Rabu, 10 Oktober 2018

Krisis Air Pelanggan PDAM Antapani Kidul

Bencana krisis air untuk pelanggan PDAM Tirtawening masih berpotensi melanda wilayah Kota Bandung. Pasalnya, cadangan air baku di Situ Cipanunjang dan Situ Cileunca kembali mengalami penurunan tinggi muka air.
Menurut Kasubid Humas PDAM Tirtawening, Kota Bandung, Muhammad Indra Pribadi, muka air Situ Cipanunjang sudah turun sebanyak 1.680 sentimeter dan Situ Cileunca sebanyak 483 sentimeter dari kondisi normal.

"Tinggi muka air Situ Cipanunjang pada saat normal adalah 144.650 sentimeter di atas permukaan laut, sedangkan tinggi muka air saat ini adalah 142.970 sentimeter di atas permukaan laut. Lalu, tinggi muka air Situ Cileunca pada saat normal adalah 141.850 sentimeter di atas permukaan laut, sedangkan, tinggi muka air saat ini 141.367 sentimeter di atas permukaan laut," ujarnya.

Situ Cipanunjang saat air melimpah

Lebih lanjut Indra menjelaskan, tinggi muka air di Situ Cipanunjang berkurang sekitar 18,46 sentimeter setiap hari. Sementara tinggi muka air Situ Cileunca berkurang 6,2 sentimeter setiap harinya.

"Kemungkinan jika dalam satu bulan ke depan Bandung Raya ini tidak diberikan hujan yang cukup, maka berpotensi PDAM akan kehilangan kapasitas produksi," ujar Indra.

Kapasitas produksi PDAM bisa berkurang sampai 60 persen dari total produksi kapasitas normal. Normalnya, kapasitas produksi air berada di kisaran 2.800 liter per detik."Tentunya iini akan sangat berdampak terhadap pelayanan PDAM Tirtawening Kota Bandung," kata Indra.

Krisis Air PDAM Antapani Kidul
Krisis air PDAM Kota Bandung itu, tentu saja berdampak langsung terhadap krisis air bagi pelanggan PDAM di Antapani Kidul. Di musim kemarau pada awal Oktober ini, debit air dari pompa yang berada di Jajaway rata-rata hanya 3 liter per detik untuk menyuplay pelanggan di RW 10 & RW 15 Antapani Kidul. Padahal dengan kapasitas seperti itu  idealnya hanya mampu untuk menyuplay 300 pelanggan perumahan.

Situ Cipanunjang saat ini

Sedangkan pelanggan yang dilayani saat ini sudah lebih dari 400 pelanggan, tak mengherankan kalau aliran air ke warga pun menjadi kecil  dan tidak tentu waktunya.

Kondisi yang memprihatinkan ini mengundang inisiatif warga RW 10 Antapanai Kidul untuk melakukan pertemuan dengan jajaran PDAM. Hasil pertemuan yang dimotori Ketua DKM Almuhajirin RW-10, Sigit Tjiptono, menghasilkan beberapa solusi, antara lain sebagai berikut:

1. Dengan menyerahkan permintaan tertulis mewakili 5 pelanggan PDAM Tirtawening untuk dikirim air via mobil tanki;

2. Memasang konektor (penyambung/pipa penampung air di 5 titik, yakni di Jl. Dili, Jl. Fak-Fak, Jl. Biak, Jl. Merauke dan Jl. Manokwari), yang akan diisi air via mobil tanki PDAM. Perkiraan terpasang diupayakan dalam bulan Oktober ini.

3. Pemasangan valve alat pembagi/buka tutup air di pipa utama di Jl. Pratista Raya untuk menggilir mengalirnya air ke RW 10 & RW 15 secara bergantian.

Adapun pembagian/penjatahan distribusi air antara RW 10 dengan RW 15 baru bisa dilakukan setelah dipasang valve yg diperkirakan terpasang dlm jangka waktu 1-2 bln (hal ini sudah ada programnya di RKA PDAM 2018).

4.  Pembuatan "mini treatment"/pengolahan air hujan/air sungai dll di lokasi pompa PDAM Jajaway di th 2019 (sdh ada di RKA PDAM 2019) dalam upaya utk menambah produksi air.

