Sabtu, 10 Agustus 2019

Khutbah Idul Adha Al-Muhajirin: Anak durhaka, buah didikan orang tua

Dari khutbah Idul Adha Masjid Al-Muhajirin RW-10 Antapani, Imam/Khatib Ustadz Imam Nuryanto.

اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ، لا إِلهَ إِلاَّ اللهُ واللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ وَِللهِ الحَمْدُ
"Allaahu akbar Allaahu akbar Allaahu akbar, laa illaa haillallahuwaallaahuakbar Allaahu akbar walillaahil hamd"


Hadirrnya seorang anak ditengah2 keluarga merupakan suatu kebahagiaan tersendiri. Rasanya kurang lengkap apabila pasangan suami istri, walau Allah menganugerahi harta melimpah, namun tak memiliki momongan. Untuk mencapai harapan itu, tak sedikit para  pasangan suami istri menempuh berbagai cara agar dikarunia seorang anak.

Namun setelah anak lahir, dibalik kebahagiaan tentunya memiliki konsekuensi adanya tangung jawab besar bagi orang tua, khsusunya bagi ayah sebagai pemimpin di keluarga, utuk membesarkan anak sekaligus membekalinya dengan ilmu agama.

Allâh Azza wa Jalla mengingatkan kembali bahwa anak-anak bisa menjadi sumber fitnah. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۚ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu); di sisi Allâh pahala yang besar. [At-Taghâbun/64:15]

Memang benar bahwa anak bukan milik kita, Anak adalah mllik Allah. Kita hanya diberikan amanah titipan dari Allah SWT, karena itu kapan saja Allah bisa mengambil anak yg kita cintai. kita dambakan dan kita tunggu kehadiriannya.

Apa yg dititipi Allah kita harus menjaganya. Jangan sampai titipan anak dalam keadaan fitrah atau suci dikembalikan dalam keadaan kotor penuh kedurhakaan. Diberikan dalam kondisi suci maka sejatinya dikembalikan dalam keadaan suci pula.

Namun demikian, kadang kita sebagai ayah lupa pada tanggung jawab sebagai orang tua. hanya kebutuhan dunia saja yg dipenuhi tanpa tangggung jawab untuk mendidik anak dengan kesholehan dan ketauhidan pada Allah SWT.

Jangan bunuh anak2

Hendaknya para orang tua jangan kalian bunuh anak kalian karena takut miskin. Allah lah yg menjamin rizkinya. tak salah kita cari nafkah tapi setiap anak lahir telah Allah tetapkan rizkinya. Bahkan sampai matipun.

Dalam Surat Al-An'am, ayat 151:

۞ قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ ۖ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۖ وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ مِنْ إِمْلَاقٍ ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ ۖ وَلَا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ ۖ وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar". Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya).
Dengan demikian jelas lah bahwa Allah lah yg akan menjamin rezeki pada setiap anak. Setiap anak lahir telah ditetapkan rizkinya. Kita sebagai ayah bukan sebagai pemberi rizki. Rizki itu dari Allah, dan  yang menjamin rizki adalah Allah Shubhanahu Wata'ala.

Tanggung jawab adalah ciri manusia beradab (berbudaya). Manusia merasa bertanggung jawab karena ia menyadari akibat baik atau buruk perbuatannya itu, dan menyadari pula bahwa pihak lain memerlukan pengabdian atau pengorbanannya. 



Dalam Surat At-Tahrim Ayat 6.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ “

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. at-Tahrim: 6).

Wahai para orang tua,  di pundak kita punya tanggung jawab berat. Jangan sampai keluarga kita, anak2 kita malah menjadi bahan bakar neraka. Naudzubillah tsuma Naudzubillah.

Dalam satu riwayat ketika Rasulullah SAW, menerima seorang utusan bahwa cucunya mengalami sakaratul maut, maka Rasulullah  menyampaikan pada utusan itu bahwa sesungguhnya milik Allah apa yang telah Allah berikan, dan hak Allah pula untuk mengambilnya, kapan saja dan dimana saja. Semuanya telah ada  ketentuan Allah atas rezeki, jodoh dan ajalnya.

