Jumat, 30 September 2016

Muharram: Antara Keutamaan, Legenda, Mitos dan Bid'ah

Muqaddimah

اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلاةُ وَالسَّلامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ إمَامِ المتقينَ وقائدِ المجاهدينَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ {أما بعد

Alhamdulillah, kita memasuki bulan Muharram 1438 H, yang berarti mengawali tahun baru 1438 H dan meninggalkan tahun 1437 H. Kita bersyukur kepada Allah Ta’ala atas kesempatan hidup yang masih diberikan kepada kita. Semoga kita dapat melaksanakan risalah ibadah secara ikhlas dan benar. Dan semoga kita serta seluruh umat Islam di tahun ini lebih baik dari tahun yang lalu dan tahun yang akan datang akan lebih baik lagi dari tahun ini.

Keutamaan Bulan Muharram

Bulan Muharram adalah salah satu dari empat bulan haram atau bulan yang dimuliakan Allah. Empat bulan tersebut adalah, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

“Sesungguhnya jumlah bulan di Kitabullah (Al Quran) itu ada dua belas bulan sejak Allah menciptakan langit dan bumi, empat di antaranya adalah bulan-bulan haram” (QS. At Taubah: 36)

Kata Muharram artinya ‘dilarang’. Sebelum datangnya ajaran Islam, bulan Muharram sudah dikenal sebagai bulan suci dan dimuliakan oleh masyarakat Jahiliyah. Pada bulan ini dilarang untuk melakukan hal-hal seperti peperangan dan bentuk persengketaan lainnya. Kemudian ketika Islam datang kemuliaan bulan haram ditetapkan dan dipertahankan sementara tradisi jahiliyah yang lain dihapuskan termasuk kesepakatan tidak berperang.

Bulan Muharram memiliki banyak keutamaan, sehingga bulan ini disebut bulan Allah (syahrullah). Beribadah pada bulan haram pahalanya dilipatgandakan dan bermaksiat di bulan ini dosanya dilipatgandakan pula. Pada bulan ini tepatnya pada tanggal 10 Muharram Allah menyelamatkan nabi Musa as dan Bani Israil dari kejaran Firaun. Mereka memuliakannya dengan berpuasa. 

Kemudian Rasulullah saw. menetapkan puasapada tanggal 10 Muharram sebagai kesyukuran atas pertolongan Allah. Masyarakat Jahiliyah sebelumnya juga berpuasa. Puasa 10 Muharram tadinya hukumnya wajib, kemudian berubah menjadi sunnah setelah turun kewajiban puasa Ramadhan. Rasulullah saw. bersabda:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ 
وَجَدَهُمْ يَصُومُونَ يَوْمًا يَعْنِي عَاشُورَاءَ فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ وَهُوَ يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى 
وَأَغْرَقَ آلَ فِرْعَوْنَ فَصَامَ مُوسَى شُكْرًا لِلَّهِ فَقَالَ أَنَا أَوْلَى بِمُوسَى مِنْهُمْ فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

Dari Ibnu Abbas RA, bahwa nabi saw. ketika datang ke Madinah, mendapatkan orang Yahudi berpuasa satu hari, yaitu ‘Asyuraa (10 Muharram). Mereka berkata, “ Ini adalah hari yang agung yaitu hari Allah menyelamatkan Musa dan menenggelamkan keluarga Firaun. Maka Nabi Musa as berpuasa sebagai bukti syukur kepada Allah. Rasul saw. berkata, “Saya lebih berhak mengikuti Musa as. dari mereka.” Maka beliau berpuasa dan memerintahkan (umatnya) untuk berpuasa” (HR Bukhari).