5. Usulan Penarikan jaringan baru di Pratista Barat 10 (saat ini blm ada jaringan di lokasi tsb).

6. Rencana PDAM mengajukan ijin ke Kemen ESDM utk mengeksplorasi sumber air sendiri (masih planning).

Demikian info progress terakhir sebagai  ikhtiar kita dalam rangka mengatasi terjadinya krisis air pelanggan PDAM Tirtawening, khususnya di RW 10 dan RW 15 Antapani Kidul. (sumber:tribunjabar & dkmalmuhajirin.com)

Jumat, 24 Agustus 2018

Ucapan Terima Kasih dan Serba Serbi Idul Kurban

Ucapan terima kasih disampaikan Ketua DKM Al-Muhajirin Antapani Kidul, Sigit Tjiptono yang ditujukan kepada seluruh panitia, yang terdiri dari Sekretaris, Bendahara, para Koorodinator, Anggota panitia dan Penasihat, yang telah mampu menyelesaikan seluruh rangkaian kegiatan Idul Adha 1439H. 

"Dengan ucapan rasa syukur ke hadirat Allah Shubhanahu Wata"ala, berkat taufik, rahmat, karunia dan hidayahnya sehingga pelaksanaannya dapat berjalan dengan baik, lancar, aman dan selamat, tanpa mengalami hambatan berarti," ucapnya. 


Sigit Tjiptono sudah tentu perlu menyampaikan ucapan terima kasih dan merasa sangat puas dengan kinerja seluruh panitia yang telah mencurahkan seluruh tenaga, pikiran dan kemampuannya, baik secara moril maupun materil. "Semoga Allah Shubhanahu Wata'ala membalasnya dengan yang lebih baik. Jazzakumullahu khairan katsiran," katanya.

Namun, dalam kapasitas sebagai Ketua DKM, Sigit pun memohon maaf apabila ada kekurangan2 yang terjadi. Dengan harapan semoga kedepan dapat terselenggara dengan lebih baik lagi.

Berikut beberapa foto2 rangkaian kegiatan Idul Kurban...



Jamaah Shalat Idul Adha 1439H merupakan warga RW-10,
Kelurahan Antapani Kidul dan Masyarakat Sekitarnya,
seperti jamaah dari warga Perumahan Pratista Antapani

Ketua DKM, Sigit Tjiptono, memberikan pengarahan kepada Panitia Inti
Idul Adha. Setiap Koordinator harus menyiapkan anggotanya untuk
siap berjibaku menyukseskan  pelaksanaan rangkaian
kegiatan Idul Adha

Pemotongan hewan kurban sapi disaksikan 7 mudhohi. Jika ada yang bersedia
memotong sendiri dipersilahkan, tapi jika tak ada, Panitia telah menyiapkan
Jagal yang telah terlatih menyembelih hewan 

Inilah sebagian Panitia Iinti Penyelenggaraan Kurban,
mulai dari penyembelihan, pemootongan, pencacah,
penimbang hingga pendistribusiannya ke warga
dan para mudhohi

Pak H Ruskalib mewakili Ketua RW-10 yang berhalangan hadir
memberikan sambutan kepada seluruh panitia, agar menggalang kerjasama
dengan sebaik-baiknya, "jalin komunikasi dan saling pengertian dan tetap
enjoy dalam bekerja dalam mengemban amanah yang sarat dengan
pahala ini," katanya

Jamaah Shalat Idul Adha dengan penuh khidmat
mendengarkan khotbah dari Imam/Khotib

Ketua DKM, Sigit Tjiptono, memberikan sambutan sesaat sebelum
Shalat Idul Adha dilaksanakan. "Alhamdulillah jumlah mudhohi
tahun iini mencapai 157 orang, dengan jumlah hewan Sapi 18 ekor
dan Kambing 31 ekor," katanya.


Ini dia sebagian para Srikandi, ibu2 warga RW-10 Antapani Kidul
yang telah bekerja tanpa lelah sejak pagi hingga sore menjelang malam.
Kerjasama yang mengedepankan soliditas dan solidaritas ini
merupakan kunci sukses rangkaian penyelenggaran dalam rangka
Idul Kurban 1439H Tahun 2018 ini.

Daftar 157 yang berkurban (mudhohi) yang sengaja
dipajang Panitia untuk memudahkan para Mudhohi mengetahui 
posisinya pada Group Penyembelihan 

Kamis, 23 Agustus 2018

Khutbah Idul Adha 1439-H di Al-Muhajirin Antapani

Catatan Redaksi: Pelaksanaan Shalat Idul Adha 1439-H berlangsung di Halaman Belakang Masjid Al-Muhajirin Antapani Kidul. Adapun yang bertindak sebagai Imam/Khatib Ustadz Lukman Nurhakim, Lc. Berikut materi khutbahnya.