Oleh karena itu Kita sebagai Ayah sudah kah kita memeriksa ibadah anak2 kita, memeriksa hafalan bacaan shalatnya, sudah memeriksa dalam menjaga shalat lima waktu, serta  sudah kah shalat berjamaah ke masjid bagi anak laki2. Sudah dekatkah anak2 kita dengan Alquran dan hadist, berapa surat yg sudah dia hafal dan fahami. Atau malah justru kita sendiri yang jauh dari Alquran?

Coba perhatikan anak2 sekarang. Terutama anak SLTP dan SLTA, mereka sudah jarang mengikuti kajian2 di masjid. Alasannya mereka sudah terlalu sibuk, capek, lelah dan telah mengikuti berbagai kursus. Lalu pendidikan macam apa jika seperti ini? boleh jadi mereka pintar tapi, sungguh dalam dadanya, secara ketauhidan mereka hampa dan kosong. Jangan sampai anak2 kita menjadi durhaka karena buah didikan kita sebagai orangtua.

Lalu apakah kita lupa dengan doa2 kita sewaktu mereka lahir? Kita laksanakan aqiqah atau tasyakur bi'nikmah, agar anak kita memiliki kesholehan. Bahkan kita mintakan doa2 kepada para ustadz, kyai, anak2 yatim. Lantas kemana doa2 kita dulu itu?



Hikmah Idul Adha

Idul Adha yang salah satu rangkaiannya ialah ibadah Kurban yang merupakan perwujudan rasa syukur atas nikmat Allah SWT. Melalui ibadah Kurban kita mengenang kembali serta mencoba meneladani perjuangan Nabi Ibrahim As dan putranya Nabi Ismail As.

Adapun di antara keteladanan dari praktik pendidikan keluarga Nabi Ibrahin As ialah karakter kesabaran. Pola pendidikan dalam keluarga Nabi Ibrahim As yaitu bahwa Nabi Ismail As tidak akan menjadi anak yang penyabar jika tidak mendapat pendidikan dari ibunya yakni Siti Hajar. Dan Siti Hajar tidak akan menjadi seorang penyabar jika tidak dididik oleh Nabi Ibrahim As. Nabi Ibrahim As pun tidak akan dapat sabar jika tidak mendapat bimbingan dari Allah SWT melalui wahyu-Nya.

Keluarga tak ubahnya sebagai sekolah pertama yang menjadi pondasi pokok dalam tumbuh kembang karakter anak. Keteladanan orang tua bagi anak-anaknya sangatlah penting. Karena itulah, orang tua musti menjaga tutur kata dan tindakannya dalam mendidik anak. Sebagaimana telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim As dalam pendidikan keluarganya.

Gambaran keluarga Nabi Ibrahim ini setidaknya memberikan tiga keteladanan pendidikan karakter penting dalam berkeluarga. Pertama, pentingnya menciptakan keluarga yang taat kepada Allah SWT dengan menanamkan nilai-nilai ketauhidan dalam setiap anggota keluarga.

Kedua, pentingnya menciptakan komunikasi yang baik antara istri dengan suami, orang tua dengan anak dan begitu juga sebaliknya anak dengan orang tua. Dalam hal ini secara tidak langsung Nabi Ibrahim As mengajarkan musyawarah ketika mengambil keputusan dalam keluarga.

Ketiga, pelajaran yang tak kalah penting yaitu menanamkan nilai kasih sayang kedalam anggota keluarga. Sebab, tanpa kasih sayang hubungan harmonis tidak akan tercipta. Kasih sayang pula yang akan melahirkan karakter anak yang berakhlak karimah atau kecerdasan spiritual dan kecerdasan dalam pendidikan.

Jika suatu saat ada perluakuan tidak enak dari anak dari anak2 kita, jangan mudah menuduh sebagai anak durhaka. Bisa jadi karena itu didikan kita yang tidak membawa anak pada ketauhidan dan kesholehan. Bisa jadi itulah hasil kerja kita sebagai orang tua.

Di dunia saja kita bisa perih menerima perlakuan buruk dari anak kita, maka bisa jadi kelak di akhirat akan lebih perih lagi sebagai akiat kita belum bsia menjadi seorang ayah yg baik. Mereka kelak akan menuntut kita. Akibat kita tidak mampu mendidiknya. Itulah buah dari amal diri kita sebagai orang tua. 

Semoga saja kelak ketika kita telah mati, dapat meninggalkan anak2 yang sholeh/sholehah sebagai buah hasil didikan kita selama hidup di dunia. Aamiin Ya Robbal'aalamiiin.

