Sabtu, 15 Desember 2018

20 Kiat Terhindar dari Futur

Futur adalah satu penyakit yang sering kali menyerang sebagian ahli ibadah, para da’i, dan penuntut ilmu, sehingga seseorang menjadi malas, enggan dan lamban. Bahkan terkadang berhenti sama sekali dari melakukan aktivitas kebaikan, dimana sebelumnya ia sangat rajin, bersungguh-sungguh dan penuh semangat.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ لِكُلِّ عملٍ شِرَّةً ، ولِكُلِّ شِرَّةٍ فترةٌ ، فمنْ كان فترتُهُ إلى سنتي فقدِ اهتدى ، ومَنْ كانَتْ إِلى غيرِ ذَلِكَ فقدْ هَلَكَ

"Sesungguhnya setiap amal itu mempunyai masa semangat, dan setiap masa semangat mempunyai masa jenuh. Maka barangsiapa masa jenuhnya kepada "SUNNAHKU" maka sungguh ia telah mendapat petunjuk, dan barangsiapa masa jenuhnya kepada yang selain itu (BID'AH), maka sungguh ia telah binasa"

*(HR. Ahmad no. 6764, Ibnu Khuzaimah no. 2105 dan Ibnu Hibban no. 11, hadits dari Abdullah bin 'Amr, Shahiihul Jaami' no. 2152)*

إِنَّ لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةً ثُمَّ فَتْرَةً فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى بِدْعَةٍ فَقَدْ ضَلَّ وَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى سُنَّةٍ فَقَدِ اهْتَدَى

"Sesungguhnya setiap amal itu mempunyai masa semangat dan masa jenuhnya. Maka barangsiapa yang masa jenuhnya kepada "BID'AH", maka sungguh ia telah tersesat, dan barangsiapa yang masa jenuhnya kepada "SUNNAH" (ajaran Rasul), maka sungguh ia telah mendapat petunjuk"
*(HR. Ahmad V/409, lihat Ashlu Shifatish Sholaah II/524)*

Insya Allah agar tidak mudah futur, maka hendaknya melakukan berbagai macam cara agar seseorang mampu menguatkan iman dan memotivasi semangat beramal, yaitu :

(01). Selalu berusaha mengikhlaskan niat
(02). Selalu beramal shalih yang syar'i
(03). Selalu menuntut ilmu yang bermanfaat
(04). Dunia di tangan dan akhirat di hati
(05). Meninggalkan dosa dan maksiat
(06). Rumah tinggal di lingkungan yang baik
(07). Membaca siroh Nabi dan salafush shalih
(08). Bersabar menjalankan sunnah (syariat)
(09). Tidak menyendiri (selalu shalat berjama’ah)
(10). Sering melihat tanda kekuasaan Allah
(11). Sering mengingat adzab Allah yang pedih
(12). Berteman dengan orang-orang yang shalih, bertaqwa dan terlihat sekali pada diri mereka rasa takut yang tinggi kepada Allah, karena teman sangat berpengaruh terhadap agama, akhlak dan ibadah seseorang.
(13). Berusaha memiliki pasangan hidup yang shalih atau shalihah, yang akan membantu dan mengingatkan kepada Allah Ta'ala
(14). Mencari guru yang nasihatnya selalu membekas, dan memberikan sentuhan rasa takut kepada Allah, serta ingat akan akhirat
(15). Sering mendatangi majelis ta'lim yang khusus membahas tentang tazkiyatun nafs, yang diharapkan dapat menggugah dan menggetarkan jiwa

(16). Sering membaca kisah-kisah akhir hayat dan siksa kubur dari pelaku dosa dan maksiat serta penghuni Neraka

(17). Sering ziarah kubur untuk mengingat kematian, melihat orang sakit yang sedang sakaratul maut, tertimpa musibah dll

(18). Selalu memanfaatkan waktu untuk perkara yang bermanfaat, dan tidak melihat atau mendatangi sesuatu yang bisa menyebabkan iman tergoda.

(19). Banyak berdoa agar istiqamah, membaca istighfar dan dzikir, serta berlindung kepada Allah dari gangguan syaitan

(20). Beristirahat beberapa saat dengan tetap terus menjaga diri dari kemaksiatan. Misalnya refreshing untuk mengembalikan semangat, berwisata bersama keluarga dll

Dzun Nun rahimahullah (w 246 H) berkata :

سقم الجسد في الاوجاع و سقم القلوب في الذنوب ، 
فكما لا يجد الجسد لذَّةَ الطعام عند سقمه ، كذلك لا يجد القلبُ حلاوةَ العبادة مع الذنوب

"Jasad sakit karena penyakit, dan hati sakit karena dosa. Maka sebagaimana jasad tidak akan bisa merasakan lezatnya makan ketika sakit, begitu pula dengan hati, ia tidak mampu mengecap nikmatnya ibadah karena berbagai dosa" (Shifatus Shafwah IV/316).