Khutbah I

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَاإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ. الحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ الزّمَانِ وَفَضَّلَ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ فَخَصَّ بَعْضُ الشُّهُوْرِ وَالأَيَّامِ وَالَليَالِي بِمَزَايَا وَفَضَائِلِ يُعَظَّمُ فِيْهَا الأَجْرُ والحَسَنَاتُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى بِقَوْلِهِ وَفِعْلِهِ إِلَى الرَّشَادِ. اللّهُمَّ صَلّ وسّلِّمْ علَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمّدٍ وِعَلَى آلِه وأصْحَابِهِ هُدَاةِ الأَنَامِ في أَنْحَاءِ البِلاَدِ. أمَّا بعْدُ، فيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى بِفِعْلِ الطَّاعَاتِ
فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ. إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ.

Hari raya kurban atau biasa kita sebut Idul Adha yang kita peringati tiap tahun tak bisa terlepas dari kisah Nabi Ibrahim sebagaimana terekam dalam Surat ash-Shaffat ayat 99-111. Meskipun, praktik kurban sebenarnya sudah dilaksanakan putra Nabi Adam yakni Qabil dan Habil. Diceritakan bahwa kurban yang diterima adalah kurban Habil bukan Qabil. Itu pun bukan daging atau darah yang Allah terima namun ketulusan hati dan ketakwaan dari si pemberi kurban.

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ
Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. (Al-Hajj: 37)

Kendati sejarah kurban sudah berlangsung sejak generasi pertama umat manusia, namun syariat ibadah kurban dimulai dari cerita perintah Allah kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih anak kesayangannya, Ismail (‘alaihissalâm). Seorang anak yang ia idam-idamkan bertahun-tahun karena istrinya sekian lama mandul. Dalam Surat ash-Shaffat dijelaskan bahwa semula Nabi Ibrahim berdoa:

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ.
“Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.”

Allah lalu memberi kabar gembira dengan anugerah kelahiran seorang anak yang amat cerdas dan sabar (ghulâm halîm). Hanya saja, ketika anak itu menginjak dewasa, Nabi Ibrahim diuji dengan sebuah mimpi. Ia berkata, "Wahai anakku, dalam tidur aku bermimpi berupa wahyu dari Allah yang meminta aku untuk menyembelihmu. Bagaimana pendapat kamu?" Anak yang saleh itu menjawab, "Wahai bapakku, laksanakanlah perintah Tuhanmu. Insya Allah kamu akan dapati aku termasuk orang-orang yang sabar."

Tatkala sang bapak dan anak pasrah kepada ketentuan Allah, Ibrâhîm pun membawa anaknya ke suatu tumpukan pasir. Lalu Ibrâhîm membaringkan Ismail dengan posisi pelipis di atas tanah dan siap disembelih.

Jamaah shalat Idul Adha hadâkumullâh,

Atas kehendak Allah, drama penyembelihan anak manusia itu batal dilaksanakan. Allah berfirman dalam ayat berikutnya:

إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ. وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ. وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآَخِرِينَ. سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ. كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ. إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ
“Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) ‘Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim’. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.”

Hadirin,
Ibadah kurban tahunan yang umat Islam laksanakan adalah bentuk i’tibar atau pengambilan pelajaran dari kisah tersebut. Setidaknya ada tiga pesan yang bisa kita tarik dari kisah tentang Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail serta ritual penyembelihan hewan kurban secara umum.

Pertama, tentang totalitas kepatuhan kepada Allah subhânau wata’âla. Nabi Ibrahim yang mendapat julukan “khalilullah” (kekasih Allah) mendapat ujian berat pada saat rasa bahagianya meluap-luap dengan kehadiran sang buah hati di dalam rumah tangganya. Lewat perintah menyembelih Ismail, Allah seolah hendak mengingatkan Nabi Ibrahim bahwa anak hanyalah titipan. Anak—betapapun mahalnya kita menilai—tak boleh melengahkan kita bahwa hanya Allahlah tujuan akhir dari rasa cinta dan ketaatan.

Nabi Ibrahim lolos dari ujian ini. Ia membuktikan bahwa dirinya sanggup mengalahkan egonya untuk tujuan mempertahankan nilai-nilai Ilahi. Dengan penuh ketulusan, Nabi Ibrahim menapaki jalan pendekatan diri kepada Allah sebagaimana makna qurban, yakni pendekatan diri.