Laporan Ketua DKM

Sementara itu dalam laporannya, Ketua DKM Al-Muhajirin, Sigit Tjiptono, menyampaikan bahwa hewan qurban tahun ini sebanyak 20 (dua puluh) ekor Sapi dan 20 (dua puluh) ekor Kambing. Ini hampir sama dengan jumlah hewan qurban tahun lalu. DKM menyampaikan terima kasih atas kepercayaan para Mudhohi untuk berqurban di DKM Al-Muhajirin.

Disampaikan pula tentang niat DKM Al-Muhajirin untuk membeli tanah yang berlokasi di seberang jalan Masjid Al-Muhajirin, atau berlokasi di Jl Jayapura No.1. Dengan ucapan bismillah, DKM Al-Muhajirin berniat akan membeli dan membangun rumah tahfiz dan Madrasah bagi anak2 yatim/piatu dan anak2 miskin lainnya yang akan dididik, selain ilmu agama, juga keterampilan untuk membekali kehidupannya supaya bisa mandiri.

"Saat ini kami tengah mencari para donatur bagi yang berminat menjadi pewakaf. Dan mohon dibantu pula oleh  Jamaah Al-Muhajirin, untuk mencarikan para donaturnya, in syaa Allah pahalanya sama dengan pewakafnya" tandas Sigit. (*nas)

DKM Al-Muhajirn Mencari Pewakaf Tanah

Islam menyediakan wakaf sebagai fasilitas umat yang ingin menjaga keberkahan dan kekekalan harta untuk taqarrub kepada Allah, menggapai kebaikan dan ridha-Nya. Wakaf adalah sedekah yang paling mulia dan bentuk perniagaan terbaik dengan Allah SWT. 

Sehingga Allah SWT menjanjikan pahala yang sangat besar bagi orang yang berwakaf, dengan melimpahkan aliran pahala dan kebaikannya sampai hari kiamat.

DKM Al-Muhajirin, in syaa Allah, bertekad untuk mengembangkan dakwah Islamiyah yang lebih luas dan inovatif. Terutama dakwah yang lebih memberi makna dan manfaat pada lingkungannya, khsusnya terhadap kehidupan kaum fakir miskin, anak yatim/piatu dan anak2 putus sekolah. Mereka akan diberikan pendidikan agama Islam dan keterampilan dengan harapan kelak mereka bisa mandiri dalam menjalani kehidupannya.


Harapan besar itu pada tahap awal akan dituangkan dalam pengadaan tanah untuk selanjutnya akan dibangun Rumah Tahfidz dan Madrasah.

Kebetulan disamping Masjid Al-Muhajirin ada tanah yang mau dijual seluas 1.161 m2. DKM Al-Muhajirin, melalui Ketuanya H Sigit Tjiptono, telah menghubungi pemiliknya serta disampaikan maksud dan tujuannya sekaligus dilakukan negosiasi harga. Pemiliknya sangat memahami dan menyetujui. Soal harga, kabarnya, bisa dibicarakan selanjutnya. Yang pasti dengan harga yang miring. Kita berdo'a semoga pemilik tanah turut memberikan donasi wakafnya setengah dari harga tanah. Aamiin...

Untuk itu DKM Al-Muhajirin telah mempersiapkan tahap awal dengan membentang spanduk. Tujuannya tentu untuk mencari para donatur. Teknisnya, mungkin akan dicari 500 donatur dengan nominal wakaf Rp 10.000.000,- (sepuluh juta rupiah). Nominal santunan wakaf ini boleh diserahkan secara cash atau dicicil selama dua tahun. Jika dana wakaf ini sudah terkumpul maka, in syaa Allah, akan diperoleh dana sebesar Rp 5.000.000.000,- (lima milyar rupiah). Tidak menutup kemungkinan juga terpanggilnya para Donatur VIP dengan besar santunan yang tak terbatas.
Dengan dana wakaf sebesar itu, maka in syaa Allah 50% untuk pembelian tanah dan 50% lagi untuk pembangunan gedung.
Untuk peminat sebagai donatur silahkan dapat berhubungan atau berkonsultasi dengan Ketua DKM Al-Muhajirin Antapani Kidul, H Sigit Tjiptono, di No HP: 0811231430.