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ 
وَسَلَّمَ أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ

Dari Abu Hurairah RA. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baiknya puasa setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah Muharram. Dan sebaik-baiknya ibadah setelah ibadah wajib adalah shalat malam.” (HR Muslim)

Walaupun ada kesamaan dalam ibadah, khususnya berpuasa, tetapi Rasulullah saw. memerintahkan pada umatnya agar berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Yahudi, apalagi oleh orang-orang musyrik. Oleh karena itu beberapa hadits menyarankan agar puasa hari ‘Asyura diikuti oleh puasa satu hari sebelum atau sesudah puasa hari ‘Asyura.

Secara umum, puasa Muharram dapat dilakukan dengan beberapa pilihan. Pertama, berpuasa tiga hari, sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya, yaitu puasa tanggal 9, 10 dan 11 Muharram. Kedua, berpuasa pada hari itu dan satu hari sesudah atau sebelumnya, yaitu puasa tanggal: 9 dan 10, atau 10 dan 11. Ketiga, puasa pada tanggal 10 saja, hal ini karena ketika Rasulullah memerintahkan untuk puasa pada hari ‘Asyura para sahabat berkata: “Itu adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani, beliau bersabda: “Jika datang tahun depan insya Allah kita akan berpuasa hari kesembilan, akan tetapi beliau meninggal pada tahun tersebut.” (HR. Muslim).

Landasan puasa tanggal 11 Muharram didasarkan pada keumuman dalil keutamaan berpuasa pada bulan Muharram. Di samping itu sebagai bentuk kehati-hatian jika terjadi kesalahan dalam penghitungan awal Muharram.

Selain berpuasa, umat Islam disarankan untuk banyak bersedekah dan menyediakan lebih banyak makanan untuk keluarganya pada 10 Muharram. Tradisi ini memang tidak disebutkan dalam hadits, namun ulama seperti Baihaqi dan Ibnu Hibban menyatakan bahwa hal itu baik untuk dilakukan.

Demikian juga sebagian umat Islam menjadikan bulan Muharram sebagai bulan anak yatim. Menyantuni dan memelihara anak yatim adalah sesuatu yang sangat mulia dan dapat dilakukan kapan saja. Dan tidak ada landasan yang kuat mengaitkan menyayangi dan menyantuni anak yatim hanya pada bulan Muharram.

Bulan Muharram adalah bulan pertama dalam sistem kalender Islam. Oleh karena itu salah satu momentum yang sangat penting bagi umat Islam yaitu menjadikan pergantian tahun baru Islam sebagai sarana umat Islam untuk muhasabah terhadap langkah-langkah yang telah dilakukan dan rencana ke depan yang lebih baik lagi. Momentum perubahan dan perbaikan menuju kebangkitan Islam sesuai dengan jiwa hijrah Rasulullah saw. dan sahabatnya dari Mekah dan Madinah.

Legenda Dan Mitos Muharram

Di samping keutamaan bulan Muharram yang sumbernya sangat jelas, baik disebutkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah, tetapi banyak juga legenda dan mitos yang terjadi di kalangan umat Islam menyangkut hari ‘Asyura.

Beberapa hal yang masih menjadi keyakinan di kalangan umat Islam adalah legenda bahwa pada hari ‘Asyura Nabi Adam diciptakan, Nabi Nuh as di selamatkan dari banjir besar, Nabi Ibrahim dilahirkan dan Allah Swt menerima taubatnya. Pada hari ‘Asyura kiamat  akan terjadi dan siapa yang mandi pada hari ‘Asyura diyakini tidak akan mudah terkena penyakit. Semua legenda itu sama sekali tidak ada dasarnya dalam Islam. Begitu juga dengan keyakinan bahwa disunnahkan bagi mereka untuk menyiapkan makanan khusus untuk hari ‘Asyura.

