al-Muhsin bin Ali bin Muhammad at-Tanûkhi al-Bashry (w 384 H), 1/62-64).
Semoga kita semua termasuk orang-orang yang dapat membaca ayat-ayat di atas atau paling tidak dzikir-dzikir yang ada pada ayat-ayat di atas, khususnya ketika sedang ditimpa kesulitan dan kesusahan. Karena Allah telah menjanjikan orang yang membacanya dengan penuh keyakinan kepadaNya, akan diberikan balasan yang sangat istimewa dan luar biasa yang di antaranya diberikan jalan keluar dan kemudahan dari setiap kesulitan dan kesusahan yang dihadapinya.
Dalam dzikir pertama misalnya, Allah menjanjikan: “Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”
Dalam dzikir kedua, Allah berjanji: “Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar”.
Dalam dzikir ketiga, Allah memberikan balasan mulia: “Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan Fir'aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk”.
Dalam dzikir keempat, Allah memberikan balasan istimewa: “Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman”.
Demikian juga dengan dzikir kelima, Allah menjanjikan balasan sangat agung: “Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan”.
Bahkan yang lebih menarik, dalam ayat-ayat di atas, Allah menggunakan huruf ‘fa’ (fangqolabû, fawaqôhullôh, fastajabnâ, faâtâhumullâh) ketika menjelaskan balasan mulia yang akan diterima oleh mereka yang membaca dzikir-dzikir di atas.
Ini artinya bahwa jalan keluar dan kemudahan yang akan Allah berikan kepada mereka yang membaca ayat-ayat di atas (atau dzikir-dzikirnya) insya Allah dalam waktu sangat dekat dan cepat, tidak dalam waktu lama. Hal ini karena menurut para ulama, huruf ‘fa’ ini di antara fungsinya adalah littartîb watta’qîb.
Semoga saudara-saudari kita-- baik yang seagama maupun yang sesama manusia bahkan sesama makhluk Allah di manapun berada-- yang saat ini sedang ditimpa musibah berupa kesulitan, kesusahan, penyakit, termasuk corona dan lainnya, segera diberikan jalan keluar dan kemudahan dari semua kesulitannya itu, dan segera diangkat oleh Allah penyakitnya serta segera diberikan kesembuhan seperti sedia kala, dengan idzinNya, âmîn ya robbal ‘âlamîn.
Insya Allah membaca ayat-ayat di atas adalah di antara cara dan upaya semoga Allah segera mengangkat kesulitan, kesusahan dan penyakit yang sedang kita hadapi, sebagaimana disampaikan oleh al-Imam al-Hasan al-Bashri di atas, insya Allah dengan idzin Allah. Semoga.
Washollollôhu ‘alâ sayyidinâ wa maulana Muhammadin, wa ‘alâ âlihî wa shohbihî wa sallama ajma’în.
Sabtu, 16 Januari 2021
Bahaya zalim pada ulama
KEZALIMAN apa pun bentuknya sangat dibenci agama. Dalam hadits Qudsi, sampai-sampai Allah berfirman, “Wahai hambaku! Sesungguhnya aku mengharamkan kezaliman atas diriku. Dan aku haramkan bagi kalian berbuat zalim; maka jangan saling menzalimi!” (HR. Muslim)
Sesama Muslim pun, yang dalam hadits Nabi terhitung sebagai saudara, dilarang saling menzalimi. Salah satu indikator persaudaraan mereka adalah ketika tidak saling menzalimi. Menzalimi sesama saudara, berarti telah merusak ikatan persaudaraan.
Lalu bagaima jika kezaliman itu dilakukan kepada ulama yang notabene pewaris Nabi dan kekasih Allah Subhanahu wata’ala? Dalam hadits Qudsi yang lain Allah berfirman, “Barangsiapa yang memusuhi kekasihku, maka aku umumkan perang padanya,” (HR. Bukhari)
Menzalimi ulama efeknya jauh lebih besar daripada orang biasa. Perhatikan dalam sejarah, para penguasa dan penyokongnya yang menzalimi ulama akan bernasib tragis. Sebagaimana penguasa yang mengkriminalisasi Imam Ahmad bin Hanbal dalam kasus dogma al-Qur`an sebagai makhluk Allah.