Mengapa harus berwakaf

WAKAF tidak menghabiskan harta, justru mengekalkan harta dan menjadi jalan untuk meraih ridha dan ampunan-Nya, karena nilai manfaatnya tidak hanya dinikmati di dunia saja, tapi juga dipetik hingga di akhirat nanti.

Wakaf termasuk amal ibadah yang istimewa bagi kaum muslim, karena pahala amalan ini bukan hanya dipetik ketika pewakaf masih hidup, bahkan pahalanya juga tetap mengalir terus meskipun pewakaf telah meninggal dunia. Semakin banyak orang yang memanfaatkannya, maka semakin bertambah pula pahalanya

Wakaf tak hanya mendatangkan manfaat bagi pewakaf, tapi juga penerima wakaf. Karena saat kita melepas harta sebagai wakaf, maka bulir-bulir kebaikan dan manfaat akan lahir seiring pahala yang terus mengalir.

Pahala WAKAF Mengalir Deras Hingga Akhirat

Wakaf berasal dari perkataan Arab “al-waqf” yang bermakna “al-habsu” (الْحَبْسُ) atau al-man’u (اَلْمَنْعُ) yang artinya menahan, berhenti, diam, mengekang atau menghalang. Apabila kata tersebut dihubungkan dengan harta seperti tanah, binatang dan yang lain, ia berarti pembekuan hak milik untuk faedah tertentu.

Adapun secara istilah syariat (terminologi), wakaf berarti menahan hak milik atas materi harta benda (al-‘ain) dari pewakaf, dengan tujuan menyedekahkan manfaat atau faedahnya (al-manfa‘ah) untuk kebajikan umat Islam, kepentingan agama dan atau kepada penerima wakaf yang telah ditentukan oleh pewakaf.

Dengan kata lain, wakaf menahan asalnya dan mengalirkan hasilnya. Orang yang berwakaf berarti melepas kepemilikan atas harta yang bermanfaat, dengan tidak mengurangi bendanya untuk diserahkan kepada perorangan atau kelompok agar dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan yang tidak bertentangan dengan syariat.

Dengan cara ini, harta wakaf dapat dipergunakan untuk mengatasi berbagai permasalahan sosial demi kemaslahatan umat secara berkelanjutan tanpa menghilangkan harta asal: mulai dari pendidikan, kesehatan, ekonomi mikro, sarana transportasi, tempat ibadah, sarana kegiatan dakwah dan sebagainya. Dengan wakaf nilai kekayaan kekal, manfaat dan kebaikannya akan terus bertambah.

Harta wakaf hanya berhak digunakan dan dimanfaatkan tanpa berhak memilikinya. Berbeda dengan zakat yang boleh dimiliki individu dan diperjualbelikan.

Muslim yang berwakaf bukan saja mendapatkan pahala saat memberikan wakaf, tetapi akan terus mendapat kucuran pahala selama benda yang diwakafkannya dimanfaatkan orang lain meskipun pewakaf tersebut sudah meninggal dunia.

(Inilah tanah yang yg luasnya 1161 m2, yang in syaa Allah, akan dibangun
Rumah Tahfiz dan Madrasah)


(Lokasinya sangat strategis karena berada berdampingan dengan
lokasi Masjid Al-Muhajirin. Jadi jangan ragu untuk menjadi Pewakaf)


Rabu, 05 Juni 2019

Dari Khutbah Shalat Idul Fitri Al-Muhajirin: SIapa Orang Sukses di Bulan Ramadhan?

(Ustadz Imam didampingi Ketua DKM Al-Muhajirin,
H. Sigit Tjiptono dan Ketua Panitia Idul Fitri,
H. Hasan Munawar)
(Ustadz Imam Firdaus, S.Pdi, Imam/Khatib
Shalat Idul Fitri di Masjid Al-Muhajirin
RW-10, Antapani Kidul)

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ
اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ وَفَّقَنَا ِلإِتْمَامِ شَهْرِ رَمَضَانَ وَأَعَانَناَ عَلىَ الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ وَجَعَلَنَا خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ للِنَّاسِ. نَحْمَدُهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَهِدَايَتِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُ الْمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ خَاتَمُ النَّبِيِّيْنَ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، وَأَحُسُّكُمْ عَلَى طَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ شَهْرُ رَمَضانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّناتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahilh hamd,

Lebaran atau momen Idul Fitri hampir selalu diwarnai dengan gegap gempita dan kegembiraan tersendiri bagi seluruh umat Islam di berbagai penjuru tanah air. Gema takbir dikumandangkan di malam harinya, kadang disertai irama musik atau beduk yang bertalu-talu. Pada pagi harinya mayoritas dari kita mengenakan pakaian serba baru, kemudian berduyun-duyun menuju lapangan untuk melaksanakan sholat Iedul Fitri. Tak jarang pula dilanjutkan dengan bepergian untuk bersilaturahim ke sanak kerabat dan handai taulan.