Sejumlah umat Islam mengaitkan kesucian hari ‘Asyura dengan kematian cucu Nabi Muhammad Saw, Husain saat berperang melawan tentara Suriah. Kematian Husain memang salah satu peristiwa tragis dalam sejarah Islam. Namun kesucian hari ‘Asyura tidak bisa dikaitkan dengan peristiwa ini dengan alasan yang sederhana bahwa kesucian hari ‘Asyura sudah ditegakkan sejak zaman Nabi Muhammad Saw jauh sebelum kelahiran Sayidina Husain. Sebaliknya, adalah kemuliaan bagi Husain yang kematiannya dalam pertempuran itu bersamaan dengan hari ‘Asyura.

Bid’ah Di Bulan Muharram

Selain legenda dan mitos yang dikait-kaitkan dengan Muharram, masih sangat banyak bid’ah yang jauh dari ajaran Islam. Lebih tepat lagi bahwa bid’ah tersebut merupakan warisan ajaran Hindu dan Budha yang sudah menjadi tradisi masyarakat Jawa yang mengaku dirinya sebagai penganut aliran kepercayaan. Mereka lebih dikenal dengan sebutan Kejawen.

Dari segi sistem penanggalan, memang penanggalan dengan sistem peredaran bulan bukan hanya dipakai oleh umat Islam, tetapi masyarakat Jawa juga menggunakan penanggalan dengan sistem itu. Dan awal bulannya dinamakan Suro. Pada hari Jum’at malam Sabtu, 1 Muharram 1428 H bertepatan dengan 1 Suro 1940. Sebenarnya penamaan bulan Suro, diambil dari ’Asyura yang berarti 10 Muharram. Kemudian sebutan ini menjadi nama bulan pertama bagi penanggalan Jawa.

Beberapa tradisi dan keyakinan yang dilakukan sebagian masyarakat Jawa sudah sangat jelas bid’ah dan syiriknya, seperti Suro diyakini sebagai bulan yang keramat, gawat dan penuh bala. Maka diadakanlah upacara ruwatan dengan mengirim sesajen atau tumbal ke laut. Sebagian yang lain dengan cara bersemedi mensucikan diri bertapa di tempat-tempat sakral (di puncak gunung, tepi laut, makam, gua, pohon tua, dan sebagainya) dan ada juga yang melakukan dengan cara lek-lekan ‘berjaga hingga pagi hari’ di tempat-tempat umum (tugu Yogya, Pantai Parangkusumo, dan sebagainya). Sebagian masyarakat Jawa lainnya juga melakukan cara sendiri yaitu mengelilingi benteng keraton sambil membisu.

Tradisi tidak mengadakan pernikahan, khitanan dan membangun rumah. Masyarakat berkeyakinan apabila melangsungkan acara itu maka akan membawa sial dan malapetaka bagi diri mereka.

Melakukan ritual ibadah tertentu di malam Suro, seperti selamatan atau syukuran, Shalat Asyuro, membaca Doa Asyuro (dengan keyakinan tidak akan mati pada tahun tersebut) dan ibadah-ibadah lainnya. Semua ibadah tersebut merupakan bid’ah (hal baru dalam agama) dan tidak pernah ada contohnya dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam maupun para sahabatnya. Hadist-hadits yang menerangkan tentang Shalat Asyuro adalah palsu sebagaimana disebutkan oleh imam Suyuthi dalam kitab al-La’ali al-Masnu’ah.

Tradisi Ngalap Berkah dilakukan dengan mengunjungi daerah keramat atau melakukan ritual-ritual, seperti mandi di grojogan (dengan harapan dapat membuat awet muda), melakukan kirab kerbau bule (kiyai slamet) di keraton Kasunan Solo, thowaf di tempat-tempat keramat, memandikan benda-benda pusaka, begadang semalam suntuk dan lain-lainnya. Ini semuanya merupakan kesalahan, sebab suatu hal boleh dipercaya mempunyai berkah dan manfaat jika dilandasi oleh dalil syar’i (Al Qur’an dan hadits) atau ada bukti bukti ilmiah yang menunjukkannya. Semoga Allah Ta’ala menghindarkan kita dari kesyirikan dan kebid’ahan yang membinasakan.