Demikian pula orang yang membantu dalam praktik kezaliman, juga mendapat ancaman keras dari Allah Subhanahu wata’ala. Dalam hadits riwayat Ibnu Majah disebutkan:
منْ أَعَانَ عَلَى خُصُومَةٍ بِظُلْمٍ، أَوْ يُعِينُ عَلَى ظُلْمٍ؛ لَمْ يَزَلْ فِي سَخَطِ اللَّهِ حَتَّى يَنْزِعَ
“Barangsiapa yang menolong suatu permusuhan dengan kezaliman; atau menolong atas kezaliman; maka dia senantiasa dalam murka Allah, sampai Dia mencabutnya.”
Bukan main ancamannya. Orang yang sengaja melakukan kezaliman, atau membantu orang berbuat zalim, akan dimurkai oleh Allah Subhanahu wata’ala. Bahkan di akhir zaman, salah satu tanda-tanda kiamat –sebagaimana riwayat Imam Ahmad dan Thabrani—di antaranya “katsratu asy-Syurath” yang berarti banyaknya penolong atau pembela penguasa dalam kezaliman. Saat ini terbukti, banyaknya ulama yang dizalimi, dikriminalisasi adalah tanda akhir zaman.
Penting untuk diperhatikan, kezaliman kepada ulama bukan hanya sebatas bagi penguasa yang menyuruh. Siapapun dan sekecil apapun yang membantu berjalannya kezaliman kepada ulama, maka adalah bagian dari kezaliman.
Dalam kitab “Talbiis Ibliis” (120) disebutkan bahwa Malik bin Dinar berkata, “Cukuplah seorang disebut pengkhianat ketika dia menjadi orang kepercayaan orang-orang pengkhianat.” Jadi, jika dia bagian dari sistem kemudian membiarkan kezaliman terjadi, maka terhitung bagian darinya.
Suatu ketika, sipir penjara bertanya kepada Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah yang dipenjara karena fitnah kemakhlukan al-Qur`an, “Apakah aku termasuk penolong kezaliman?” “Tidak,” jawab Imam Ahmad, “bahkan kamu adalah bagian dari orang yang berbuat zalim. Penyokong kezaliman adalah orang yang membantumu dalam suatu perkara.” (Shaidu al-Khathir, 435)
Sejalan dengan Imam Ahmad, maka ulama sekaliber Ibnu Taimiyah dalam “al-Majmu’ al-Fataawaa” (VII/64) berujar, “Lebih dari satu ulama salaf yang berkata: penolong pelaku kezaliman adalah yang menolong dan membantunya walau sekadar menyiapkan tinta atau pena.”
Perkara kezaliman ini bukan masalah kecil, apalagi kalau dilakukan kepada ulama. Hati-hatilah bagi mereka yang suka menghina atau merendahkan ulama. Syeikh Ibnu Taimiyah mengungkap perkataan yang sudah popular, “Daging ulama itu adalah racun.” (al-Shaarim al-Masluul, 165). Maknanya, siapa pun yang mencela, menghina, memfitnah, menzalimi, bahkan mengkriminalisasi ulama, maka akan tertimpa keburukan.
Silakan diperiksa dalam sejarah. Penguasa yang memfitnah hingga mengkriminalisasikan Imam Ahmad bin Hanbal; bagaimana nasibnya setelah itu? Demikian juga Buya Hamka yang difinah dan dikriminalisasi oleh penguasa Orde Lama tanpa peradilan; bagaimana nasibnya kemudian?
Sesama Muslim pun, yang dalam hadits Nabi terhitung sebagai saudara, dilarang saling menzalimi. Salah satu indikator persaudaraan mereka adalah ketika tidak saling menzalimi. Menzalimi sesama saudara, berarti telah merusak ikatan persaudaraan.
Lalu bagaima jika kezaliman itu dilakukan kepada ulama yang notabene pewaris Nabi dan kekasih Allah Subhanahu wata’ala? Dalam hadits Qudsi yang lain Allah berfirman, “Barangsiapa yang memusuhi kekasihku, maka aku umumkan perang padanya,” (HR. Bukhari)
Menzalimi ulama efeknya jauh lebih besar daripada orang biasa. Perhatikan dalam sejarah, para penguasa dan penyokongnya yang menzalimi ulama akan bernasib tragis. Sebagaimana penguasa yang mengkriminalisasi Imam Ahmad bin Hanbal dalam kasus dogma al-Qur`an sebagai makhluk Allah.
