Minggu, 04 November 2018

Donasi Al-Muhajirin untuk Palu, Sigi dan Donggala

Penyerahan donasi Jamaah Al-Muhajirin sebesar Rp 20.163.000 melalui
Wahdah Islamiah Jawa Barat
Belum hilang duka terjadinya gempa Lombok dua bulan sebelumnya, gempa kembali mengguncang Sulawesi Tengah. Bahkan harus diikuti dengan tsunami dahsyat yang sanggup meluluh-lantakan kota  Palu,   Sigi     dan Donggala.



Foto bersama Jamaah Al-Muhajirin sesaat setelah penyerahan donasi
Gempa dengan magnitudo 7,4 SR yang diikuti tsunami setinggi tiga meter itu memang menyisakan duka yang mendalam. Tidak terkecuali duka yang dirasakan jamaah masjid Al-Muhajirin, Antapani Kidul.
Tak ayal lagi detik-detik menjelang peringatan HUT ke-40 Kota Palu pada Jumat 28 September 2018 buyar. Tsunami menerjang semua persiapan perayaan di bibir pantai. Kota Palu, Sigi dan Donggala pun porak-poranda. Sesaat kemudian suasana pun menjadi hening dan mencekam.

Sebagai wujud keprihatinan, jamaah Al-Muhajirin telah menggalang dana sejak tanggal 1 sd 15 Oktober hingga terkumpul Rp 20.163.000 (dua puluh juta seratus enam puluh tiga ribu rupiah). Donasi pun kemudian disalurkan melalui Wahdah Islamiah Jawa Barat.

Pada Sabtu, ba'da shubuh (3/11), H Anda Suhanda yang mewakili jamaah Al-Muhajirin, menyerahkan donasi kepada Ustadz Wawan Kurniawan, sebagai pimpinan Wahdah Islamiah kota Bandung. Penyerahan donasi disaksikan oleh Wakil Ketua DKM Al-Muhajirin, H Mukhlis Effendi dan Ustadzah Lilis Solehudin mewakili majelis taklim ibu-ibu dan jamaah Al-Muhajirin.

Menurut Ketua DKM Al-Muhajirn, H Sigit Tjiptono, program bantuan bencana alam ini merupakan kegiatan rutin DKM, terutama jika terjadi gempa bencana yang menimpa saudara-saudara kita.

Alhamdulillah, lanjut Sigit, donasi untuk bencana Palu, Sigi dan Donggala ini jumlahnya dua kali lipat dibanding donasi sebelumnya untuk gempa Lombok sebesar Rp 10 juta yang telah diserahkan melalui HU Pikiran Rakyat.

Adapun perkembangan terakhir menurut Juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho dalam jumpa pers Rabu (3/10) siang, mengungkapkan, sebagian korban tewas sudah dimakamkan secara masal."Sementara yang luka berat ada 2.549 orang, yang hilang ada 113 orang, dan yang tertimbun 152 orang. Adapun pengungsi jumlahnya lebih dari 73.000 orang," kata Sutopo.

Para korban tewas itu tercatat 1.177 yang ditemukan di Palu, 153 orang ditemukan di kabupaten Donggala, 65 orang ditemukan di Kabupaten Sigi dan 12 orang di Kabupaten Parigi Moutong. (nas/).

Jumat, 02 November 2018

Kisah tanah dan bangunan yang tertelan bumi menurut Alqur'an


SETELAH gempa 7,4 SR dan tsunami yang mengerikan. Tiba-tiba saja di sebagian wilayah, tanah yang tadinya keras, jadi bergerak, amblas dan mengalir seperti lumpur hidup. Rumah, pepohonan dan bangunan lainnya terseret tanah.

Satu kampung di kelurahan Petobo, Kota Palu, dikabarkan lenyap di telan tanah. Begitu juga kabar dari Desa Joonoge, Biromaru, Kabupaten Sigi. 

Foto udara rumah-rumah warga yang hancur dan tertelan bumi akibat gempa 7,4 SR di Perumnas Balaroa, Palu, Sulawesi Tengah, Senin (1/10/2018)
Analisis awal fenomena ini adalah karena likuifaksi atau pencairan tanah (bahasa Inggris: soil liquefaction). Likuifaksidisebabkan guncangan gempa dan kondisi material geologi yang ada di tanah juga ikut mempengaruhi. Ketika guncangan terjadi, tanah menjadi cair karena material air yang tinggi.

