Sabtu, 04 April 2020

Mati Zholimin atau Thoyyibin (1)

Oleh: Ust. Usin S. Artyasa
(Pengisi ta"lim di Masjid Almuhajirin, Antapani Kidul setiap Kamis Subuh)

Dalam Al Quran, ada dua ayat yang menerangkan dua bentuk kematian yang berbeda. Ayat yang satu menggambarkan kematian yang menzhalimi diri sendiri (zholimi anfusihim). Ayat yang satu lagi menggambarkan kematian yang baik (thoyyibin).

الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ فَأَلْقَوُا السَّلَمَ مَا كُنَّا نَعْمَلُ مِنْ سُوءٍ بَلَى إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Yaitu, orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat zhalim kepada diri sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata); "Kami sekali-kali tidak mengerjakan sesuatu kejahatan pun". Malaikat menjawab: "Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan", QS 16: 28.

Menurut Ibnu ad Dimasqi (Jilid 12: 48), kalimat “al ladzîna al malâ’ikatu …” berfungsi sebagai “al maushûl majrûr aw baddalan aw bayânan”, sebagai penyambung penbicaraan untuk memperjelas keterangan tentang orang-orang yang diazab dalam kehinaan. Menurut al Alûsi, kata “al-ladzîna” itu menerangkan ayat sebelumnya, yaitu al-kâfirîn. Mereka inilah yang dimatikan oleh malaikat dalam keadaan zhalim, sû’ul khôtimah. Kalimat “fa alqowus salâm” berfungsi sebagai “al mazîdah fi al khobâr”, penambah keterangan atas kehinaan dan ketidak-berdayaan mereka di hadapan Allah (Ibnu Athiyah, 12: 48).

وَقِيلَ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا مَاذَا أَنْزَلَ رَبُّكُمْ قَالُوا خَيْرًا لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَلَدَارُ الْآَخِرَةِ خَيْرٌ وَلَنِعْمَ دَارُ الْمُتَّقِينَ

Dan, dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa: "Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Kebaikan". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat balasan yang baik. Dan, sungguh, kampung akhirat itu lebih baik, dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa, QS 16: 30.

Menurut Imam al Qôdhi (dalam Lubab fi ‘Ulum al Quran, 12: 52), makna kata “al ladzîna at taqow” adalah “al ladzîna jamî’un al muharromât wa fâ’ilun jamî’un al wâjibât”, orang yang menjauhi semua yang haram, dan melaksanakan semua yang diwajibkan. Kata “al ladzîna at taqow” juga digambarkan sebagai orang-orang yang sempurna imannya, dan terus menerus menghiasi diri dengan bertumpuk kebaikan (Tafsir al Mishbah, 7: 219).

Kata “khoyron”, dari segi bahasa, berkedudukan sebagai objek. Kata “khoyron” menunjuk pada jawaban orang-orang yang bertakwa saat mereka ditanya tentang apa yang telah diturunkan Allah kepada mereka. Hal ini berbeda dengan jawaban kaum kafir, yaitu “asâthîr al awwalîn” (lihat QS 16: 24). Artinya, kaum bertakwa merasa sangat yakin bahwa yang Allah turunkan dalam Al Quran seluruhnya berupa kebaikan dan kebenaran.

Menurut Zayd ibn Ali (dalam Bahrul Muhith, 5: 373; Durul Mantsur, 4: 334), kata “khoyron” maknanya sama dengan “al ahsanu”, yang berfungsi sebagai jawaban atas pertanyaan Allah tentang hakikat isi yang diturunkan Allah kepada Rasulullah Saw. Menurut Umar ibn Adl ad Dimasqi, ungkapan “al ladzî fî hâdzîhi ad dunyâ hasanah”memiliki dua makna. Satu, sebagai “ikhbar” atau informasi. Dua, sebagai jaminan bagi kaum Muttaqin bahwa mereka sangat layak untuk mendapatkan berbagai kebaikan. Menurut Zamakhsyari (dalam Lubab fi ‘Ulum al Quran, 12: 5), makna kedua lebih tepat daripada makna pertama.

Kita semua tentu ingin mengakhiri hidup dalam keadaan beriman kepada Allah. Lebih-lebih dengan mengucapkan kalimat tauhid, “lâ ilâha illallôh”. Sebab, ada banyak hadis yang menerangkan tentang jaminan masuk Jannah kepada siapa pun yang kalimat akhirnya menjelang mati adalah “lâ ilâha illallôh”.

