Masjid Al-Muhajirin RW-10 Kelurahan Antapani Kidul, Kecamatan Antapani, Kota Bandung, mengemban amanah menjalin Ukhuwah Islamiah, Menempa Aqidah, Keimanan dan Ketaqwaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala
Kamis, 15 Maret 2018
Pendaftaran dan penitipan hewan qurban 1439 H
Seperti dimaklumi bahwa Idul Adha tahun ini akan jatuh pada hari Rabu tanggal 22 Agustus 2018 atau sekitar lima bulan lagi.
Untuk menindaklanjuti saran dari para Mudlohi (yang berqurban), warga, dan jamaah, agar hewan qurban tahun ini lebih baik, maka kami telah membentuk tim kecil DKM Al-Muhajirin.
Tim kecil telah memesan sapi sejak awal Pebruari 2018, sehingga setiap Mudlohi kini hanya dikenakan biaya Rp 3 juta (tiga juta rupiah) sudah termasuk biaya pemeliharaan.
Mengingat pembayaran harga sapi ke petani (peternak) dilakukan secara bertahap bulanan mulai Pebruari sd Agustus 2018, maka kami sangat mengharapkan pendaftaran qurban sapi beserta pembayarannya dapat dilakukan mulai saat ini. Sedangkan untuk penitipan hewan kambing/domba dapat kami terima tanggal 21 Agustus mendatang.
Pendaftaran dapat langsung atau menghubungi via Whatsapp/Telpon ke:
1. Ibu Iis Saepudin, Jl Manokwari I/12, 0813.2108.0793
2. Bpk Isa Subarsa, Jl Dili No 19, 0813.9663.8128
3. Bpk Ki Agus Ali, Jl Atambua No 7, 085974475207
Pembayaran dapat dilakukan secara cash/tunai atau ditransfer ke Rekening Mandiri Syariah Cabang Antapani dengan Norek 711.2631.431 an Aris Darmawati.
Ketua DKM Al-Muhajirin, Sigit Tjiptono, sangat mengharapkan agar para calon Mudlohi dapat melakukan pembayaran secara penuh atau dicicil mulai saat ini, agar kami dapat memberikan deposit (DP), terutama biaya itu sangat mereka butuhkan untuk pemeliharaan ternaknya. "Mari kita buktikan ketaatan kita kepada Allah SWT melalui keikhlasan dan semangat tinggi untuk berqurban tahun ini," himbaunya. (nas).
Selasa, 13 Maret 2018
Kisah Salman Al Farisi dan Abu Darda
Sengaja, kata ‘mengharmoniskan’ di sini memakai tanda petik. Sebab, maksudnya bukan berarti rumah tangga sahabat tidak harmonis atau ada percekcokan/ perselisihan. Melainkan, kehidupan asmara di rumah tangga sahabat tersebut kurang ‘bergairah.’
Kisah ini bermula saat Salman Al Farisi berkunjung ke rumah Abu Darda’. Seperti diketahui, Salman Al Farisi dan Abu Darda’ dipersaudarakan oleh Rasulullah pada awal hijrah.
Telah beberapa lama Salman tidak mengunjungi saudaranya itu. Dan kali ini, saat ia berada di rumahnya, ia melihat Ummu Darda’ mengenakan pakaian yang lusuh. Penampilannya tidak sedap dipandang.
“Mengapa engkau tidak berhias?” tanya Salman yang merasa aneh dengan penampilan istri Abu Darda’ itu.
“Saudaramu, Abu Darda’, sudah tidak butuh pada dunia,” jawab Ummu Darda’.
Jawaban itu singkat, namun bagi seorang yang cerdas sekelas Salman yang terkenal dengan ide strategi Khandaq sewaktu Madinah diserang pasukan Ahzab, kalimat itu cukup bisa dimengerti.
Bahwa Abu Darda’ sangat serius beribadah. Bahwa Abu Darda’ menghabiskan waktunya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Hingga ia tak lagi mengurus penampilannya. Dan ia juga kurang memberikan perhatian dan memenuhi hak batin istrinya.
