Senin, 04 Desember 2017

Pelaku Dosa Besar Bukan Kafir






Pengajian Minggu Malam, 3 Desember 2017
Masjid Almuhajirin RW-10 Antapani Kidul
Ustadz Abu Yahya

Menurut akidah Ahlus Sunnah meyakini bahwa hukum pelaku dosa be­sar tidak divonis sebagai keluar dari Islam atau kafir. Artinya, hukumannya kelak di akherat tetap berada di bawah kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika Allah menghendaki akan menyiksanya dengan keadilan-Nya atau bahkan akan mengampuninya dengan rahmat dan fadhilah-Nya. 

Namun demikian, lain halnya dengan dosa syirik yang merupakan dosa terbesar yang mengakibatkan pelakunya, tidak terampuni, terutama apabila pelakunya meninggal dunia tidak sempat bertaubat.

Dalam QS an-Nisa’(4):48:


إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاءُ وَمَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْماً عَظِيماً

Sesungguhnya Alloh tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni segala dosa yang lebih kecil dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. barangsiapa yang mempersekutukan Alloh, Maka sungguh ia Telah berbuat dosa yang besar. 
Dengan demikian menurut akidah Ahlus Sunnah wal Jamâ’ah menyatakan bahwa orang yang telah masuk Islam dengan yakin, maka dia tidak bisa dikeluarkan hanya karena perbuatan dosa yang dia lakukan. Dia juga tidak bisa keluar dari Islam (kafir) dengan semua perbuatan dosa yang diharamkan Allâh Azza wa Jalla yang dilakukannya. 

Namun menjatuhkan vonis kafir kepada pelakunya bisa terjadi apabila perbuatan dosa-dosa ‘amaliyahnya harus ada pengakuan atau meyakini bahwa perbuatan dosa itu halal, bukan dosa, dan bukan perkara yang diharamkan. Inilah jalan Ahlus Sunnah wal Jamâ’ah. Mereka tidak menjatuhkan vonis kafir kepada (pelaku dosa), tetapi mereka menyatakannya salah, sesat, atau fasik.

Dosa besar dan dosa kecil

Dosa besar yaitu adalah setiap perbuatan maksiat yang dilakukan seseorang dengan terang-terangan dan berani, bahkan dengan meremehkan dosanya diancam oleh Allah dengan neraka atau laknat atau mendapat murkaiNya. 

Contoh dosa besar adalah sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Hurairah Radhiallaahu anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam bersabda: "Jauhilah olehmu tujuh dosa yang membinasakan. Mereka bertanya, 'Apa itu wahai Rasulullah?' Beliau menjawab, Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan benar, memakan riba, memakan harta anak yatim, melarikan diri pada waktu peperangan, menuduh berzina wanita-wanita suci yang mukmin dan lalai dari kemaksiatan." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Sedangkan dosa kecil yaitu segala dosa yang tidak terkena ancaman khusus di akhirat. Ada pula yang berpendapat bahwa dosa kecil adalah setiap kemaksiatan yang dilakukan karena alpa atau lalai dan tidak henti-hentinya orang itu menyesali perbuatannya, sehingga rasa kenikmatannya dengan maksiat tersebut terus memudar. Dosa kecil akan bertumbuh menjadi besar apalbila secara intens dilakukan baik secara sadar maupun tidak.

Contoh dosa kecil adalah apa yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiallaahu anhu bahwasanya Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda: "Dicatat atas bani Adam bagiannya dari zina, pasti dia mendapatkannya tidak mungkin tidak; maka dua mata zinanya adalah memandang, dua telinga zinanya adalah mendengar, lisan zinanya adalah berbicara, tangan zinanya adalah memegang, dua kaki zinanya adalah melangkah, dan hati adalah menginginkan dan mendambakan, hal itu dibenarkan oleh kemaluan atau didusta-kanya." (HR. Muslim, no. 2657)

Dalil pembagian dosa menjadi besar dan kecil adalah firman Allah: "Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (Surga)." (An-Nisa': 31)

"(Yaitu) orang yang mejauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Mahaluas ampunanNya." (An-Najm: 32)

Diriwayatkan dari Umar, Ibnu Abbas dan yang lain bahwasanya mereka berkata: "Tidak ada dosa besar dengan beristighfar dan tidak ada dosa kecil (jika dilakukan) dengan terus-menerus." 