Dari Utsman ibn ‘Affan ra., Rasulullah Saw. bersadba:

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Siapa meninggal dunia sementara dia mengetahu bahwa tiada tuhan yang berhak diibadahi kecuali Allah pasti masuk surga.” (HR. Muslim)

Abu Dzar ra. juga menukil bahwa Rasulullah Saw. bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ثُم مَاتَ عَلَى ذَلِكَ إِلَّا دَخَلَ الْجَنة

“Tidaklah seorang hamba mengucapkan Laa Illa Illallah kemudian ia meninggal dunia di atas ucapan itu kecuali pasti masuk surga.” (HR. Al-Bukhari).

Mu’adz bin Jabal ra. pun berkata bahwa Rasulullah Saw. bersabda:

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa yang ucapan terakhirnya Laa Ilaaha Illallaah pasti masuk surga.” (HR. Abu Dawud, dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Miyhkah al-Mashabiih: 1/509)

Bersambung ….

Jumat, 03 April 2020

15 Pesan Pasca Kepergian Covid-19

Ada 15 Pesan yang akan ditinggalkan Covid-19, yang in syaa Allah segera akan pergi :

1. Makanlah yang menyehatkan lagi Halal. Jauhi makanan dan minuman Haram. Bukankah awalnya virus muncul setelah binatang binatang, liar, buas dan kelelawar dibantai dengan kasar atau dibakar hidup hidup lalu dimakan?

2. Jangan lagi berpakaian minim lagi ketat mengumbar aurat. Bukankah Covid-19 telah mendidik kita berpakaian serba tertutup?, dan memang kan semua agama Samawi memuliakan pakaian yang rapih, bersih dan sopan.

3. Jaga ucapan, makanan, dan pendengaran. Bukankah masker Covid-19 telah mendidik kita menutup mulut, lidah, telinga dan hidung?*

4. Jangan lagi ada "pergaulan bebas" tanpa batas, selingkuh dan kumpul tanpa ikatan sah. Bukankah Covid-19 telah mendidik kita untuk Sosial Distancing dan Physical Distancing, jaga jarak, bahkan bersalamanpun tidak bersentuhan?*

5. Jangan lagi malas ke rumah rumah Ibadah, Masjid dll. Bukankah Covid-19 telah mendidik kita, bagaimana sedih dan stress nya kita tanpa ada tempat memohon, berdoa, tak bisa beribadah berjamah dan shalat di Masjid dalam suasan batin yang damai. Bagaimana sedihnya melepas saudara kita yang meninggal tanpa dishalatkan beramai ramai di Masjid?

6. Jangan lagi pernah abaikan rumah, keluarga dengan terlalu sibuk di luar rumah. Bukankan Covid-19 telah mendidik kita untuk banyak tinggal di dalam rumah bersama keluarga ?

7. Jangan lagi ada rasa angkuh, sombong, dan merasa besar serba bisa.
Bukankah Virus Corona yang kecil dan tak tampak mata itu telah mendidik kita, bahwa tidak ada yang mampu mencegahnya jika Covid-19 ingin datang mampir?, dan Covid-19 tidak mengenal status sosial miskin atau kaya, tua atau muda pembesar atau rakyat biasa, semua dihinggapi jika abai.

8. Jangan lagi jauh dari Tuhan..Sang Maha Pencipta. Bukankan Covid-19 telah mendidik kita, dalam suasana Covid-19 aktif menyebar, semua orang ketakutan dan semua orang baru mendekat berdzikir dan berdoa, memohon perlindungan Tuhan Sang Kholiq?

9. Jaga kebersihan dan ketertiban. Bukankah Covid-19 telah mendidik kita agar selalu menjaga kebersihan badan, pakaian, barang dan lingkungan dengan rajin mandi, mencuci tangan, semprot antiseptik dan disinfektan, dan tidak sembarangan membuang sampah?*

10. Jangan lagi abai dan masa bodoh pada anugerah Allah yang melimpah tak terbatas, seperti sinar matahari, tumbuhan yang menyehatkan dll.*
Perbanyaklah bersyukur atas karunia gratis itu semua.*
Bukankah Covid-19 telah mendidik kita agar rajin berjemur n OR di pagi hari, rajin minum jahe, sereh, kunyit, lemon dll agar daya tahan tubuh kita lebih kuat? . Tanam dan peliharalah tumbuhan yang memberi manfaat kesehatan.*