Beberapa saat kemudian, datang Abu Darda’. Dua sahabat yang luar biasa ini pun berjumpa. Sebagai bentuk penghormatan kepada tamu sebagaimana sabda Nabi “man kana yu’minu billahi wal yaumil akhiri falyukrim dhaifahu” (barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia menghormati tamunya), keluarga Abu Darda’ pun menghidangkan makanan untuk Salman.
“Makanlah wahai Salman. Maaf, aku sedang puasa,” kata Abu Darda’.
“Aku tidak akan makan jika engkau tidak makan,” jawab Salman, tegas.
Abu Darda’ pun luluh. Ia membatalkan puasa sunnahnya. Mereka pun makan berdua.
Malamnya, Salman menginap di rumah Abu Darda.
Ketika dilihatnya Abu Darda bangun hendak shalat malam, Salman menyuruhnya tidur lagi.
“Tidurlah dulu,” kata Salman. Saat malam mendekati akhir, barulah Salman memberitahukan Abu Darda’ untuk shalat malam.
Sebelum pulang, Salman berpesan kepada Abu Darda’:
“Sesungguhnya, bagi Rab-mu ada hak, dan atas badanmu ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak. Maka, tunaikanlah hak masing-masing.”
Ketika berita ini sampai kepada Rasulullah, beliau bersabda, “Salman benar.”
Demikianlah teladan mulia dari generasi paling mulia, generasi sahabat radhiyallahu ‘anhum. Mereka saling mengingatkan, agar hidup istiqamah di bawah naungan Al Qur’an dan Sunnah. Sekaligus hidup seimbang sesuai pedoman keduanya.
Jika dengan alasan ibadah saja kita tidak boleh melupakan hak-hak istri, bagaimana dengan orang-orang yang melupakan hak-hak istrinya karena alasan KERJA dan mengejar KARIR? Padahal ekonominya sudah mapan dan pekerjaan itu sejatinya bisa didelegasikan.
Bagaimana pula orang-orang yang sering tak bisa bertemu anaknya karena ‘GILA KERJA’ dan MENGEJAR JABATAN? Saat ia pulang anak-anaknya telah tidur dan saat ia berangkat anak-anaknya belum bangun.
Tidak sedikit keluarga yang mengalami masalah, sebenarnya bukan karena persoalan ekonomi. Melainkan karena kurangnya kebersamaan. Kurangnya waktu bertemu dan bermesraan. Kurangnya pehatian. Akhirnya sering terjadi miskomunikasi, sering terjadi kesalahpahaman. Hal kecil menjadi masalah besar.
Semoga kita dapat mengambil hikmahnya, barakallahu lana walakum
Billahi sabili al haq...(wag/fb)
Kisah ini bermula saat Salman Al Farisi berkunjung ke rumah Abu Darda’. Seperti diketahui, Salman Al Farisi dan Abu Darda’ dipersaudarakan oleh Rasulullah pada awal hijrah.
Telah beberapa lama Salman tidak mengunjungi saudaranya itu. Dan kali ini, saat ia berada di rumahnya, ia melihat Ummu Darda’ mengenakan pakaian yang lusuh. Penampilannya tidak sedap dipandang.
“Mengapa engkau tidak berhias?” tanya Salman yang merasa aneh dengan penampilan istri Abu Darda’ itu.
“Saudaramu, Abu Darda’, sudah tidak butuh pada dunia,” jawab Ummu Darda’.
Jawaban itu singkat, namun bagi seorang yang cerdas sekelas Salman yang terkenal dengan ide strategi Khandaq sewaktu Madinah diserang pasukan Ahzab, kalimat itu cukup bisa dimengerti.
Bahwa Abu Darda’ sangat serius beribadah. Bahwa Abu Darda’ menghabiskan waktunya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Hingga ia tak lagi mengurus penampilannya. Dan ia juga kurang memberikan perhatian dan memenuhi hak batin istrinya.
Beberapa saat kemudian, datang Abu Darda’. Dua sahabat yang luar biasa ini pun berjumpa. Sebagai bentuk penghormatan kepada tamu sebagaimana sabda Nabi “man kana yu’minu billahi wal yaumil akhiri falyukrim dhaifahu” (barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia menghormati tamunya), keluarga Abu Darda’ pun menghidangkan makanan untuk Salman.