Sumber kajian: Mulia dengan Sunnah

Kamis, 06 Desember 2018

Cara Allah memberikan apresiasi

Seberapapun Usaha di dalam Ketaatan, Allah Akan Memberikan Apresiasi"*

عَنْ أنس رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فيما يرويه عن ربّه عز وجل قَالَ
: إِذَا تَقَربَ العَبْدُ إلَيَّ شِبْرًا تَقَربْتُ إِلَيْه ذِرَاعًا،
 وَإِذَا تَقَرَّبَ إلَيَّ ذِرَاعًا تَقَربْتُ مِنهُ بَاعًا، وِإذَا أتَانِي يَمشي أتَيْتُهُ هَرْوَلَةً . [رواه البخاري]

Artinya :

Dari Anas ra. dari Nabi s.a.w. dalam sesuatu yang diriwayatkan dari Tuhannya 'Azzawajalla, firmanNya - ini juga Hadits Qudsi :_

"Jikalau seseorang hamba itu mendekat padaKu sejengkal, maka Aku mendekat padanya sehasta dan jikalau ia mendekat padaKu sehasta, maka Aku mendekat padanya sedepa._

Jikalau hamba itu mendatangi Aku dengan berjalan, maka Aku mendatanginya dengan bergegas-gegas."(Riwayat Bukhari).*


Pelajaran yang terdapat pada hadits di atas :*

1. Hadits yang tercantum di atas itu adalah sebagai perumpamaan belaka, baik bagi Allah atau bagi hamba-Nya.

Jadi maksudnya ialah barangsiapa yang mengerjakan ketaatan kepada Allah sekalipun sedikit, maka Allah akan menerima serta memperlipat-gandakan pahalanya, juga pelakunya itu diberi kemuliaan oleh-Nya selama di dunia sampai di akhirat.

2. Makin besar dan banyak ketaatannya, makin pula besar dan bertambah-tambah pahalanya.

3. Manakala cara melakukan ketaatan itu dengan perlahan-lahan, Allah bukannya memperlahan atau memperlambatkan pahalanya, tetapi bahkan dengan segera dinilai pahalanya itu dengan penilaian yang luar biasa tingginya.

4. Ketaatan (kebenaran, kebaikan) pertama kali harus dipaksakan.

Siapa yang memaksakan? dirinya sendirilah yang harus berupaya dengan kesungguhan hati.

Kalau sudah menjadi kebiasaan dan masuk sebagai irama hidup semuanya akan mudah, itulah taufik Allah kepadanya.

5. Tatkala bertambah ketaatan seseorang maka ditambah pahala dan dipercepat rahmat serta karunia dari-Nya.

Tema hadits yang berkaiatan dengan ayat Al-Qur'an :*

1. Mujahadah;

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ ۞

Artinya :
"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami._

Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik."_
[QS. Al-Ankabuut: 69]*

2. Nilai kebaikan di sisi Allah SWT.;

وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا ۚ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ ۞

Artinya :
"Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya._

Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."[QS. Al-Muzzammil: 20]*

*والله اعلم بالصواب...*

Semoga kita selalu mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan dimudahkan untuk beramal sholeh.*
Hanya Allah-lah yang memberi taufik dan hidayah...*

Minggu, 02 Desember 2018

DKM Almuhajirin Giatkan Olahraga Memanah


Alasan anjuran memanah bagi Muslim dalam hadist Rasul ditegaskan dengan jelas. 

"Kelak negeri2 akan ditaklukan untuk kalian, dan Allah mencukupkan itu semua atas kalian, maka janganlah salah seorang diantara kalian merasa malas untuk memainkan panahnya". (HR Muslim 1918)

Tinggal kita harus menanggapi dengan serius berupa perbuatan untuk menyambut keutamaan nya karena terkait dengan persiapan berjihad membela dan meninggikan DinuI Islam.

"Setiap permainan laghwun yang dilakukan seorang muslim adalah bathil, kecuali ketika dia melemparkan panah dengan busurnya, ketika ia melatih kudanya, dan bercanda dengan istrinya. Ketiga hal ini adalah al-haq."(HR Tirmidzi, beliau berkata, "hadits hasan shahih.").

