Minggu, 23 Juli 2017

Hikmah Luqman Al Hakim

Dia hanya manusia biasa. Seorang bekas budak. Berhidung lebar. Berbibir tebal lagi berkulit hitam. Tapi kemulian yang ada pada dirinya, membuat orang-orang beriman iri. Bahkan kita semua ingin menjadi seperti dirinya.

Darinya, kita belajar banyal hal. Karna Allah telah memberinya Hikmah. Sehingga perkataan yang keluar dari lisannya itu, tidak lain kecuali adalah bulir-bulir nasehat yang penuh manfaat.

Suatu ketika Majikannya datang dan menyuruhnya untuk menyembelih kambing.

"Sembelihlah kambing ini buat kami," pinta majikannya.

Maka dia pun menyembelihnya. "Keluarkanlah dua jeroannya yang paling baik," pinta sang majikan lagi.

Maka lelaki yang juga bertubuh pendek dan berasal dari Afrika ini pun mengeluarkan hati dan lidah kambing tersebut.

Pada suatu saat, majikannya datang lagi dan menyuruhnya menyembelih kambing. Dia pun menyembelihnya.

"Keluarkanlah dua jeroannya yang paling buruk," kali ini majikannya pinta hal yang berbeda.

Maka dia pun, mengeluarkan lidah dan hati kambing tersebut. Karna keheranan majikannya berkata :
"Aku telah memerintahkan kepadamu untuk mengeluarkan dua anggota jeroannya yang terbaik, dan kamu mengeluarkan keduanya. Lalu aku perintahkan lagi kepadamu untuk mengeluarkan dua anggotanya yang paling buruk, ternyata kamu masih tetap mengeluarkan yang itu juga, sama dengan yang tadi."

Maka ahli hikmah ini pun menjawab : "Sesungguhnya tiada sesuatu anggota pun yang lebih baik daripada keduanya jika keduanya baik, dan tiada pula yang lebih buruk daripada keduanya bila keduanya buruk"

Tahukah antum, siapa lelaki mulia tersebut di atas..?

Ya. Dia Luqman Al Hakim. Lelaki mulia dari Habasyah, yang namanya kemudian menjadi salah satu surat dalam Al Quran.

Lalu, apa yang membuat dia diberi hikmah dan ditinggikan derajatnya oleh Allah Azza wa Jalla..?

Pertanyaan ini rupanya pernah hinggap di hati seseorang yang pernah hidup sezaman dengannya. Hingga dia pergi bertanya pada Lukmanul Hakim yang saat itu lagi berada di majelisnya dan didengar orang-orang.

"Bukankah kamu yang pernah menggembalakan kambing bersamaku di tempat anu dan anu?"

Luqman menjawab, "Benar." Lelaki itu bertanya, "Lalu apakah yang membuatmu menjadi seorang yang terhormat seperti yang kulihat sekarang?" Luqman menjawab, "Jujur dalam berkata, dan diam tidak ikut campur terhadap apa yang bukan urusanku."

Masya Allah, semoga kita bisa menimba hikmahnya.

Kisah senada juga kita bisa temukan dalam riwayat yang berasal dari Abdullah ibnu Wahb, dari Abdullah ibnu Ayyas Al Qathbani, dari Maulah Gafrah, yang berkisah bahwa :

"pernah ada seorang lelaki berdiri di hadapan Luqmanul Hakim, lalu bertanya, "Bukankah engkau adalah Luqman budak Banil Has-sas?"

Luqman menjawab, "Ya." Lelaki itu bertanya lagi, "Bukankah engkau pernah menggembalakan kambing?" Luqman menjawab, "Ya."

Lelaki itu bertanya lagi, "Bukankah kamu berkulit hitam?" Luqman menjawab, "Adapun warna hitam kulitku ini jelas, lalu apakah yang mengherankanmu tentang diriku?"

Lelaki itu menjawab, "Orang-orang banyak yang duduk di hamparanmu, dan berdesakan memasuki pintumu, serta mereka rida dengan ucapanmu."

Luqman berkata, "Hai Saudaraku, jika engkau mau mendengarkan apa yang akan kukatakan kepadamu, tentu kamu pun dapat seperti diriku."

Luqman melanjutkan perkataannya, "Aku selalu menundukkan pandangan mataku (dari hal-hal yang diharamkan), lisanku selalu kujaga, makananku selalu bersih (halal), kemaluanku aku jaga (tidak melakukan zina), aku selalu jujur dalam perkataanku, semua janjiku selalu kutepati, tamu-tamuku selalu kumuliakan, para tetanggaku selalu kuhormati, dan aku tidak pernah melakukan hal yang tidak perlu bagiku.

Itulah kiat yang menghantarkan diriku kepada kedudukanku sekarang seperti yang kamu lihat."