Menyikapi berbagai macam tradisi, ritual, dan amalan yang jauh dari ajaran Islam, bahkan cenderung mengarah pada bid’ah, takhayul dan syirik, maka marilah kita bertobat kepada Allah dan melaksanakan amalan-amalan sunnah di bulan Muharram seperti puasa. Rasulullah saw. menjelaskan bahwa puasa pada hari ‘Asyura menghapuskan dosa-dosa setahun yang telah berlalu.

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ 
وَسَلَّمَ سُئِلَ عَن صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

Dari Abu Qatadah RA. Rasulullah ditanya tentang puasa hari ‘asyura, beliau bersabda: “Saya berharap ia bisa menghapuskan dosa-dosa satu tahun yang telah lewat.” (HR. Muslim).

Demikian bayan dari Pusat Konsultasi Syariah Indonesia tentang keutamaan bulan Muharram, sebagai panduan umat Islam untuk mengisi bulan Muharram. Wallahu ’alam bishawwab.

(SCC/Iman Santoso/hdn/dakwatuna/diedit)

Kamis, 29 September 2016

Jamaah DKM Al-Muhajirin Berikan Donasi Korban Bencana Garut

Ketua DKM Al-Muhajirin Antapani,
H Sigit Tjiptono, tengah menyerahkan
donasi bagi saudara2 kita di Garut
Seperti kita mafhum, bahwa Kabupaten Garut, Jawa Barat mengalami musibah bencana banjir bandang hebat pada Rabu dini hari, 21 September 2016. 

Hingga berita ini diturunkan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat korban 34 orang meninggal dunia dan 18 orang belum ditemukan. 

Sementara jumlah korban terkena dampak banjir bandang ini mencapai 453 kepala keluarga. Kerusakan lingkungan ditengarai menjadi penyebabnya.

Sebagai wujud bela sungkawa kepada saudara2 kita di Garut, jamaah masjid Al Muhajirin Antapani Kidul berinisiatif  memberikan donasi dan  telah terkumpul uang sebesar Rp 8.250.000,- (delapan juta dua ratus lima puluh ribu rupiah).

Selain itu bantuan juga diberikan dalam bentuk pakaian (layak pakai) sebanyak 5 (lima) karung besar. Donasi disalurkan melalui tim  Ust Asep Permana (Tim Ma'had Abu Aziz) yang terjun langsung ke 12 titik bencana Garut yang belum tersentuh bantuan. 

Adapun pakaian2 tersebut di pilah-pilah dan dikemas dalam plastik dengan rapi per pakaian, sehingga diharapkan pada saat disalurkan bisa lebih elegan dan tepat sasaran. 

Jamaah DKM Al-Muhajirin, melalui Ketua DKM, H Sigit Tjiptono, mengharapkan semoga bantuan yang tidak seberapa banyak ini dapat bermanfaat bagi saudara-saudara kita yang mengalami bencana di Garut serta semoga diberikan kesabaran dan ketabahan dalam menerima cobaan berat dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala ini. (ns)


Donasi sejumlah uang (Rp 8,25 jt) dari Jamaah Al-Muhajirin
disampaikan melalui Tim Ma'had Abu Aziz
Serah terima donasi dalam bentuk pakaian yang masih
layak pakai sebanyak lima karung diserahkan pula
melalui Tim Ma'had Abu Aziz

Rabu, 28 September 2016

Orang-orang yg bisa memberi syafaat di hari kiamat

Syafaat adalah suatu pertolongan kepada manusia yg dikehendaki oleh si pemberi pertolongan tersebut.

Demikian dikatakan dalam Al Quran surat 
Al Ambya' 28 yang artinya :
"Dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yg diridhoi Alloh".

فإنها ثابتة للمصطفى** كغيره من كل أسباب الوفا

Maka sesungguhnya syafaat adalah sudah ditetapkan bagi al-Mushthofa.