Namun siapakah sesungguhnya orang yang sukses di bulan ramadhan itu ? Menurut Imam/khatib Shalat Idul Fitri di Masjid Al-Muhajirin Antapani Kidul, Ust. Imam Firdaus, SPdi, bahwa orang yang sukses di bulan ramadhan itu adalah orang yang mengetahui keutamaann ramadhan, adalah mereka mengetahui tentang keutaman shiam, tentang keutamaan beramal kepada orang yang berpuasa, kepada orang yang sedang beritikaf, keutamaan membaca Alquran, dan keutamaan amalan2 lainnya yang disertai atau dibuktikan dalam amalan perbuatan nyata.

Dalam Surat An Nahl ayat 92:

وَلاَ تَكُونُواْ كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِن بَعْدِ قُوَّةٍ أَنكَاثًا

“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, kemudian menjadi cerai berai kembali.” (QS. An Nahl: 92)

Artinya bahwa kita boleh berpisah dengan ramadhan secara waktu tapi jangan sekali-kali kita berpisah dengan ramadhan secara amal shaleh.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahilh hamd,

Menurut Ust. Imam, dalam khutbahnya yang berlangsung di halaman Masjid Al-Muhajirin, Antapani Kidul RW-10 Antapani, bahwa ada 3 kriteria orang-orang sukses di pasca ramadhan sehingga termasuk orang-orang istimewa, yakni:

Pertama, Orang yang senantiasa tersadar saat terlena. Kedua, Dia senantiasa bangun saat orang lain terlelap dalam tidur; dan Ketiga, adalah orang-orang yang senantiasa bermujahadah kepada Allah Shubhanahu Wa Ta'ala, saat orang lain menjadi lemah.

“Dalam hadist, wahai sekalian manusia kita dipanggil Rasulullah Shallallahu Allaihi Wasallam untuk senantiasa menyebarkan salam, senantiasa berbagi dan tetaplah menegakkan qiyamul lail.”

Sebulan sudah kita telah berupuasa, berqiyamul lail, bertilawatil quran, bersodaqoh zariah. Maka amalan-amalahn baik itu jangan hanya terjadi di bulan ramadhan saja. Dalam bulan syawal dan bulan-bulan berikutnya harus juga dijalankan. Terutama dalam bulan syawal ini kita masih diberikan kesempatan untuk beramal shalih untuk melanjutkan puasa enam hari di bulan syawal. Sedangkan untuk bulan2 berikutnya ada shaum senin kamis, shaum pertengahan bulan, shaum Arafah dan shaum-shaum lainnya sebagai ladang amal kita sebagai bekal kita untuk di akhirat.


Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« اقْرَإِ الْقُرْآنَ فِى شَهْرٍ » . قُلْتُ إِنِّى أَجِدُ قُوَّةً حَتَّى قَالَ « فَاقْرَأْهُ فِى سَبْعٍ وَلاَ تَزِدْ عَلَى ذَلِكَ »

“Bacalah (khatamkanlah) Al Quran dalam sebulan.” ‘Abdullah bin ‘Amr lalu berkata, “Aku mampu menambah lebih dari itu.” Beliau pun bersabda, “Bacalah (khatamkanlah) Al Qur’an dalam tujuh hari, jangan lebih daripada itu.” (HR. Bukhari No. 5054).

Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahilh hamd,

Berbagai macam ibadah di bulan ramadhan ini, tutur Ustadz Imam, pada akhirnya bagaimana hingga dapat membentuk ahlak kita menjadi pribadi yang berahlak mulia. Jadi tujuan akhir paling sempurnya adalah ketika akhlak kita menjadi lebih baik, baik kepada Allah Shubhanahu Wa Ta’ala maupun kepada sesama kita, terutama dengan orang-orang sekitar lingkungan kita. Dan tentu saja yang sebaik-baiknya dari kita adalah orang yang berlaku baik kepada seluruh anggota keluarganya. 