Ya Rabbana sesungguhnya kami lemah maka berilah kami kekuatan agar beribadah padamu.

Ya Allah sungguh kami ini lemah, maka berilah kami kekuatan tuk menghindar dari bermaksiat padamu. 

Kamis, 06 Juli 2017

Jangan lupa lakukan puasa syawal

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

Salah satu dari pintu-pintu kebaikan adalah melakukan puasa. Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallambersabda

:أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى أَبْوَابِ الْخَيْرِ؟ الصَّوْمُ جُنَّةٌ …“

Maukah aku tunjukkan padamu pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai, …”(HR. Tirmidzi, hadits ini hasan shohih)

Puasa dalam hadits ini merupakan perisai bagi seorang muslim baik di dunia maupun di akhirat.

Di dunia, puasa adalah perisai dari perbuatan-perbuatan maksiat, sedangkan di akhirat nanti adalah perisai dari api neraka.

Rasulullahshallallahu ‘alaihiwa sallamjuga bersabda dalam hadits Qudsi

:وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ“

Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya.”(HR. Bukhari)

Oleh karena itu, untuk mendapatkan kecintaan Allah ta’ala, maka lakukanlah puasa sunnah setelah melakukan yang wajib.

Di antara puasa sunnah yang Nabishallallahu ‘alaihi wa sallamanjurkan setelah melakukan puasa wajib (puasa Ramadhan) adalah puasa enam hari di bulan Syawal.

Dianjurkan untuk Puasa Enam Hari di Bulan Syawal

Puasa ini mempunyai keutamaan yang sangat istimewa.

Hal ini dapat dilihat dari sabda Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari sahabat Abu Ayyub Al Anshoriy, beliaushallallahu ‘alaihi wa sallambersabda

*:مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ“*

Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.”(HR. Muslim)

Pada hadits ini terdapat dalil tegas tentang dianjurkannya puasa enam hari di bulan Syawal dan pendapat inilah yang dipilih olehmadzhab Syafi’i, Ahmad dan Abu Daud serta yang sependapat dengan mereka.

Sedangkan Imam Malik dan Abu Hanifah menyatakan makruh.

Namun pendapat mereka ini lemah karena bertentangan dengan hadits yang tegas ini. (LihatSyarh An Nawawi ‘ala Muslim, 8/56)

Puasa Syawal, Puasa Seperti Setahun Penuh

Dari Tsauban, Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallambersabda

:مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ)مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا

(“Barang siapa berpuasa enam hari setelah hari raya Idul Fitri, maka dia seperti berpuasa setahun penuh. [Barang siapa berbuat satu kebaikan, maka baginya sepuluh kebaikan semisal].”(HR. Ibnu Majah dan dishohihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil)

Orang yang melakukan satu kebaikan akan mendapatkan sepuluh kebaikan yang semisal.

Puasa ramadhan adalah selama sebulan berarti akan semisal dengan puasa 10 bulan. Puasa syawal adalah enam hari berarti akan semisal dengan 60 hari yang sama dengan 2 bulan.

Oleh karena itu, seseorang yang berpuasa ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan syawal akan mendapatkan puasa seperti setahun penuh. (LihatSyarh An Nawawi ‘alaMuslim, 8/56 danSyarh Riyadhus Sholihin, 3/465).

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan nikmat ini bagi umat Islam.

*Apakah Puasa Syawal Harus Berurutan dan Dilakukan di Awal Ramadhan ?*

Imam Nawawi dalamSyarh Muslim, 8/56 mengatakan,“Para ulama madzhab Syafi’i mengatakan bahwa paling afdhol (utama) melakukanpuasa syawalsecara berturut-turut (sehari) setelah shalat ‘Idul Fithri.

Namun jika tidak berurutan atau diakhirkan hingga akhir Syawal maka seseorang tetap mendapatkan keutamaan puasa syawal setelah sebelumnya melakukan puasa Ramadhan.”Oleh karena itu, boleh saja seseorang berpuasa syawal tiga hari setelah Idul Fithri misalnya, baik secara berturut-turut ataupun tidak, karena dalam hal ini ada kelonggaran. Namun, apabila seseorang berpuasa syawal hingga keluar waktu (bulan Syawal) karena bermalas-malasan maka dia tidak akan mendapatkan ganjaran puasa syawal.

Catatan:

Apabila seseorang memiliki udzur (halangan) seperti sakit, dalam keadaan nifas, sebagai musafir, sehingga tidak berpuasa enam hari di bulan syawal, maka boleh orang seperti ini meng-qodho’ (mengganti) puasa syawal tersebut di bulanDzulqo’dah.