Sebagaimana telah ditetapkan juga bagi selainnya dari setiap orang-orang yang telah menjalankan perintah Allah.

من عالم كالرسل والأبرار **سوى التي خصت بذي الأنوار

Dari orang2 Alim sebagaimana para Rasul, orang2 pilihan yang bertaqwa

Selain yang telah dikhususkan kepada orang2 yang memiliki cahaya.

وأخرج سعيد بن منصور والبيهقي ، وهناد عن أنس – رضي الله عنه – قال :من كذب بالشفاعة فليس له فيها نصيب.

Syaikh Sa’id bin Manshur, imam al-Baihaqi, syaikh Hanad telah mentakhrij hadits dari sahabat Anas radliyallahu’anh, bahwasanya beliau berkata: “Barangsiapa yang mendustakan syafaat maka mereka tidak akan mendapatkan bagian dari syafaat tersebut”.

وأخرج البيهقي عنه أنه قيل له : إن قوما يكذبون بالشفاعة ، قال : لا تجالسوا أولئك .

Imam al-Baihaqi telah mentakhrij hadits dari beliau juga (sahabat Anas) bahwasanya dikatakan kepada beliau; “Sesungguhnya ada kaum yang mendustakan syafaat”, lalu beliau berkata; “Janganlah kamu sekalian duduk dengan kaum tersebut”.

Wajib meyakini bahwasanya orang-orang yang selain Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam yang bisa memberi syafaat yaitu dari para Rasul, Ambiya’, Malaikat, Shohabat, Syuhada’, ash-Shiddiquun, Auliya’ (para wali) sesuai dengan derajat dan tingkatan mereka masing2 di sisi Allah.

“أنا أول شافع ، وأول مشفع” روى هذا اللفظ أبو هريرة – رضي الله عنه – 
رواه مسلم ، وجابر بن عبد الله – رضي الله عنهما
 – أخرجه البيهقي ، وعبد الله بن سلام – رضي الله عنه

Aku adalah orang yang pertama kali memberikan syafaat dan aku adalah orang yang pertama kali yang diterima syafaatnya.

Sahabat Abi Hurairah radliyahu’anh telah meriwayatkan hadits yang redaksinya demikian, hadits ini diriwayatkan oleh imam Muslim, imam Jabir bin Abdillah radliayallahu’anhuma juga diriwayatkan oleh imam al-Baihaqi dan syaikh Abdullah bin Salam radliayallahu’anhuma.

وأما حديث ابن مسعود – رضي الله عنه – عند البيهقي قال :يشفع نبيكم رابع أربعة 
جبريل ثم إبراهيم ثم موسى ثم عيسى ثم نبيكم ، لا يشفع أحد في أكثر مما يشفع فيه نبيكم ،
 ثم الملائكة ، ثم النبيون ، ثم الصديقون ، ثم الشهداء .

قال البخاري : كذا قال أبو الزعراء : عن ابن مسعود ، ولا يتابع عليه ، والمشهور أنه
 – صلى الله عليه وسلم – أول شافع ، وكذا قال غير البخاري من أئمة الحفاظ ، والله أعلم

Adapun hadits sahabat Ibnu Mas’ud radliyallahu’anh menurut imam al-Bahaqi beliau berkata; “Nabimu akan mensyafaati setelah keempat dari empat orang; (yaitu) Jibril, Ibrahim, Musa, dan Isa, lalu Nabi kalian. Tidak ada seorang pun yang mensyafaati lebih banyak dari yang disyafaati oleh Nabi kalian, kemudian malaikat, kemudian Ambiya’, kemudian para ash-Shiddiqun, kemudian para Syhuhada”.

Imam al-Bukhrai menyampaikan; Seperti inilah yang disampaikan oleh Abu az-Za’raa’ dari Ibnu Mas’ud dan tidak ada yang mengikuti beliau (dalam redaksi seperti ini).