“Makanlah wahai Salman. Maaf, aku sedang puasa,” kata Abu Darda’.
“Aku tidak akan makan jika engkau tidak makan,” jawab Salman, tegas.
Abu Darda’ pun luluh. Ia membatalkan puasa sunnahnya. Mereka pun makan berdua.
Malamnya, Salman menginap di rumah Abu Darda.
Ketika dilihatnya Abu Darda bangun hendak shalat malam, Salman menyuruhnya tidur lagi.
“Tidurlah dulu,” kata Salman. Saat malam mendekati akhir, barulah Salman memberitahukan Abu Darda’ untuk shalat malam.
Sebelum pulang, Salman berpesan kepada Abu Darda’:
“Sesungguhnya, bagi Rab-mu ada hak, dan atas badanmu ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak. Maka, tunaikanlah hak masing-masing.”
Ketika berita ini sampai kepada Rasulullah, beliau bersabda, “Salman benar.”
Demikianlah teladan mulia dari generasi paling mulia, generasi sahabat radhiyallahu ‘anhum. Mereka saling mengingatkan, agar hidup istiqamah di bawah naungan Al Qur’an dan Sunnah. Sekaligus hidup seimbang sesuai pedoman keduanya.
Jika dengan alasan ibadah saja kita tidak boleh melupakan hak-hak istri, bagaimana dengan orang-orang yang melupakan hak-hak istrinya karena alasan KERJA dan mengejar KARIR? Padahal ekonominya sudah mapan dan pekerjaan itu sejatinya bisa didelegasikan.
Bagaimana pula orang-orang yang sering tak bisa bertemu anaknya karena ‘GILA KERJA’ dan MENGEJAR JABATAN? Saat ia pulang anak-anaknya telah tidur dan saat ia berangkat anak-anaknya belum bangun.
Tidak sedikit keluarga yang mengalami masalah, sebenarnya bukan karena persoalan ekonomi. Melainkan karena kurangnya kebersamaan. Kurangnya waktu bertemu dan bermesraan. Kurangnya pehatian. Akhirnya sering terjadi miskomunikasi, sering terjadi kesalahpahaman. Hal kecil menjadi masalah besar.
Semoga kita dapat mengambil hikmahnya, barakallahu lana walakum
Billahi sabili al haq...(wag/fb)
Jumat, 09 Maret 2018
Mewaspadai Aliran Sesat
Catatan: Beberapa waktu lalu, DKM Al-Muhajirin Antapani Kidul mengundang KH Athian Ali Dai. Acara yang berlangsung di Masjid Al-Muhajirin itu mengupas topik Mewaspadai Aliran Sesat.
Berikut kupasannya...
Berbagai aliran atau kelompok sesat yang memakai atribut dan nama-nama Islam, sesungguhnya memiliki potensi lebih besar dalam mendangkalkan akidah umat Muslim. Bila berkaca dari pengalaman sejarah di negeri ini, maka hal tersebut memang benar adanya.
Pada dekade 1960-an, masyarakat kita pernah dihebohkan dengan kemunculan kelompok yang menamakan dirinya ‘Islam Murni’ alias ‘Islam Jamaah’. Dari namanya saja sudah terdengar begitu indah.
Padahal, kelompok ini memiliki paham yang justru menyimpang dari ajaran Islam. Salah satunya, mengafirkan orang-orang Muslim yang berada di luar mereka, sekalipun itu adalah keluarga sendiri. Dalam ilmu akidah, paham ini dikenal dengan istilah ‘takfir’.
Tak hanya itu, mereka juga menganggap umat Muslim yang bukan segolongan dengan mereka sebagai najis. Jika ada orang luar melakukan shalat di masjid milik Islam Jamaah, maka bekas tempat shalatnya akan dicuci karena dianggap sudah tidak suci lagi.
Selain itu, kelompok ini juga mengharamkan anggotanya belajar agama Islam, Alquran, dan Hadis selain kepada imam atau amir mereka.