 Untuk itulah mengapa di lingkungan DKM Al-Muhajirin RW-10 Antapani Kidul, sejak Okotber 2018, mulai menggiatkan olahraga memanah. Tujuannya, seperti yang disampaikan Ketua DKM Al-Muhajirin, Sigit Tjiptono, dalam rangka merespon secara nyata hadist Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam untuk menggiatkan olahraga memanah, selain tentu saja sebagai ajang silalturahmi dan penunjang kebugaran fisik para jamaah Almuhajirin Antapani Kidul.

Peserta, menurut Sigit, tentu saja terbuka bagi siapapun yang berminat pada olahraga memanah ini, terutama bagi para jamaah Masjid Almuhajirin RW-10 Antapani Kidul, baik bagi  jamaah anak2, remaja dan dewasa. Dan semuanya diberikan secara gratis, baik sarana maupun prasarana penunjangnya.

Untuk mempercepat kemahiran memanah, lanjut Sigit, bahkan harus menadatangkan tim Pelatih Olahraga Memanah Kota Bandung. Tempatnya pun dalam area yang sangat memadai yakni di lapangan taman belakang Masjid Al-Muhajirin, Jl Jayapura, Antapani.

Sigit mengimbau agar olahraga yang dianjurkan Rasulullah ini dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh para jamaah.

Memanah, Hiburan Mengantarkan ke Jannah
Berlatih memanah adalah olah raga yang menyenangkan, permainan yang mengasyikkan, namun tidak dianggap laghwun dan sia-sia. Banyak sekali motivasi Nabi SAW kepada umatnya untuk belajar memanah. Di antaranya, sabda Nabi saw,

"Sesungguhnya Allah akan memasukkan tiga orang ke dalam jannah karena satu anak panah, orang yang membuatnya dengan tujuan baik, orang yang melemparkannya dan orang yang menyiapkannya. Hendaklah kalian memanah dan berkuda, sedangkan memanah lebih aku sukai daripada berkuda." (HR Tirmidzi, beliau mengatakan, hadits hasan shahih)

Ada pahala bagi yang membuat panah, ada ganjaran bagi yang melemparkan panah, dan dijanjikan Jannah orang yang menyiapkan anak panah bagi yang hendak memanah, dan tidak sia-sia pula orang yang berjalan untuk mengambil anak panah dari tempat sasaran ketika latihan. Inilah sisi yang tidak tergantikan dari keutamaan memanah, meskipun dalam banyak hal fungsi panah bisa diganti dengan senjata-senjata modern.

Begitu kuat anjuran Nabi SAW kepada umatnya untuk belajar memanah, hingga banyak keringanan khusus yang berlaku bagi orang yang memanah. Suatu kali Nabi bersama Abu Bakar dan Umar melewati orang-orang yang berlatih memanah. Salah seorang yang hendak melepaskan anak panah berkata, "Demi Allah, ini pasti kena!" Ternyata panahnya meleset. Lalu Abu Bakar berkata, "ia telah melakukan dosa wahai Rasulullah!" Tapi Rasulullah bersabda,

"Sumpahnya orang yang sedang berlatih memanah itu tidak dianggap laghwun, tidak berdosa dan tidak ada kafarahnya." (HR. Thabrani)

Bahkan berjalannya seseorang untuk mengambil anak panah, dari tempat memanah dengan sasaran bernilai satu kebaikan pada setiap langkahnya, sebagaimana hadits Thabrani. Ini tidak berlaku dalam permainan yang lain.

Dari sisi hiburan, permainan ini juga menghibur, dan mungkin ada bumbu canda ria di dalamnya. Imam al-Auza'y menyebutkan kesaksian dari Bilal bin Sa'ad tentang para sahabat yang beliau lihat, "Saya menjumpai suatu kaum, mereka mondar mandir antara tempat memanah dengan sasaran, mereka saling bercanda satu sama lain, namun ketika malam tiba, mereka khusyuk laksana para rahib."

Sayang, hanya sedikit dari kaum muslimin yang melirik pada permainan yang menyenangkan dan berpahala ini, sedikit pula para mubaligh dan penulis yang memiliki perhatian dalam masalah ini.

Ibnul Qayyim al-Jauziyah, adalah satu dari ulama yang memiliki perhatian besar tentangnya. Dalam buku karya beliau yang berjudul Al-Furusiyah, beliau bukan saja memberikan motivasi, membahas hukum-hukum yang terkait dengannya, bahkan sampai soal teknis bagaimana cara duduknya, cara memegang busur, menarik talinya, membidiknya, hingga cara melepas anak panah dari busurnya. (*dari berbagai sumber//nas)

17 Goweser Waspada Kesehatan Pasca Idul Qurban

(berpose di Depan Kantor Dinas Teritorial Bandara Husen Sastranegara) (Rest Pertama di Gedung Sebelah Hotel Homan) Tujuh belas goweser RW-10...