Akidah ekstrimis tentang Dosa Besar 

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa Sesungguhnya orang yang melakukan dosa besar tidaklah menjadi kafir jika dia termasuk ahli tauhid dan ikhlas. Tetapi ia adalah mukmin dengan keimanannya dan fasik dengan dosa besarnya, dan ia berada di bawah kehendak Allah. 

Apabila Allah berkehendak maka Dia mengampuninya dan apabila Ia berkehendak pula, maka Ia menyiksa di Neraka karena dosanya, kemudian Ia mengeluarkannya dan tidak menjadikannya kekal di Neraka. Artinya pelaku dosa besar bisa mendapat pengampunan dari Allah atau selamat dari neraka, atau apabila sempat bertaubat bisa saja terlebih dahulu dimasukkan dalam neraka kemudian diangkat ke surga. 

Berbeda dengan akidah kelompok-kelompok sesat yang ekstrim, sebagai berikut: 
1. Golongan Murji'ah: Golongan yang menyatakan maksiat tidak membahayakan (berpengaruh buruk) bagi orang beriman, sebagaimana ketaatan tidak bermanfaat bagi orang kafir. 

2. Golongan Mu'tazilah: Mereka yang mengatakan bahwa orang yang berdosa besar ini tidak mukmin dan tidak juga kafir, tetapi ia berada pada tingkatan yang ada diantara dua tingkatan tersebut. Namun demikian, apabila ia keluar dari dunia tanpa bertaubat maka ia kekal di Neraka. 

3. Golongan Khawarij: Mereka mengatakan bahwa orang yang berdosa besar adalah kafir dan kekal di Neraka.

Sedangkan menurut keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, pelaku dosa besar dari kalangan kaum muslimin adalah seorang muslim fasiq. Kemaksiatannya tidaklah mengeluarkannya dari Islam (kafir) dan ia bukanlah mukmin yang sempurna keimanannya. la mukmin dengan imannya dan fasiq dengan dosa besarnya.

Baginya hukum perbuatan yang ia lakukan dari kemaksiatan dalam hal pemfasikan, penegakan hukuman dan lain-lainnya, sesuai dengan apa yang datang di dalam syari’at yang suci ini. Inilah perkataan Ahlus Snnah, berlainan dengan per­kataan orang-orang Khowarij dan Mu’tazilah dan orang-orang yang menempuh jalan mereka yang bathil. 

Orang Khowarij mengkafirkan dengan sebab dosa-dosa dan orang-orang Mu’tazilah menjadikannya di suatu tempat antara dua tempat, yaitu: antara Islam dan kafir di dunia dan adapun di mereka sepakat dengan orang Khowarij, yakni ia di neraka. Dan ucapan kedua kelompok tersebut bathil berdasarkan al-Qur’an, as-Sunnah dan ijma’. 

Dari nukilan-nukilan ucapan ulama tersebut telah jelas bagi kita, adanya kesepakatan Ahlus Sunnah bahwasanya pelaku dosa besar adalah seorang muslim fasiq, tidak dikafirkan dengan kemaksiatannya, tidak mencapai keimanan yang sempurna walaupun masih tetap memiliki iman (pokok imam, pen) Berangkat dari ini, maka menurut Ah­lus Sunnah hukumnya adalah sebagaimana keseluruhan kaum muslimin dalam masalah keterjagaan darah, harta dan seluruh mu’amalah dan keadaan.

Dan jika Alloh menghendaki akan menyiksanya di neraka de­ngan keadilan-Nya kemudian mengeluarkan mereka darinya dengan rohmat-Nya, dengan syafa’at orang-orang yang memberi syafa’at dari kalangan ahli ketaatan kemudian dia dimasukkan ke dalam surga. 