Dalam volume air yang besar tanah menjadi gembur. Akibatnya, perumahan dan pohon, itu berjalan pelan-pelan sampai akhirnya amblas dan tertimbun oleh lumpur.

Dengan kata lain, likuifaksi merupakan proses keluarnya lumpur dari lapisan tanah akibat guncangan gempa dan menyebabkan lapisan tanah yang awalnya kompak, bercampur dengan air menjadi lumpur. Kekuatan tanah yang berkurang mengakibatkan bangunan di atasnya hancur.

Dalam mekanika tanah , istilah “pencairan tanah” pertama kali digunakan oleh Allen Hazen, mengacu pada kegagalan Bendungan Calaveras di California tahun 1918. Dia menggambarkan mekanisme pencairan aliran bendungan tanggul sebagai:

“Jika tekanan air di pori-pori cukup besar untuk membawa semua beban, itu akan memiliki efek menahan partikel-partikel terpisah dan menghasilkan kondisi yang praktis setara dengan ‘‘pasir hisap’’ … gerakan awal dari beberapa bagian dari material mungkin menghasilkan tekanan yang terakumulasi, pertama pada satu titik, dan kemudian pada yang lain, berturut-turut, karena titik awal konsentrasi telah dicairkan.” [Hazen, A. (1920).Transactions of the American Society of Civil Engineers. 83: 1717–1745].

‘‘Pasir hisap’’ terbentuk ketika air menjenuhkan area pasir yang longgar dan pasir menjadi gelisah. Ketika air yang terperangkap di dalam tumpukan pasir tidak dapat melarikan diri, ia menciptakan tanah cair yang tidak dapat lagi menahan gaya. ‘pasir hisap’ dapat dibentuk dengan berdiri atau (ke atas) mengalir air bawah tanah (seperti dari mata air bawah tanah), atau oleh gempa bumi. 

Dalam kasus mengalirnya air bawah tanah, kekuatan aliran air menentang gaya gravitasi, menyebabkan butiran pasir menjadi lebih ringan. Dalam kasus gempa bumi, kekuatan goncangan dapat meningkatkan tekanan air tanah dangkal, mencairkan pasir dan endapan lumpur. Dalam kedua kasus, permukaan yang dicairkan kehilangan kekuatan, menyebabkan bangunan atau benda lain di permukaan itu tenggelam atau jatuh.




Ratusan rumah di Petobo Palu hancur dan terendam lumpur hitam akibat gempa [SAR-HID]Beberapa Negara yang pernah mengalami nasib serupa adalah; Gempa Niigata di Jepang.

Gempa berkekuatan 7,6 SR yang mengguncang Niigata, Jepang pada 16 Juni 1964 ini, menyebabkan pencairan tanah di sebagian besar kota. Selain bangunan yang hancur akibat likuifaksi di sisi Sungai Shinano, ada juga kerusakan yang luas di dekat Bandara Niigata. Pipa-pipa dari tangki bensin milik Showa Shell Sekiyu di antara bandara dan pelabuhan, juga rusak karena goncangan. Sedikitnya 36 orang tewas dan 3.534 bangunan hancur.

Kasus likuifkasi dalam gempa Alaska, AS tahun 1964. Gempa megathrust berkekuatan 9,2 SR memicu tsunami besar yang memporak-porandakan kawasan pesisir di Shoup Bay. Lapisan tanah mencair menyebabkan bangunan-roboh dan ambles. Sedikitnya 139 orang tewas dalam kejadian ini.




Likuifaksi di Alaskah tahun 1964 [wiki]Selain itu juga pernah terjadi di Tangshan China, 28 Juli 1976, Gempa Loma Prieta, San Fransisco, AS, 17 Oktober 1989. Gempa ini terjadi akibat pergeseran sesar San Andreas. Juga pada Gempa Christchuch, Selandia Baru, pada 22 Februari 2011 pukul 12.51 waktu setempat. Episentrum gempa sekitar 2 km sisi barat kota kecil Lyttelton dengan kedalaman 5 km. Gempa Bumi ini menimbulkan kerusakan besar, terutama di Christchurch, kota terdekat dari episentrum gempa sekaligus kota terbesar kedua di Selandia Baru.