Sementara Nabi Ismail, meski usianya masih belia, mampu membuktikan diri sebagai anak berbakti dan patuh kepada perintah Tuhannya. Yang menarik, ayahnya menyampaikan perintah tersebut dengan memohon pendapatnya terlebih dahulu, dengan tutur kata yang halus, tanpa unsur paksaan. Atas dasar kesalehan dan kesabaran yang ia miliki, ia pun memenuhi panggilan Tuhannya.

Jamaah shalat Idul Adha hadâkumullâh,
Pelajaran kedua adalah tentang kemuliaan manusia. Dalam kisah itu di satu sisi kita diingatkan untuk jangan menganggap mahal sesuatu bila itu untuk mempertahankan nilai-nilai ketuhanan, namun di sisi lain kita juga diimbau untuk tidak meremehkan nyawa dan darah manusia. Penggantian Nabi Ismail dengan domba besar adalah pesan nyata bahwa pengorbanan dalam bentuk tubuh manusia—sebagaimana yang berlangsung dalam tradisi sejumlah kelompok pada zaman dulu—adalah hal yang diharamkan.

Manusia dengan manusia lain sesungguhnya adalah saudara. Mereka dilahirkan dari satu bapak, yakni Nabi Adam ‘alaihissalâm. Seluruh manusia ibarat satu tubuh yang diciptakan Allah dalam kemuliaan. Karena itu membunuh atau menyakiti satu manusia ibarat membunuh manusia atau menyakiti manusia secara keseluruhan. Larangan mengorbankan manusia sebetulnya penegasan kembali tentang luhurnya kemanusiaan di mata Islam dan karenanya mesti dijamin hak-haknya.

Pelajaran yang ketiga yang bisa kita ambil adalah tentang hakikat pengorbanan. Sedekah daging hewan kurban hanyalah simbol dari makna korban yang sejatinya sangat luas, meliputi pengorbanan dalam wujud harta benda, tenaga, pikiran, waktu, dan lain sebagainya.

Pengorbanan merupakan manifestasi dari kesadaran kita sebagai makhluk sosial. Bayangkan, bila masing-masing manusia sekadar memenuhi ego dan kebutuhan sendiri tanpa peduli dengan kebutuhan orang lain, alangkah kacaunya kehidupan ini. Orang mesti mengorbankan sedikit waktunya, misalnya, untuk mengantre dalam sebuah loket pejualan tiket, bersedia menghentikan sejenak kendaraannya saat lampu merah lalu lintas menyala, dan lain-lain. Sebab, keserakahan hanya layak dimiliki para binatang. Di sinilah perlunya kita “menyembelih” ego kebinatangan kita, untuk menggapai kedekatan (qurb) kepada Allah, karena esensi kurban adalah solidaritas sesama dan ketulusan murni untuk mengharap keridhaan Allah. Wallahu a’lam.

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Khutbah II

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ.
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ 

وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Sementara itu Ketua DKM Al-Muhajirin Antapani Kidul, Sigit Tjiptono, dalam sambutannya menyampaikan kepada jamaah shalat Idul Adha untuk senantiasa meningkaktkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Shubhanahu Wata'ala. "Saya tak bosan-bosannya mengimbau untuk jamaah laki-laki untuk senantiasa melaksanakan shalat wajib di Masjid Al-Muhajirin," imbaunya. 

Adapun hewan kurban tahun ini, kata Sigit, mencapai 18 ekor sapi dan 31 ekor kambing. Dilaporkan pula pendapatan dari infak Idul Fitri 1439H mencapai Rp 7,73 juta. Sementara hasil pengumpulan infak Jum'at tanggal 17 Agustus 2018 yang mencapai Rp 10.317.000,- yang keseluruhannya disumbangkan untuk Musibah Gempa Lombok dan telah diserahkan melalui HU Pikiran Rakyat Bandung.

Ketua DKM juga menyampaikan jadwal Pengajian Rutin, dengan harapan dapat diikuti dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh Warga RW 10 Antapani Kidul dan Masyarakat Sekitarnya. Adapun jadwalnya sebagai berikut:





17 Goweser Waspada Kesehatan Pasca Idul Qurban

(berpose di Depan Kantor Dinas Teritorial Bandara Husen Sastranegara) (Rest Pertama di Gedung Sebelah Hotel Homan) Tujuh belas goweser RW-10...