Pada masa Orde Baru, Islam Jamaah dibubarkan pemerintah karena dinilai sudah menimbulkan keresahan di kalangan umat. Namun, sisa-sisa kelompok ini belakangan ternyata ‘bereinkarnasi’ lagi dengan nama baru.
Beberapa tahun lalu, umat Muslim di Tanah Air juga disibukkan oleh persoalan Ahmadiyah. Seperti Islam Jamaah, kelompok ini yang juga menggunakan atribut-atribut Islam dalam pergerakannya. Soal kesesatan Ahmadiyah, saya sudah diketahui oleh semua kalangan, termasuk pelarangan dari MUI.
Pada dekade 1960-an, masyarakat kita pernah dihebohkan dengan kemunculan kelompok yang menamakan dirinya ‘Islam Murni’ alias ‘Islam Jamaah’. Dari namanya saja sudah terdengar begitu indah.
Padahal, kelompok ini memiliki paham yang justru menyimpang dari ajaran Islam. Salah satunya, mengafirkan orang-orang Muslim yang berada di luar mereka, sekalipun itu adalah keluarga sendiri. Dalam ilmu akidah, paham ini dikenal dengan istilah ‘takfir’.
Tak hanya itu, mereka juga menganggap umat Muslim yang bukan segolongan dengan mereka sebagai najis. Jika ada orang luar melakukan shalat di masjid milik Islam Jamaah, maka bekas tempat shalatnya akan dicuci karena dianggap sudah tidak suci lagi.
Selain itu, kelompok ini juga mengharamkan anggotanya belajar agama Islam, Alquran, dan Hadis selain kepada imam atau amir mereka.
Pada masa Orde Baru, Islam Jamaah dibubarkan pemerintah karena dinilai sudah menimbulkan keresahan di kalangan umat. Namun, sisa-sisa kelompok ini belakangan ternyata ‘bereinkarnasi’ lagi dengan nama baru.
Beberapa tahun lalu, umat Muslim di Tanah Air juga disibukkan oleh persoalan Ahmadiyah. Seperti Islam Jamaah, kelompok ini yang juga menggunakan atribut-atribut Islam dalam pergerakannya. Soal kesesatan Ahmadiyah, saya sudah diketahui oleh semua kalangan, termasuk pelarangan dari MUI.
Bagi orang awam atau mereka yang baru pertama kali mendengar nama Islam Murni, Islam Jamaah, dan Ahmadiyah, mungkin akan berpikiran bahwa kelompok-kelompok tersebut memang benar-benar Islami. Padahal, pemahaman yang mereka ajarkan justru melenceng jauh dari prinsip-prinsip Islam.
Bahkan untuk Ahmadiyah, para ulama telah sepakat menyatakan mereka bukan bagian dari Islam. Karena itulah, umat perlu mewaspadai keberadaan aliran sesat yang menggunakan atribut Islam dalam setiap pergerakannya.
Bagaimana mengenali kesesatan ajaran yang ditanamkan oleh sebuah kelompok? Majelis Ulama Indonesia (MUI) menetapkan sepuluh kriteria suatu aliran dapat digolongkan tersesat.
Suatu paham atau aliran keagamaan yang memakai atribut Islam dapat dinyatakan sesat bila memenuhi salah satu dari sepuluh kriteria berikut:
– Mengingkari rukun iman dan rukun Islam.
– Meyakini dan atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dalil syar’i (Alquran dan as-Sunnah).
– Meyakini turunnya wahyu setelah Alquran.
– Mengingkari otentisitas dan atau kebenaran isi Alquran.
– Melakukan penafsiran Alquran yang tidak berdasarkan kaidah tafsir.
– Mengingkari kedudukan Hadits Nabi sebagai sumber ajaran Islam.
– Melecehkan dan atau merendahkan para Nabi dan Rasul.
– Mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul terakhir.
– Mengubah pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syariah.
– Mengkafirkan kaum Muslim tanpa dalil syar’i.
Ada tiga alasan mengapa masyarakat bisa terajak untuk mengikuti ajaran sesat dengan mudah.
“Pertama, karena ketidakmengertian dan ketidakpahaman umat terhadap hal yang benar dan yang salah menurut aturan Allah,” ujar Ustaz Athian.