11. Tingkatkan semangat kebersamaan, solidaritas, saling tolong. Jangan lagi semua dihitung berdasarkan kepentingan pribadi dan pamrih. Bukankah Covid-19 telah mendidik kita bahwa kita tidak mampu mengurus diri sendiri seorang diri, kita butuh orang lain yang meski bukan saudara seperti dokter, dll. Kalau tidak ditolong orang, bisa mati mendadak di jalanan saat dihindari orang karena takut tertular.*

12. Berimanlah, beragamalah dengan baik. Percayalah yakinilah pada hal hal Ghaib yang tak tampak mata, seperti adanya Tuhan, ada Malaikat dan ada Jin. Jangan lagi menantang Tuhan dengan mengatakan, bagaimana percaya pada Tuhan sedang kita tidak bisa melihat Tuhan.*
Bukankah Covid-19 mendidik kita bahwa meski Virus Corona tidak tampak. tapi ada, buktinya, banyak yang terpapar oleh Covid-19 dan meninggal.*

13. Selalu mempersiapkan diri untuk kehidupan Akhirat dengan perbanyak kebaikan, meningkatk kualitas n kuantitas ibadah dan amal sholeh. Hidup di Dunia ini hanya sementara saja, sewaktu waktu bisa mati.

Bukankah Covid-19 telah mendidik kita bahwa kematian bisa datang menjemput secara tiba tiba dan di mana saja.

14. Daya tahan tubuh akan kuat jika selalu berbaik sangka, sabar, syukur, ikhlas dan jujur.
Daya tahan tubuh akan melemah saat pikiran dikuasai dengki, fitnah, iri, hasut, ujaran kebencian dan cacian, seks bebas, seks sesama jenis, dan Narkoba.
Maka perkuatlah ketahanan tubuh dengan selalu berbaik sangka, husnudzon, ikhlas dan tawalkal. Jangan lagi ada iri, caci, dengki, ujar kebencian, fitnah dan kekerasan, Narkoba dan penyimpangan seksual.*

Bukankah Covid-19 telah mendidik kita bahwa Virus Corona mudah menyerang mereka yang daya tahan tubuhnya lemah?

15. Perkuat Silaturrahim. Jaga harmoni sesama makhluk. Jangan lagi merusak alam. Jangan ekspoilitasi kekayaan bumi secara berlebihan. Bukankah Covid-19 telah mendidik kita bahwa, adanya keseimbangan dan pengurangan polusi industri, asap mesin, keseimbangan semburan kimia beberapa minggu ini, telah membuat udara, awan dan alam ini lebih cerah dan bersih?*

Sungguh pelajaran yang luar biasa dari Virus Corona.*
Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT dan dijauhkan dari semua musibah dan penyakit. Dan wabah Covid-19 cepat berlalu. 
Aamin YRA.

Kamis, 02 April 2020

Corona dan Menghentikan Penggunaan Masjid

Masalah yang dihadapi DKM, sepintas memang remeh. Padahal, tidak begitu. Sebab, di dalamnya termuat beberapa hal yang sangat prinsip :

Pertama, adanya kegaiban bernama hakikat virus dan proses penyebarannya.
Dalam ilmu akidah, ghaib itu dibagi dua: mutlak dan muqoyyad.

Ghaib mutlak berkaitan dengan hakikat Allah, hari kiamat (QS 67: 12). Ghaib muqoyyad (relatif) berkaitan dengan kegaiban yang bersyarat (QS 72: 26-27). 

Ungkapan “bersyarat” yang dimaksud adalah persyaratan ilmu yang tentu dengan izin Allah. Itupun hanya “bagian tertentu” atau pengetahuan yang tidak bersifat mutlak karena, sekali lagi, kemutlakan hanya di sisi Allah.

Untuk kalangan awam, hakikat dan proses penyebaran virus Covid 19 sangat sulit dideteksi.

Faktanya, virus ini menular dengan cepat dan membunuh manusia.

Sayangnya, kebijakan “social/physical distancing” (pembatasan jarak sosial/fisik) tidak diindahkan karena munculnya kelompok ‘neojabbariyah’ atau ‘neoqodariah’.

Teologi ‘jabariyah’ (asal: ja-ba-ro) artinya keterpaksaan, yaitu paham teologi yang meyakini bahwa ‘alur hidup manusia merupakan ketentuan Tuhan yang berkuasa mutlak dalam menentukan garis hidup manusia.