Hal ini tidaklah mengapa. (LihatSyarh Riyadhus Sholihin, 3/466)

*Tunaikanlah Qodho’ (Tanggungan) Puasa Terlebih DahuluLebih baik bagi seseorang yang masih memiliki qodho’ puasa Ramadhan untuk menunaikannya daripada melakukan puasa Syawal.*

Karena tentu saja perkara yang wajib haruslah lebih diutamakan daripada perkara yang sunnah. Alasan lainnya adalahkarena dalam hadits di atas Nabishallallahu‘alaihi wa sallammengatakan,“Barang siapa berpuasa Ramadhan.”Jadi apabila puasa Ramadhannya belum sempurna karena masih ada tanggungan puasa, maka tanggungan tersebut harus ditunaikan terlebih dahulu agar mendapatkan pahala semisal puasa setahun penuh.

Apabila seseorang menunaikan puasa Syawal terlebih dahulu dan masih ada tanggungan puasa, maka puasanya dianggap puasa sunnah muthlaq (puasa sunnah biasa) dan tidak mendapatkan ganjaran puasa Syawal karena kita kembali ke perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tadi,“Barang siapa berpuasa Ramadhan.”(LihatSyarhul Mumthi’, 3/89, 100)

Catatan:

Adapun puasa sunnah selain puasa Syawal, maka boleh seseorang mendahulukannya dari mengqodho’ puasa yang wajib selama masih ada waktu lapang untuk menunaikan puasa sunnah tersebut. Dan puasa sunnahnya tetap sah dan tidak berdosa. Tetapi perlu diingat bahwa menunaikan qodho’ puasa tetap lebih utama daripada melakukan puasa sunnah. Hal inilah yang ditekankan oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin -semogaAllah merahmati beliau- dalam kitab beliauSyarhul Mumthi’, 3/89 karena seringnya sebagian orang keliru dalam permasalahan ini.Kita ambil permisalan dengan shalat dzuhur. Waktu shalat tersebut adalah mulai dari matahari bergeser ke barat hingga panjang bayangan seseorang sama dengan tingginya. Kemudian dia shalat di akhir waktu misalnya jam 2 siang karena udzur (halangan).

Dalam waktu ini bolehkah dia melakukan shalat sunnah kemudian melakukan shalat wajib?

Jawabnya boleh, karena waktu shalatnya masih lapang dan shalat sunnahnya tetap sah dan tidak berdosa. Namun hal ini berbeda dengan puasa syawal karena puasa ini disyaratkan berpuasa ramadhan untuk mendapatkan ganjaran seperti berpuasa setahun penuh. Maka perhatikanlah perbedaan dalam masalah ini!

Senin, 26 Juni 2017

Khutbah Idul Fitri DKM Al-Muhajirin: Belajar dari Gerakan intelektual Salahuddin

Jika umat Islam ingin
Ust Deni Albar, Lc sebagai khatib dan Imam
mendapatkan kemenangan di seluruh dunia maka harus belajar dari gerakan intelektual Salahuddin Al-Ayyubi dalam merubah masyarakatnya. Sejarah mencatat bahwa kemenangan Salahuddin membebaskan Al-Aqso terjadi di bulan ramadhan, bulan dimana umat Islam tengah berpuasa dan diturunkannya Al-Qur’an. Karena itu bulan ramadhan dipandang sebagai bulan totalitas ketaatan. Namun apa yang terjadi di zaman ini, kini tengah marak-maraknya muslim pilah pilih perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bahkan syariah Islam ada yang sengaja ditinggalkan dengan alasan kebangsaan, kebhinekaan, NKRI, dll. Yang lebih memprihatinkan saat ini justru menyebar ideologi yang penuh kemaksiatan dan jauh dari ajaran Islam, seperti komunisme, kapitalisme liberal, hedonism, dan fasisme.

Demikian disampaikan, Ustadz Deni Albar, Lc, pada khutbah Idul Fitri 1438 H yang berlangsung di halaman belakang Masjid Al-Muhajirin RW-10 Antapani Kidul (25/6).

Jamaah shalat Idul Fitri Masjid Al-Muhajirin
Menurut Ust Deni, gerakan kampanye taat kepada Allah dan Rasulnya seperti yang dicontohkan Solahudin, tak hanya diawali dengan mempersiapkan ketahanan militer dan kekuatan ekonominya, namun juga membentuk moral rakyatnya agar lebih tangguh, terutama melalui gerakan kampanye amar ma’ruf nahi munkar dalam masalah ububiyah dan mu’amalah bermasyarakat. Salah satu yang digagasnya melalui keutamaan shalat berjamaah dan upaya memakmurkan masjid.

Ada ucapan Solahudin yg sangat terkenal “Dari tempat ini kita akan menang”. Ucapan itu muncul pada saat Solahudin melakukan inspeksi di tengah malam bulan ramadhan menyusuri tenda2 pasukannya yang ternyata para prajutritnya itu tengah sibuk membaca Al-Qur’an, bertahlil, berdzikir, hingga tak menyadari kalau pemimpin mereka tengah berjalan di depannya.