Kesimpulan

Bahwa Akidah Ahlus Sunnah meyakini sesungguhnya seorang mukmin apabila berbuat banyak dosa, baik dosa kecil atau pun dosa besar tidaklah ia dikafirkan dengannya, walaupun meninggal dalam keadaan tidak bertaubat darinya sedangkan ia meninggal dalam keadaan bertauhid dan ikhlas. 

Perkaranya kembali kepada Alloh, jika Alloh menghen­daki akan mengampuninya dan kelak di hari kiamat akan memasukkannya ke surga dalam ke­adaan selamat lagi memperoleh keuntungan yang besar dengan tanpa diuji dengan masuk ne­raka dan tidak disiksa dengan perbuatan dosa yang dilakukannya. Dan jika Alloh meng­hendaki akan menyiksanya de­ngan adzab neraka dan tidaklah kekal di dalam neraka tersebut, namun Alloh akan memerdekakannya lalu memasukkannya ke dalam kampung kenikmatan yang tetap (surga)”. 

Kalau dipetakan sebagai berikut:

1. Pelaku dosa besar ia berhak mendapatkan siksa dan ma­suk ke dalam neraka dengan sebab dosa-dosanya.
2. Pelaku dosa besar jika ma­suk ke dalam neraka tidaklah kekal di dalamnya.
3. Adzab pelaku dosa besar di akherat tidaklah sebagaimana adzab terhadap orang kafir.
4. Pelaku dosa besar pada akhirnya akan masuk surga setelah sempurna adzabnya di nera­ka.

Naudzubillah min dzalik....Semoga kita semua dijauhkan dari perbuatan dosa besar dan terhindar atau sadar dari perbuatan dosa kecil…Aamiin ya’robbal’aalamiin…(nas)

Sabtu, 02 Desember 2017

Cara Menguburkan Jenazah, Bertakziah dan Berziarah


Pengajian Sabtu Subuh, 2 Desember 2017
Masjid Almuhajirin Antapani RW-10
Ustadz Wawan Kurniawan

Kematian merupakan peristiwa yang pasti menimpa setiap manusia. Tak ada manusia yang mampu terhindar darinya. Kita sungguh hanya tinggal menunggu giliran saja. Hanya saja yang membedakan kematian seseorang dengan yang lainnya adalah kapan waktunya, dimana tempatnya dan dalam kondisi seperti apa ketika berhadapan dengan mautnya.

Ketika seseorang meninggal dunia tentu merupakan suatu kesedihan bagi keluarganya. Kita pun turut berbelasungkawa. Keluarga pun dalam kepedihannya mulai mempersiapkan segala sesuatunya mulai dari memandikannya, mengkafaninya, menyolatkannya sampai pada menguburkannya.

Dalam kaitan pengurusan jenazah, kali ini yang akan dibahas adalah mengenai tatacara penguburan, bertakziah dan ziarah kubur.

Perlu diketahui bahwa kita punya kewajiban menguburkan jenazah sekalipun yang meninggal dunia itu adalah kafir. Jadi tak ada batasan apakah dia muslim, kafirun, munafikun, murtadun, semuanya wajib untuk dikuburkan sebagai bagian dari kewajiban menjalin hubungan sesama manusia.

Namun dalam Islam tentu tidak sembarangan menguburkannya, tapi ada tata aturannya. Misalnya, menguburkan antara muslim dan kafir tentu dengan tempat yang berbeda atau tidak boleh menyatu. Jadi masing2 punya pekuburan sendiri. Sedangkan khusus untuk para syuhada, terutama yang gugur di medan perang, maka boleh dikuburkan dimana ia meninggal.

Kapan dikuburkan?

Lalu kapan boleh dikuburkannya? Tentu saja lebih cepat lebih baik. Bahkan jika memungkinkan, malam pun boleh dilakukan. Namun jika hal itu tidak memungkinkan karena sesuatu hal (misalnya masih menunggu kedatangan keluarganya) maka tidak mengapa dikuburkan keesokan harinya.