Yang Mashur adalah bahwasanya Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam adalah orang yang pertama kali member syafaat, seperti inilah yang disampaikan oleh imam al-Bukhari dari berbagai Imam pengahfal hadits. Wallahu’Alam.

وأخرج ابن ماجه ، والبيهقي عن عثمان بن عفان – رضي الله عنه – عن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال :

يشفع يوم القيامة الأنبياء ، ثم العلماء ، ثم الشهداء ” وأخرجه البزار ، وفي آخره ” ثم المؤذنون ” .

Imam Ibnu Majjah imam al-Baihaqi telah mentakhrij hadits dari khalifah Utsman bin Affan radliyallahu’anh dari Nabi shalallahu’alaihi wasallam, beliau bersabda:

“Yang akan mensyafaati kelak di hari kiyamat adalah para Nabi, kemudian para Ulama, kemudia para Syuhada”. Imam al-Bazzar meriwyatkan pada akhir dari redaksi hadits ini; “kemudian para Muadzin”.

وأخرج الطبراني في الكبير ، والبيهقي عن ابن مسعود – رضي الله عنه – قال :

قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم : ” ليدخلن الجنة قوم من المسلمين قد عذبوا في النار – 
برحمة الله ، وشفاعة الشافعين ” ، وأخرجه الإمام أحمد ، والبيهقي من حديث حذيفة ونحوه ،

Imam ath-Thabrani telah mentakhrij hadits dalam kitab al-Kabir dan imam al-Baihaqi dari sahabat Ibnu Mas’ud radliyallahu’anh, beliau berkata: Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda;

“Sungguh akan dikeluarkanlah orang2 muslim setelah disiksa dineraka dengan rahmat Allah serta SYAFATNYA ORANG-ORANG YANG (diberi izin oleh Allah) MEMBERIKAN SYAFAAT”. Hadits ini juga ditakhrij oleh imam Ahmad dan imam al-Baihaqi dari haditsnya Hudzifah dan sejenisnya.

وأخرج الطبراني في الأوسط عن أنس – رضي الله عنه – 
قال : قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم : 
” يشفع الله آدم يوم القيامة من جميع ذريته في مائة ألف ألف ، وعشرة آلاف ألف “

Imam ath-Thabrani telah mentakhrij hadits dalam kitab al-Ausath dari sahabat Anas radliyallahu’anh beliau berkata; Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda; “Allah memberi izin kepada nabi Adam pada hari kiyamat seluruh keturunannya yang berjumlah seratus juta dan sepuluh juta”.

وأخرج ابن أبي عاصم ، والأصفهاني عن أبي أمامة رضي الله عنه قال :قال رسول الله – 
صلى الله عليه وسلم : ” يجاء بالعالم والعابد ، فيقال للعابد : 
ادخل الجنة ، ويقال للعالم : قف حتى تشفع للناس ” . وأخرج البيهقي من حديث جابر مثله

Syaikh Ibnu Abi Ashim dan imam al-Ashfahani telah mentakrij hadits dari sahabat Abi Umamah radliyallahu’anhu beliau berkata; Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda; Orang Alim dan orang Ahli ibadah akan di datangkan, kemudian dikatakan pada Abid, “Masuklah kamu ke surga”, dan dikatakan kepada orang Alim, “Berhentilah dulu sehingga engkau mensyafaati para manusia”. Imam al-Baihaqi telah mentakhrij hadits dari sahabat Jabir yang mirip dengan hadits ini.

وأخرج الديلمي من حديث ابن عمر – رضي الله عنهما – 
مرفوعا ” يقال للعالم : اشفع في تلامذتك ، ولو بلغ عددهم نجوم السماء ” .

Imam ad-Dailami telah mentakhrij hadits dari sahabat Ibnu Umar radliyallahu’anhuma secara marfu’; dikatakan kepada seorang yang Alim; “Syafaatilah murid-muridmu walaupun jumlah mereka sampai dengan jumlahnya bintang-bintang di langit”.