Demikian pula orang yang membantu dalam praktik kezaliman, juga mendapat ancaman keras dari Allah Subhanahu wata’ala. Dalam hadits riwayat Ibnu Majah disebutkan:
منْ أَعَانَ عَلَى خُصُومَةٍ بِظُلْمٍ، أَوْ يُعِينُ عَلَى ظُلْمٍ؛ لَمْ يَزَلْ فِي سَخَطِ اللَّهِ حَتَّى يَنْزِعَ
“Barangsiapa yang menolong suatu permusuhan dengan kezaliman; atau menolong atas kezaliman; maka dia senantiasa dalam murka Allah, sampai Dia mencabutnya.”
Bukan main ancamannya. Orang yang sengaja melakukan kezaliman, atau membantu orang berbuat zalim, akan dimurkai oleh Allah Subhanahu wata’ala. Bahkan di akhir zaman, salah satu tanda-tanda kiamat –sebagaimana riwayat Imam Ahmad dan Thabrani—di antaranya “katsratu asy-Syurath” yang berarti banyaknya penolong atau pembela penguasa dalam kezaliman. Saat ini terbukti, banyaknya ulama yang dizalimi, dikriminalisasi adalah tanda akhir zaman.
Penting untuk diperhatikan, kezaliman kepada ulama bukan hanya sebatas bagi penguasa yang menyuruh. Siapapun dan sekecil apapun yang membantu berjalannya kezaliman kepada ulama, maka adalah bagian dari kezaliman.
Dalam kitab “Talbiis Ibliis” (120) disebutkan bahwa Malik bin Dinar berkata, “Cukuplah seorang disebut pengkhianat ketika dia menjadi orang kepercayaan orang-orang pengkhianat.” Jadi, jika dia bagian dari sistem kemudian membiarkan kezaliman terjadi, maka terhitung bagian darinya.
Suatu ketika, sipir penjara bertanya kepada Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah yang dipenjara karena fitnah kemakhlukan al-Qur`an, “Apakah aku termasuk penolong kezaliman?” “Tidak,” jawab Imam Ahmad, “bahkan kamu adalah bagian dari orang yang berbuat zalim. Penyokong kezaliman adalah orang yang membantumu dalam suatu perkara.” (Shaidu al-Khathir, 435)
Sejalan dengan Imam Ahmad, maka ulama sekaliber Ibnu Taimiyah dalam “al-Majmu’ al-Fataawaa” (VII/64) berujar, “Lebih dari satu ulama salaf yang berkata: penolong pelaku kezaliman adalah yang menolong dan membantunya walau sekadar menyiapkan tinta atau pena.”
Perkara kezaliman ini bukan masalah kecil, apalagi kalau dilakukan kepada ulama. Hati-hatilah bagi mereka yang suka menghina atau merendahkan ulama. Syeikh Ibnu Taimiyah mengungkap perkataan yang sudah popular, “Daging ulama itu adalah racun.” (al-Shaarim al-Masluul, 165). Maknanya, siapa pun yang mencela, menghina, memfitnah, menzalimi, bahkan mengkriminalisasi ulama, maka akan tertimpa keburukan.
Silakan diperiksa dalam sejarah. Penguasa yang memfitnah hingga mengkriminalisasikan Imam Ahmad bin Hanbal; bagaimana nasibnya setelah itu? Demikian juga Buya Hamka yang difinah dan dikriminalisasi oleh penguasa Orde Lama tanpa peradilan; bagaimana nasibnya kemudian?
Mari berevaluasi; sebelum penyesalan menghampirii. Bagi yang melihat adanya kezaliman –apapun itu—terutama kepada ulama, perlu ada upaya untuk meluruskannya. Jangan sampai, diamnya kita, membuat kita masuk kategori orang-orang yang menolong kezaliman. Na’udzubillah min dzaalik. (Mahmud Budi Setiawan//hidayatullah.com)
Langganan:
Postingan (Atom)
17 Goweser Waspada Kesehatan Pasca Idul Qurban
(berpose di Depan Kantor Dinas Teritorial Bandara Husen Sastranegara) (Rest Pertama di Gedung Sebelah Hotel Homan) Tujuh belas goweser RW-10...
-
*بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم* *السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ INFORMASI SALAT IDULADHA 1447...
-
Syeich DR. Baker Al Zamly Saat menyampaikan khotbah Jamaah Al-Muhajirin dan Sekitarnya mulai berdatangan السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ال...
-
Ketua DKM Al_Muhajirin saat Menyampaikan Program di Hari Pertama Tarawih (19/2) Hari ini, Kamis 19 Februari 2026, adalah hari pertama uma...