Menurutnya, ketidakpahaman tersebut muncul karena banyak umat Islam yang tidak mempelajari Islam dan isi Al-Quran secara keseluruhan. Akibatnya, mereka mudah dipengaruhi dengan pola pikir sesat. Karena akidah mereka tidak terbangun dengan kuat, katanya, maka sulit pula menyadarkan mereka ke ajaran yang benar.
“Kedua, banyak aliran sesat yang menjanjikan Surga tanpa harus bersusah payah beribadah. Misalnya ajaran Syiah. Anda bisa masuk Surga tanpa harus melaksanakan salat wajib lima waktu. Salat mereka hanya tiga waktu,” sambungnya.
Alasan ketiga, lanjutnya, adalah dihalalkannya perzinahan. Ia berpendapat, hampir semua aliran sesat menghalalkan perzinahan. Bahkan di ajaran Syiah, ujarnya, mereka menganjurkan nikah mut’ah (nikah kontrak).
“Menurut kitab Syiah, orang yang melakukan nikah Mut’ah akan terlepas dari api neraka. Dosa-dosanya diampuni, terutama bagi perempuan yang melakukannya. Sungguh ajaran yang keji dan sangat tidak memuliakan kaum perempuan,” ungkap Ustaz Athian.
Ustaz Athian berpesan, umat Islam sepatutnya terus berupaya mendekatkan diri pada Allah dalam kondisi apapun. “Dengan begitu, kita bisa membedakan hal yang benar dan yang salah dalam pandangan Allah. Insya Allah, Allah akan menuntun kita menuju jalan yang diridhoi-Nya,” pungkasnya.
“Pertama, karena ketidakmengertian dan ketidakpahaman umat terhadap hal yang benar dan yang salah menurut aturan Allah,” ujar Ustaz Athian.
Menurutnya, ketidakpahaman tersebut muncul karena banyak umat Islam yang tidak mempelajari Islam dan isi Al-Quran secara keseluruhan. Akibatnya, mereka mudah dipengaruhi dengan pola pikir sesat. Karena akidah mereka tidak terbangun dengan kuat, katanya, maka sulit pula menyadarkan mereka ke ajaran yang benar.
“Kedua, banyak aliran sesat yang menjanjikan Surga tanpa harus bersusah payah beribadah. Misalnya ajaran Syiah. Anda bisa masuk Surga tanpa harus melaksanakan salat wajib lima waktu. Salat mereka hanya tiga waktu,” sambungnya.
Alasan ketiga, lanjutnya, adalah dihalalkannya perzinahan. Ia berpendapat, hampir semua aliran sesat menghalalkan perzinahan. Bahkan di ajaran Syiah, ujarnya, mereka menganjurkan nikah mut’ah (nikah kontrak).
“Menurut kitab Syiah, orang yang melakukan nikah Mut’ah akan terlepas dari api neraka. Dosa-dosanya diampuni, terutama bagi perempuan yang melakukannya. Sungguh ajaran yang keji dan sangat tidak memuliakan kaum perempuan,” ungkap Ustaz Athian.
Ustaz Athian berpesan, umat Islam sepatutnya terus berupaya mendekatkan diri pada Allah dalam kondisi apapun. “Dengan begitu, kita bisa membedakan hal yang benar dan yang salah dalam pandangan Allah. Insya Allah, Allah akan menuntun kita menuju jalan yang diridhoi-Nya,” pungkasnya.
Langganan:
Postingan (Atom)
17 Goweser Waspada Kesehatan Pasca Idul Qurban
(berpose di Depan Kantor Dinas Teritorial Bandara Husen Sastranegara) (Rest Pertama di Gedung Sebelah Hotel Homan) Tujuh belas goweser RW-10...
-
*بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم* *السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ INFORMASI SALAT IDULADHA 1447...
-
Syeich DR. Baker Al Zamly Saat menyampaikan khotbah Jamaah Al-Muhajirin dan Sekitarnya mulai berdatangan السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ال...
-
Ketua DKM Al_Muhajirin saat Menyampaikan Program di Hari Pertama Tarawih (19/2) Hari ini, Kamis 19 Februari 2026, adalah hari pertama uma...