Cara menguburkannya, seperti pada umumnya pekuburan muslim dibuatlah lubang yang dalam dengan ukuran yang sesuai dengan ukuran mayat dengan mengarah kearah kiblat. Cara terbaik memasukan mayat dimulai dari kakinya dahulu atau dari arah selatan ke utara.
Setelah dilakukan penguburan maka sebaiknya kuburnya diluaskan atau dibaguskan, misalnya dengan:

1. Menaikan kuburan dari tanah atau ditinggikan sekitar sejengkal;

2. Diberikan tanda (misalnya batu nisan atau kayu bertuliskan nama) untuk menunjukkan bahwa itu kuburan dan agar mudah dikenali;

3. Diperbolehkan untuk berdiri di kuburan untuk berdo’a.

Ada beberapa larangan yang berkaitan dengan proses penguburan. Hal-hal ini tentu harus menjadi perhatian kita, antara lain:

· Meninggikan timbunan kuburan lebih dari satu jengkal di atas permukaan tanah.

· Menembok kuburan sehingga menjadi sebuah bangunan

· Menulisi kuburan dengan berbagai tulisan

· Duduk2 di atas Kuburan

· Berjalan di atas kuburan tanpa menggunakan alas kaki

· Melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat menjurus ke arah syirik dan takhayul, misalnya meminta doa pada mayit, berbau mistis, dsb

Cara ber-Takziah

Menurut bahasa Takziah artinya adalah menghibur. Sedangkan pengertian Takziah menurut istilah syara' adalah mengunjungi keluarga orang yang meninggal dunia dengan tujuan supaya keluarga yang ditinggalkan dan sedang mendapat musibah dapat terhibur, diberikan kesabaran dan keteguhan dalam menghadapi musibah, serta mendoakan mayit atau orang yang meninggal agar diampuni oleh Allah atas dosa-dosanya selama menjalani hidup di dunia.

Apa hukumnya bertakziah

Takziah hukumnya adalah sunnah. Takziah adalah merupakan kewajiban bagi setiap muslim kepada muslim yang lain dan orang yang meninggal dunia berhak atas hak takziah. Perlu kita ketahui sebagaimana pembahasan sebelumnya bahwasanya hak orang Islam yang lain ada lima, yaitu menjawab salam, menjenguk orang sakit, mengantar jenazah, menghadiri undangan, dan mendoakan orang yang bersin.

Adab Bertakziah

Berikut adalah adab2 dalam bertakziah:

1. Lakukan takziah dengan dilandasi oleh niat ikhlas karena Allah Swt. Karena sesungguhnya hanya amal-amalan kepada Allah Swt itulah, yang akan memiliki nilai ibadah di sisi Allah Swt.

2. Gunakan pakaian yang rapi, sopan dan menutup aurat. Sepanjang tidak mencolok atau menyinggung pihak lain, tidak ada salahnya, menggunakan model pakaian yang biasa digunakan sebagai tanda berkabung.

3. Bertingkah laku yang baik, dan jaga ucapan. Islam memberikan ajaran mengenai akhlak bertakziah, yaitu pujilah si mayit dengan mengingat dan menyebut kebaikan-kebaikannya dan jangan menjelek-jelekkannya. Rasulullah bersabda, “Janganlah kamu mencaci-maki orang-orang yang telah mati, karena mereka telah sampai kepada apa yang telah mereka perbuat.” (HR. Al-Bukhari).

4. Jangan menangis dengan suara keras, meratapi maupun merobek-robek baju. Rasulullah bersabda, “Bukan golongan kami orang yang memukulmukul pipinya dan merobek-robek bajunya, dan menyerukan kepada seruan jahiliyah.” (HR. Al-Bukhari).