Lawannya adalah teologi qadariyah (asal: qo-da-ro) arti kehendak, yaitu teologi yang meyakini bahwa apa yang terjadi pada diri manusia merupakan kehendak pribadi, dan tidak ada urusan dengan ketentuan Allah.

Contoh kalimat ‘neo-jabariyah’ adalah ungkapan ‘ngeyel’ figur publik bahwa “takdir mati itu ketentuan Allah, kalau Allah tidak menakdirkan mati, maka kita tetap hidup”. Lalu, ia tetap mengadakan kegiatan keagamaan yang mengundang banyak orang, padahal instruksi MUI jelas melarang mengadakan acara yang dapat membuat kerumunan massal dikarenakan berpotensi mempercepat penyebaran virus.

Apa yang kemudian terjadi?

Di sebuah masjid di Kebon Jeruk, lebih dari 170 orang dikarantina karena positif corona.

Beberapa fakta yang belakangan muncul: Global Times menyebut adanya “silent carrier”. Ilmuwan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Ningbo Provinsi Zhejiang China Timur menemukan bahwa 6,3% terinfeksi tanpa gejala. Ahli virologi, Yang Zhanqiu Provinsi Hubei juga menyebut bahwa setidaknya 200 ribu “silent carrier” virus corona yang tanpa gejala.

Kedua, kutipan QS 9: 17-18 yang tepat dengan mengatakan bahwa ‘penutupan masjid untuk aktivitas berjamaah dan ibadah merupakan bagian dari tindakan zhalim’. Bahkan, layak disebut ‘musyrik’ orang yang enggan ke masjid.

Memang, ada ayat yang menggambarkan bahwa melarang penyebutan nama Allah di masjid merupakan tindakan zhalim. Simak ayat berikut.

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ مَنَعَ مَسَاجِدَ اللَّهِ أَنْ يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ وَسَعَى فِي خَرَابِهَا أُولَئِكَ مَا كَانَ لَهُمْ أَنْ يَدْخُلُوهَا إِلَّا خَائِفِينَ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَلَهُمْ فِي الْآَخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ، البقرة: 114

Adapun surat yang menggambarkan keengganan kaum musyrik untuk memasuki masjid karena mereka sudah tahu bahwa dirinya kafir. Di dalamnya juga digambarkan tentang syarat menjadi takmir masjid: beriman kepada Allah, tidak takut selain kepada-Nya, mendirikan sholat, menunaikan zakat.

مَا كَانَ لِلْمُشْرِكِينَ أَنْ يَعْمُرُوا مَسَاجِدَ اللَّهِ شَاهِدِينَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ بِالْكُفْرِ أُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ وَفِي النَّارِ هُمْ خَالِدُونَ، إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آَمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآَتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ، التوبة: 18-17

Tak seorang pun dari Mukmin yang tak merindukan masjid sebagai tempat berlabuhnya hati untuk beribadah. Bahkan, Ibnu Katsir menjelaskan tentang keutamaan masjid dengan mengutip sebuah hadis. Imam Daruqutni (Kitab al Ifrad) meriwayatkan hadis melalui jalur Hikamah binti Usman ibnu Dinar, dari Malik ibnu Dinar, dari Anas ibn Malik ra.:

"إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ عَاهَةً، نَظَرَ إِلَى أَهْلِ الْمَسَاجِدِ، فَصَرَفَ عَنْهُمْ"

Apabila Allah menghendaki azab atas suatu kaum, maka Dia memandang kepada ahli masjidnya (orang-orang yang memakmurkan masjid-masjid); maka Allah berpaling dari mereka (tidak jadi mengazab mereka).

Ibnu Katsir juga mengutip hadis qudsi dari Anas ibn Malik ra. bahwa Allah berfirman:

إِنِّي لَأَهِمُّ بِأَهْلِ الْأَرْضِ عَذَابًا، فَإِذَا نَظَرْتُ إِلَى عُمَّارِ بُيُوتِي وَإِلَى الْمُتَحَابِّينَ فِيَّ، وَإِلَى الْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ، صَرَفْتُ ذَلِكَ عَنْهُمْ"

Demi keagungan dan kebesaran-Ku, sesungguhnya Aku hendak menimpakan azab kepada penduduk bumi. tetapi apabila Aku memandang kepada orang-orang yang memakmurkan rumah-rumahKu dan memandang kepada orang-orang yang saling menyukai karena Aku, dan memandang kepada orang-orang yang memohon ampun di waktu sahur, maka Aku palingkan azab itu dari mereka.