وأخرج أبو داود ، وابن حبان عن أبي الدرداء : سمعت رسول الله – صلى الله عليه وسلم – يقول :

” الشهيد يشفع في سبعين من أهل بيته ” وأخرج الإمام أحمد ، والطبراني مثله من حديث مقدام بن معدي كرب

Imam Abu Dawud dan imam Ibnu Hiban telah mentakhrij hadits dari sahabat Abi Darda’; Saya mendengar Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda; “Orang2 yang mati syahid akan bisa mensyafaati tuju puluh orang dari keluarganya”. Imam Ahmad dan imam ath-Thabrani telah mentakhrij hadits yang mirip dengan hadits ini dari hadits Muqoddam bin Ma’di Karib.

وأخرج الترمذي والحاكم وصححاه ، والبيهقي عن عبد الله بن أبي الجدعاء ،
 سمعت رسول الله – صلى الله عليه وسلم – يقول : ” ليدخلن الجنة بشفاعة رجل من أمتي أكثر من بني تميم ” ،
 قالوا : سواك يا رسول الله ؟ قال : سواي ” قال الفريابي : يقال : إنه عثمان بن عفان – رضي الله عنه .

Imam at-Tirmidzi dan imam al-Hakim telah mentakhrij hadits dan mensohihkannya juga imam al-Baihaqi dari sahabat Abdullah bin Abi al-Jad’aa’; saya mendengar Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda; “Sungguh akan masuk surga dengan syafaat seorang laki-laki dari kalangan umatku orang-orang yang jumlahnya lebih banyak dari jumlah bani tamim”,

kemudian para sahabat bertanya pada Nabi; “Apakah seorang laki2 tsbt adalah selain Engkau ya Rasulallah?, kemudian Nabi menjawab; “Selain diriku”. Al-Faryabi menyatakan; “dikatakan seorang laki2 tersebut adalah Utsman bin Affan radliyallahu’anh”.

وأخرج الترمذي وحسنه والبيهقي عن أبي سعيد الخدري – رضي الله عنه – 
قال :قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم :
 ” إن من أمتي لرجالا يشفع الرجل منهم في الفئام من الناس فيدخلون الجنة بشفاعته ،
 ويشفع الرجل منهم للقبيلة فيدخلون الجنة بشفاعته ، ويشفع الرجل منهم للرجل وأهل بيته فيدخلون الجنة بشفاعته ” .

Imam at-Tirmidzi telah mentakhrij hadits dan menganggapnya hasan, juga imam al-Baihaqi dari sahabat Abi Sa’id al-Khudlri radliyallahu’anh beliau berkata; Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda; “Sesungguhnya dari kalangan umatku terdapat banyak laki-laki yang seorang laki2 dari mereka bisa mensyafaati sekelompok manusia dan mereka semua masuk surga dengan syafaat seorang laki2 tersebut, seorang laki2 lain dari mereka bisa mensyafaati sekelompok besar (kabilah) kemudian mereka semua masuk surga dengan syafaat seorang laki2 tsbt.

Seorang dari mereka bisa mensyafaati keluarganya sehingga mereka semua masuk surga dengan syafaat seorang laki2 tsb”.

Semoga kita mendapatkan syafaat dari Junjungan kita Nabi SAW dan orang-orang yg diijinkanNya utk menolong kita di Hari Kiamat kelak...Aamiin...

Sumber : Kitab Lawami’ al-Anwar al-Bahiyyah wa Sawathi’ al-Asrar al-Atsariyyah karya syaikh al-Imam Muhammad as-Safarayini al-Hambali.

17 Goweser Waspada Kesehatan Pasca Idul Qurban

(berpose di Depan Kantor Dinas Teritorial Bandara Husen Sastranegara) (Rest Pertama di Gedung Sebelah Hotel Homan) Tujuh belas goweser RW-10...