Semoga di pasca ramadhan ini setiap suami menjadi lebih sayang kepada istrinya begitu juga orang tua yang semakin sayang pada anak-anaknya. Begitupun rasa saling toleran kepada tetangga yang dilandasi oleh saling tolong menlong dalam perbuatan baik dan janganlah kalian saling tolong menolong dalam perbuatan dosa.Akhirnya firman Allah SWT, dalam Surat An-Nahl Ayat 19:

وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تُسِرُّونَ وَمَا تُعْلِنُونَ

(Wallāhu ya'lamu mā tusirrụna wa mā tu'linụn)

Dan Allah mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan. Terjemahan Tafsirnya: "Dan Allah mengetahui seluruh amal perbuatan kalian, baik yang kalian rahasiakan pada jiwa kalain maupun yang kalian tampakkan kepada orang lain, dan Dia akan memberikan balasan kepada kalain atas perbuatan-perbuatan tersebut."
Atau dengan tafsir yang lain, siapa yang beramal sholeh maka amal tersebut akan menjadi miliknya, dan siapa yang beramal buruk maka amal tersebut akan menghujat dirinya.

Laporan kegiatan Idul Fitri

Sebelum shalat Idul Fitri, Ketua Panitia Idul Fitri, Hasan Munawar, menyampaikan laporan kegiatan selama ramadhan, antara lain selain kegiatan tajil yang dilaksanakan sebulan penuh, juga kegiatan sholat tarawih dan tausyiah yang menghadirkan dosen-dosen dari UIN, Al-Gifari, Al-Imarot, Ustadz2 dari Pusdai, Tarqi Bandung, dll.

Pelaksanaan sholat malam pada 10 terakhir ramadhan diimami oleh para tahfizh qur’an yang diikuti para jamaah yang melaksanakan Itikaf (jumlah peserta iitifaf 25 orang, 13 diantaranya adalah anak-anak) dan jamaah lainnya yang turut hadir khusus menghadiri qiyamul lail yang berlangsung mulai pukul 02.00 s/d selesai. Selain itu juga sumbangan tajil per hari yg diberikan di jalan-jalan melalui kegiatan BKMT.

Dilaporkan pula oleh H. Hasan Munawar, yakni pemasangan paving block seluas 350 m2 untuk sholat Idul Fitri ibu-ibu yang menghabiskan biaya sekitar Rp 51 juta rupiah. Dana ini diperoleh hasil dari sumbangan para jamaah Al-Muhajirin. "Jazakumullah khairon Katsiro kepada para donatur yang telah memberikan sumbangan wakafnya," ucap Hasan.

Adapun Titipan Zakat fitrah yang telah diterima berupa beras mencapai 138 bungkus/paket/per 2,5 kg yang sudah dilaksanakan pembagiannya setelah sholat shubuh.

Titipan Zakat fitrah berupa uang uang sebesar Rp 24.655.000,-..sebagian besar diantaranya telah dikonversikan ke beras atau mencapai sebanyak 720 bungkus.

Titipan Zakat Maal yang diterima sebesar Rp 18.287.000, titipan infak dan sodaqoh Rp 14.352.500,- serta titipan fidyah sebesar Rp 4.760.500,-

Dengan demikian total titipan zakat firah, zakat Maal, Infak Sodakoh dan fiidyah mencapai Rp 62.864.500,-

Ucapan khusus terima kasih kepada seluruh Panitia, baik yang telah terlibat langsung maupun tidak langsung, terutama ibu-ibu yang dengan telah begitu telaten melayani para jamaah baik dalam pelayanan pengadaan tajil maupun kepada  jamaah yang sedang beritikaf.

Begitu juga kepada para jamaah yang telah dengan sukarela membantu melakukan pembagian zakat fitrah dalam waktu singkat, namun tetap dapat terkendali dengan bak dan aman. Jazakumullah khairon katsiro,” tutup Ketua Panitia. (**nas)

17 Goweser Waspada Kesehatan Pasca Idul Qurban

(berpose di Depan Kantor Dinas Teritorial Bandara Husen Sastranegara) (Rest Pertama di Gedung Sebelah Hotel Homan) Tujuh belas goweser RW-10...