Tanah dan Bangunan Tenggelam dalam al-Quran

Bila fenomena likuifaksi atau tanah menjadi lumpur hidup yang menyedot semua yang ada di atasnya ini ramai diperbincangkan di khalayak ramai saat ini, bukanlah fenomena alam yang baru. Ternyata dalam Al-Qur’an, ada peringatan bencana yang dijelaskan selain gempa bumi, banjir, angin kencang dan bencana lainnya.

Al-Qur’an juga menjelaskan secara jelas fenomena bencana pergerakan tanah amblas yang menenggalamkan semua yang ada di atasnya atau sederhananya; ditenggelamkan bumi.

Hanya saja, ayat yang mengaitkan fenomena alam ini pernah dikutip al-Quran dalam kisah Nabi Luth yang dijelaskan dalam Surat Al-Syua’araa: 160, An-Naml: 4, Al-Hijr: 67, Al-Furqon: 38, Qaf: 12, menceritakan tentang kaumnya yang menyimpang, yaitu hanya mau kawin dengan pasanga sesama jenis (homoseksual dan lesbian).

Kendati sudah diberi peringatan, mereka urung bertobat. Allah akhirnya memberikan azab kepada mereka berupa gempa bumi disertai angin kencang dan hujan batu sehingga hancurlah rumah-rumah mereka. Dan, kaum Nabi Luth Allah tenggelamkan ke dalam bumi bersama reruntuhan rumah-rumah mereka sendiri.

Kemudian kisah Qorun yang Allah jelaskan QS Al-Qashash: 81. Al-Qur’an menjelaskan, karena sombong dan ingkar, Qorun yang merupakan kaum Nabi Musa, Allah hancurkan beserta semua harta-hartanya dengan menenggelamkannya kedalam bumi.

لَعَمْرُكَ إِنَّهُمْ لَفِي سَكْرَتِهِمْ يَعْمَهُونَ ، فَأَخَذَتْهُمُ الصَّيْحَةُ مُشْرِقِينَ ، فَجَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ

“Sungguh mereka terombang-ambing dalam kemabukan mereka (kesesatan). Maka mereka dibinasakan oleh suara keras ketika matahari akan terbit. Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari sijjil.” (QS. Al-Hijr [15]: 72-74).

فَخَسَفْنَا بِوِ وَبِدَارِهِ الَْْرْضَ فَمَا كَافَ لَوُ مِنْ فِئَةٍ يَػنْصُرُونَوُ مِنْ دُوفِ اللَّوِ وَمَا كَافَ مِنَ الْمُ نْتَصِرِينَ

Artinya, “Maka Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).” (QS: Al-Qashash, 81).

Al-Quran juga menjelaskan bahwa sesungguhnya gunung-gunung bukan diam, tetapi ia bergerak.

Tanda-tanda ini seharunya dikaji dan sebagai bahan renungan bersama. Sebab tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab Al-Quran.

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

الَّذِينَ يَبْخَلُونَ وَيَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبُخْلِ وَمَن يَتَوَلَّ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri, (yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir. Dan barangsiapa yang berpaling (dari perintah-perintah Allah) maka sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” [QS: Al-hadiid [57]: 22-24)

Semoga musibah gempa alam dan tanda-tanda alam yang disampaikan dalam ayat al-Quran bisa menjadi muhasabah kita semua. Bagi yang mendapat ujian, kita doakan agar tetap bersabar. Bagi kita yang tidak terkena dampaknya, semoga kita semakain peka dan peduli.

*/Rofi Munawar, dari berbagai sumber
Editor: Cholis Akbar
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !
Topik: Al Qur’an, gempa, Likuifaksi, Palu, pencairan tanah, Petobo, soil liquefaction, Tertelan Bumi,Tsunami

Rabu, 10 Oktober 2018

Krisis Air Pelanggan PDAM Antapani Kidul

Bencana krisis air untuk pelanggan PDAM Tirtawening masih berpotensi melanda wilayah Kota Bandung. Pasalnya, cadangan air baku di Situ Cipanunjang dan Situ Cileunca kembali mengalami penurunan tinggi muka air.
Menurut Kasubid Humas PDAM Tirtawening, Kota Bandung, Muhammad Indra Pribadi, muka air Situ Cipanunjang sudah turun sebanyak 1.680 sentimeter dan Situ Cileunca sebanyak 483 sentimeter dari kondisi normal.