5. Mohonkan ampun untuk jenazah setelah dikuburkan. Ibnu Umar pernah berkata, “Apabila selesai mengubur jenazah, Rasulullah berdiri di atasnya dan bersabda, “Mohonkan ampunan untuk saudaramu ini, dan mintakan kepada Allah agar ia diberi keteguhan, karena dia sekarang akan ditanya.” (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Albani).

6. Hiburlah keluarga yang berduka dan berikan makanan untuk mereka. Rasulullah bersabda, “Buatkanlah makanan untuk keluarga, karena mereka sedang ditimpa sesuatu yang membuat mereka sibuk.” (HR. Abu Daud dan dinilai hasan oleh Al-Albani)

7. Berdoa agar jenazah diampuni dosanya oleh Allah Swt dengan menshalatkannya.

8. Memberi nasihat kepada keluarga jenazah yang ditinggalkan untuk bersabar, tawakal serta meningkatkan ketakwaannya kepada Allah Swt.,

9. Memberi bantuan baik berupa uang atau yang lainnya yang dibutuhkan keluarga yang terkena musibah.


Tatacara Ziarah kubur

Ziarah kubur adalah salah satu ritual dalam islam yang mampu mengingatkan kita terhadap kematian dan meyakini bahwa usia manusia sangat terbatas akan menemui ajalnya. Hakikat Manusia tidak akan mungkin berlangsung abadi di dunia. Rasulullah sering mengajarkan untuk mengingat kematian serta melakukan ziarah untuk mengingatnya.

Ziarah kubur dalam islam adalah sesuatu yang diperbolehkan atau tidak dilarang. Hal ini sebagaimana disampaikan dalam beberapa hadist yang menerangkan tentang ziarah kubur. Dalam hadist disampaikan bahwa ziarah kubur awalnya pernah dilarang namun kemudian Rasul memperbolehkan untuk mengambil hikmah dan pelajaran darinya. 

Adapun tatacara berziarah kubur sebagai berikut:

1. Memahami Tujuan Utama Berziarah Kubur

Ziarah kubur bertujuan untuk dapat mengambil pelajaran dan mengingat kematian. Tujuan utama ini harus senantiasa dipahami dan diingat oleh muslim yang hendak berziarah. Perlu diingat agar tidak terjerumus kepada tujuan-tujuan lain yang bisa menyesatkan ibadah dan aqidah atau melenceng dari keimanan terhadap Allah SWT.

Seperti dalam hadits Ibnu Mas’ud : “Karena di dalam ziarah terdapat pelajaran dan peringatan terhadap akhirat dan membuat zuhud terhadap dunia”.

2. Mengucapkan Salam Ketika Masuk

Ketika memasuki kuburan, maka Rasulullah mengajarkan untuk mengucapkan salam. Hal ini sebagaimana disampaikan dalam hadist berikut.

3. Tidak Duduk dan Menginjak Atas Kuburan

Ketika memasuki kuburan Rasulullah memerintahkan agar tidak duduk di atasnya atau menginjak kuburan. Hal ini sebagaimana disampaikan dalam hadist berikut.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh jika salah seorang dari kalian duduk di atas bara api sehingga membakar bajunya dan menembus kulitnya, itu lebih baik daripada duduk di atas kubur”

4. Mendoakan Mayit

Di dalam kuburan tentu boleh kita mendoakan mayit atau orang yang sudah meninggal, agar diberi kesalamatan dan juga diterima segala amal baik yang telah dilakukannya. Terutama bagi seorang anak, doa untuk keluarga atau orang tua nya yang sudah meninggal tentu menjadi sesuatu yang diharapkan. Doa anak shaleh adalah salah satu doa yang akan dikabulkan oleh Allah, sebagai hasil didik orang tua yang telah membesarkannya.