Jadi, penggunaan dua surat di atas (QS 2: 114 dan 9: 17-18) sebagai dalil untuk menentang ‘penghentian atau penutupan sementara penggunaan masjid sebagai tempat berjamaah’ karena sama dengan perbuatan zhalim tidaklah tepat.

Jelasnya penggunaan dua surat keliru dan salah.

Dua surat itu harus diliihat secara komprehensif dari konsep ‘sibâq’ dan ‘siyâq’ agar tidak menghasilkan kesimpulan yang keliru.

Sebab, pengambilan kesimpulan hukum alias ‘istinbath’ mengacu pada konsep ‘maqôshid asy syarî’ah’ (tujuan penerapan syariat Islam).

Salah satu unsur dari ‘maqôshid asy syarî’ah’ adalah menjaga jiwa (hifdhu-n-nafsi).

Ketiga, setiap Muslim sudah bersepakat ulama yang memiliki otoritas keagamaan adalah pewaris nabi.

Setiap kesimpulan dan keputusan hukum yang diambil pasti mengacu rujukan Al Quran dan Hadis. Termasuk kaidah fiqh.

Mereka bertugas memastikan tujuan pokok dan fundamental syariat ‘maqôshid asy syarî’ah’ terlaksana dengan baik, yakni "mewujudkan maslahat dan meniadakan kerusakan" dalam kehidupan dengan cara menjaga jiwa manusia (hifdhu-n-nafsi).

Masjid itu tempat bersujudnya organ paling terhormat dalam susunan anatomi tubuh manusia.

Bahkan, sujud merupakan saat terdekat seorang hamba dengan Rabb-nya.

Sungguh, perbuatan yang tak seyogianya ada jika saat kemesraan spiritual ini ternoda dengan rasa tak aman dan tak lagi nyaman karena rasa was-was atas Covid-19 yang tak kasat mata itu.

Masjid harus dijaga muruah, kesucian, dan fungsinya sebagai episentrum kemaslahatan hidup.

Biarkan sajalah mal-mal, pusat-pusat perbelanjaan, pusat-pusat hiburan dan sejenisnya dicatat oleh sejarah sebagai tempat yang justru seringkali meruntuhkan martabat kemanusiaan kita.

Bahkan, tempat di mana manusia milenial saling menunjukkan eksistensi diri, kekayaan, dan kelas sosial.

Wajarlah, dalam pandangan kenabian, tempat tersebut menyandang predikat tempat yang paling dimurkai Allah Ta’ala (HR Muslim).

Seharusnya, car
a berpikir umat Islam tidak perlu menuntut agar masjid disamaratakan dengan mal, pusat perbelanjaan, pusat hiburan tersebut—yang kemudian latah menebar status provokatif, semisal, "Mengapa masjid ditutup, tapi mal dibuka lebar?"

Seraya berburuk sangka kepada ulama penuntun umat. Apa pandangan manusia jika sudah terbukti bahwa masjid menjadi penyebab pandemic Covid 19 karena ada sekelompok orang yang ‘ngeyel’ untuk membuka masjid pada saat virus Covid 19 sedang mengganas?

Sejarah mencatatnya sebagai kebodohan.

Keempat, hilangnya adab sebuah masyarakat yang warganya berkarakter Islam.

Salah satunya kesiapan untuk menjadi makmum yang baik, sekaligus menjadi imam yang baik.

Salah satu adab yang saat ini hilang adalah sirnanya konsep ‘sami’atan wa tho’atan’ atas keputusan seorang pemimpin.

Apalagi jika keputusan itu diambil melalui proses musyawarah (QS 3: 159).

Seluruh anggota majelis permusyawaratan yang sudah bersepakat wajib hukumnya untuk mematuhi hasil keputusan.

Jika tidak, masuk kategori membangkang, dan tindakan membangkang namanya ‘bughot’ (QS 49: 9).

(Sumber : disampaikan via WAG Almuhajirin oleh ustadz Usin S Artyasa 
yg biasa menyampaikan kajian Hadits di masjid Al Muhajirin setiap Kamis subuh)

17 Goweser Waspada Kesehatan Pasca Idul Qurban

(berpose di Depan Kantor Dinas Teritorial Bandara Husen Sastranegara) (Rest Pertama di Gedung Sebelah Hotel Homan) Tujuh belas goweser RW-10...