"Tinggi muka air Situ Cipanunjang pada saat normal adalah 144.650 sentimeter di atas permukaan laut, sedangkan tinggi muka air saat ini adalah 142.970 sentimeter di atas permukaan laut. Lalu, tinggi muka air Situ Cileunca pada saat normal adalah 141.850 sentimeter di atas permukaan laut, sedangkan, tinggi muka air saat ini 141.367 sentimeter di atas permukaan laut," ujarnya.

Situ Cipanunjang saat air melimpah

Lebih lanjut Indra menjelaskan, tinggi muka air di Situ Cipanunjang berkurang sekitar 18,46 sentimeter setiap hari. Sementara tinggi muka air Situ Cileunca berkurang 6,2 sentimeter setiap harinya.

"Kemungkinan jika dalam satu bulan ke depan Bandung Raya ini tidak diberikan hujan yang cukup, maka berpotensi PDAM akan kehilangan kapasitas produksi," ujar Indra.

Kapasitas produksi PDAM bisa berkurang sampai 60 persen dari total produksi kapasitas normal. Normalnya, kapasitas produksi air berada di kisaran 2.800 liter per detik."Tentunya iini akan sangat berdampak terhadap pelayanan PDAM Tirtawening Kota Bandung," kata Indra.

Krisis Air PDAM Antapani Kidul
Krisis air PDAM Kota Bandung itu, tentu saja berdampak langsung terhadap krisis air bagi pelanggan PDAM di Antapani Kidul. Di musim kemarau pada awal Oktober ini, debit air dari pompa yang berada di Jajaway rata-rata hanya 3 liter per detik untuk menyuplay pelanggan di RW 10 & RW 15 Antapani Kidul. Padahal dengan kapasitas seperti itu  idealnya hanya mampu untuk menyuplay 300 pelanggan perumahan.

Situ Cipanunjang saat ini

Sedangkan pelanggan yang dilayani saat ini sudah lebih dari 400 pelanggan, tak mengherankan kalau aliran air ke warga pun menjadi kecil  dan tidak tentu waktunya.

Kondisi yang memprihatinkan ini mengundang inisiatif warga RW 10 Antapanai Kidul untuk melakukan pertemuan dengan jajaran PDAM. Hasil pertemuan yang dimotori Ketua DKM Almuhajirin RW-10, Sigit Tjiptono, menghasilkan beberapa solusi, antara lain sebagai berikut:

1. Dengan menyerahkan permintaan tertulis mewakili 5 pelanggan PDAM Tirtawening untuk dikirim air via mobil tanki;

2. Memasang konektor (penyambung/pipa penampung air di 5 titik, yakni di Jl. Dili, Jl. Fak-Fak, Jl. Biak, Jl. Merauke dan Jl. Manokwari), yang akan diisi air via mobil tanki PDAM. Perkiraan terpasang diupayakan dalam bulan Oktober ini.

3. Pemasangan valve alat pembagi/buka tutup air di pipa utama di Jl. Pratista Raya untuk menggilir mengalirnya air ke RW 10 & RW 15 secara bergantian.

Adapun pembagian/penjatahan distribusi air antara RW 10 dengan RW 15 baru bisa dilakukan setelah dipasang valve yg diperkirakan terpasang dlm jangka waktu 1-2 bln (hal ini sudah ada programnya di RKA PDAM 2018).

4.  Pembuatan "mini treatment"/pengolahan air hujan/air sungai dll di lokasi pompa PDAM Jajaway di th 2019 (sdh ada di RKA PDAM 2019) dalam upaya utk menambah produksi air.

5. Usulan Penarikan jaringan baru di Pratista Barat 10 (saat ini blm ada jaringan di lokasi tsb).

6. Rencana PDAM mengajukan ijin ke Kemen ESDM utk mengeksplorasi sumber air sendiri (masih planning).

Demikian info progress terakhir sebagai  ikhtiar kita dalam rangka mengatasi terjadinya krisis air pelanggan PDAM Tirtawening, khususnya di RW 10 dan RW 15 Antapani Kidul. (sumber:tribunjabar & dkmalmuhajirin.com)

17 Goweser Waspada Kesehatan Pasca Idul Qurban

(berpose di Depan Kantor Dinas Teritorial Bandara Husen Sastranegara) (Rest Pertama di Gedung Sebelah Hotel Homan) Tujuh belas goweser RW-10...