5. Tidak Berbicara Kasar atau Hal yang Bathil

Tidak baik jika di dalam kuburan berbicara hal yang bathil atau buruk. Untuk itu diperkenankan berbicara yang baik dan mendoakan mayit yang baik-baik saja. (nas)

Jumat, 01 Desember 2017

Memilih Surga atau Neraka


Khutbah Jum'at, 1 Desember 2017
Masjid Al-Muhajirin, Jl Jayapura Antapani
Imam/Khatib: H Iwan R Effendi

Jamaah shalat Jum'at Rahimakumullah

Ahamdulillah pada hari ini kita masih diberi nikmat untuk bersama-sama menjalankan ibadah bertemu dalam shalat jum’at berjama’ah. Marilah kita tingkatkan ketaqwaan kita kepada Allah swt. semoga ketaqwaan ini bisa menyelamatkan kita dari api neraka dan memposisikan kita di dalam surga. Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasllam, pernah bersabda dalam hadits-nya yang berbunyi:

إِنَّ الْجَنَّةَ حُفَّتْ بِالْمَكَارِهِ وَإِنَّ النَّارَ حُفَّتْ بِالشَّهَوَاتِ

“Sesungguhnya surga itu dikepung oleh segala kemakruhan (hal yang dinistakan agama) sedangkan neraka dikelilingi oleh syahwat (hal-hal yang menyenangkan manusia)” dan dalam haditsnya yang lain “ingatlah bahwa surga adalah sesuatu yang sulit di raih bagai berada di tempat yang tinggi. Sedangkan neraka adalah sesuatu yang mudah bagai berada di tanah yang rendah”

Bagi mereka yang menginginkan surga maka harus siap melawan berbagai kemakruhan. Yang dimaksud dengan kemakruhan adalah segala hal yang dianggap buruk dan dibenci oleh syariat agama Islam.

Begitu pula sebaliknya, posisi neraka dalam hadits di atas dikelilingi dengan berbagai kesenangan. Barang siapa yang kesehariannya selalu bersenang-senang tanpa mempedulikan aturan syariat, sungguh dia telah berada sangat dekat dengan neraka.

Apa yang disampaikan oleh Rasulullah dalam hadits ini sangatlah mudah difahami. Apalagi untuk orang dewasa. Namun, sayangnya seringkali pemahaman itu hanya berhenti sebagai pengetahuan dan tidak ditindak lanjuti sebagai amalan. Sehingga seringkali orang mengaku takut dengan api neraka serta siksa-siksa di dalamnya, tetapi masih saja bergelut dalam kesenangat syahwat yang terlarang. Begitu pula sebaliknya banyak orang yang mengaku merindukan surga, ingin segera bersanding dengan bidadari. Tetapi tidak senang dengan amal-amal saleh dan kebajikan-kebajikan anjuran agama.

Demikianlah Allah sengaja membuat pagar untuk surga sebagai ujian bagi mereka yang menginginkannya. Dan Allah perindah neraka dengan berbagai asesoris yang terbuat kesenangan-kesenangan sebagai cobaan manusia.

Perhatikan firman Allah dalam Surat Al Baqarah ayat 21 sd 24 agar kita senantiasa mengimani Alquran, menghindari perbuatan musyrik dan agar terhindar dari siksa neraka

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعۡبُدُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُمۡ وَٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ ٢١

21. Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa

ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ فِرَٰشٗا وَٱلسَّمَآءَ بِنَآءٗ وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ فَأَخۡرَجَ بِهِۦ مِنَ ٱلثَّمَرَٰتِ رِزۡقٗا لَّكُمۡۖ فَلَا تَجۡعَلُواْ لِلَّهِ أَندَادٗا وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ٢٢

22. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui

وَإِن كُنتُمۡ فِي رَيۡبٖ مِّمَّا نَزَّلۡنَا عَلَىٰ عَبۡدِنَا فَأۡتُواْ بِسُورَةٖ مِّن مِّثۡلِهِۦ وَٱدۡعُواْ شُهَدَآءَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ٢٣

23. Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar

فَإِن لَّمۡ تَفۡعَلُواْ وَلَن تَفۡعَلُواْ فَٱتَّقُواْ ٱلنَّارَ ٱلَّتِي وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُۖ أُعِدَّتۡ لِلۡكَٰفِرِينَ ٢٤

24. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) -- dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir

Kemudian dalam hadits selanjutnya Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam, menggarisbawahi:

ألا إِنَّ الْجَنَّةَ حُزْنٌ بِرَبْوَةٍ اَلَا وَإِنَّ النَّارَ سَهْلٌ بِسَهْوَةٍ

“Bahwa surga adalah sesuatu yang sulit di raih bagai berada di tempat yang tinggi. Sedangkan neraka adalah sesuatu yang mudah bagai berada di tanah yang rendah”

Begitulah keadaan sebenarnya. Selanjutnya terserah pilihan pribadi kita masing-masing. Apakah kita menginginkan surga atau menyerahkan diri kepada neraka.

Tak dapat dipungkiri kini manusia sungguhlah amat lemah, disertai dengan kehidupan semakin kompleks. Pengetahuan agama semakin menipis, adapun kesempatan ibadah semakin menyusut. Kesibukan semakin mendesak, umur semakin berkurang dan melakukan amal ibadah terasa makin berat.

Yang diinginkan hanyalah segala yang serba cepat dan instan. Tidak ada usaha serius yang ada hanyalah ketergantungan yang semakin tinggi. Ketergantungan dengan gadget, dengan alat komunikasi, dengan mesin ATM dengan segala macam peralatan tehnologi. Hal ini semakin melemahkan manusia sebagai individu. 

Lebih parah lagi masih ada yang mencari agama lain, dengan dalih bahwa semua agama adalah sama. Jelas ini menjurus pada kekafiran. Perhatikan surat Ali Imran, ayat 83 berikut ini.

فَغَيْرَ دِينِ ٱللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُۥٓ أَسْلَمَ مَن فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ

Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.

Di sisi lain kesibukan kegiatan manusia luar biasa padatnya. Sehingga waktu yang ada hanya habis untu mengurus segala macam urusan. Sehingga kesempatan beribadah semakin sempigt bahkan lenyap. Shalat lima kali saja terkadang tidak terlaksana. Kalaupun terlaksana pengetahuan tentang ibadah itu sangat minim sekali. Pelajaran tentang agama hanya di dapat di sela-sela waktu bekerja. 

Maka yang tersisa hanya satu memohon kepada Allah swt agar dianugerahi taufiq dan hidayah. Semoga Allah swt melimpahkan cahaya untuk hambanya. Sebagaimana yang difirmankannya:

أَفَمَن شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِّن رَّبِّهِ

Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya.

Artinya, apapun yang terjadi ketika Allah swt telah menghendaki untuk memberikan hidayah-Nya kepada seorang hamba, maka tidak ada satupun masalah yang tersisa. Kemudian seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah saw. Bagaimanakah tanda seseorang memperoleh cahaya hidayah-Nya? Rasulullah saw menjawab:

التَّجَافَى عَنْ دَارِ الْغُرُوْرِ وَالْإنَابَةِ الَى دَارِ اْلخُلُوْدِ وَالاِسْتِعْدَادِ لِلمَوْتِ قَبْلَ نُزُوْلِ الْمَوْتِ

Hamba itu (yang memperoleh hidayah) akan undur diri dari urusan dunia, menekuni urusan akhirat, dan mempersiapkan diri seolah ajal akan segera datang.

Apakah ada dalam diri kita tanda-tanda memperoleh hidayah-Nya? Marilah kita raba diri kita masing-masing. Jadilah orang cerdas, karena orang cerdas tak hanya selalu mengingat pada kematian, tapi juga adalah mampu mengendalikan hawa nafsunya.
Demikian khutbah jum’ah kali ini semoga bermanfaat untuk saya  selaku khatib dan jama’ah pada umumnya. (nas)

17 Goweser Waspada Kesehatan Pasca Idul Qurban

(berpose di Depan Kantor Dinas Teritorial Bandara Husen Sastranegara) (Rest Pertama di Gedung Sebelah Hotel Homan) Tujuh belas goweser RW-10...