Karena itu Bulan ramadhan, kata ustadz, dapat dijadikan sebagai momentum untuk membangun semangat kesatuan umat. Semangat bersatu dan semangat kesatuan menjadi langkah strategis dalam membangun kemajuan muslimin di masa depan, terutama dalam menghadapi tantangan umat muslim yang semakin besar dan kompleks.  Kewajiban puasa bagi seluruh muslim sesungguhnya memberi arti tentang kesamaan kedudukan manusia dalam pandangan agama, sehingga kasih sayang dan ukhuwah Islamiyyah saling membantu dalam kebaikan dan ketaqwaan adalah suatu keniscayaan dalam menopang wujud kesatuan umat.

Jadi sesungguhnya, lanjut ustadz,  kesatuan akan melahirkan ukhuwah atau persaudaraan. Jauh dari hasad, dengki, permusuhan, dan dendam masa lalu.  Sebagaimana dalam QS Ali Imran (3) 103: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah seraya berjamaah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatkan akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadikan kamu karena nikmat Allah, orang2 bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikian Allah menerangkan ayat-ayatNya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”

Shalat Ied berlangsung khidmat
"Maka menjadi kewajiban kita semua kaum muslimin untuk hidup berjama’ah, hidup terpimpin berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. Berjamaah adalah kewajiban kita kaum muslimin, berjama’ah adalah bersatu untuk beribadah kepada Allah SWT, berjama’ah adalah cara mengamalkan Islam secara kaffah, berjama’ah adalah wujud pengamalan Islam yang rahmatan lil’alamin, berjama’ah adalah system hidup dan jalan hidup berdasarkan petunjuk Allah. Jadi marilah kita berjama’ah agar Allah meridhoi kita, mari kita dakwahkan kewajiban berjama’ah ini kepada seluruh umat Islam," himbau Ustadz Deni Albar, Lc.

H Hasan Munawar menyampaikan laporan
kegiatan ramadhan dan pengumpulan zakat
Ketua DKM Al-Muhajirin, Sigit Tjiptono tengah
menyerahkan zakat fitrah secara simbolis 
Peserta Pesantren Kilat Anak2 mendapat
bingkisan dari Panitia Ramadhan
Laporan DKM Kegiatan Ramadhan

Sementara itu, laporan kegiatan ramadhan disampaikan Hasan Munawar, antara lain mencakup kegiatan Pesantren kilat anak2 TK dan SD yang diikuti 30 peserta dan berlangsung selama 18 hari. Pesantren kilat remaja, dewasa dan duafa diikuti 45 peserta selama 8 hari.

Selain itu kegiatan siraman rokhani berupa Ceramah dan Simaan sebelum dilaksanakan sholat tarawih. Adapun Kajian tahsin (perbaikan hafalan surat2 Al Qur'an) dilaksanakan pada ba'da ashar. Serta Tadarus Al Qur'an ba'da subuh yang diikuti bpk2, ibu2, remaja dan anak2.

Disampaikan Hasan Munawar, bahwa Pengumpulan & pembagian zakat fitrah, zakat mal, infaq/sedekah telah berjalan dan tersalurkan dengan baik. Penerimaan infaq tarawih ramadhan mencapai Rp 29.877.500,-. Sedangkan Penerimaan zakat fitrah, zakal mal, infaq & sedekah sebesar Rp. 32.591.250,- dengan rincian : Zakat Fitrah Rp 13.338.750,- , Zakat mal Rp 9.558.750,-, Infaq/sedekah Rp 7.943.750,- dan Fidyah Rp 1.750.000,-. Zakat fitrah dalam bentuk beras diterima sebanyak 150 kg.

Zakat fitrah telah dibagikan mulai bada shalat subuh sd menjelang shalat Iedul Fitri dlm bentuk beras kepada 524 orang mustahik.

Hasan Munawar atas nama Pengurus DKM Al-Muhajirin menyampaikan ajakan/himbauan bagi warga muslim RW 10 serta warga pratista dan sekitarnya untuk mengikuti kegiatan pengajian rutin, antara lain pengajian anak2 selama 5 kali/minggu (Senin sd Jumat), pengajian ibu-ibu 5 kali/minggu (Senin sd Jumat), dan pengajian bpk2 dan remaja putra 4 kali/minggu (Rabu malam, sabtu subuh, ahad subuh, dan ahad malam).

Mari semangat selama beramal dan ibadah di bln ramadhan, kita lakukan dan tingkatkan di 11 bln yg akan datang. Masjid Al Muhajirin ini adalah masjid yg kita bangun bersama, mari kita makmurkan dg "Sholat wajib berjamaah & menghadiri majelis taklim dan pengajian/ kajian2 ilmu agama.

Himbauan untuk para bapak utk memberi teladan bagi istri dan putra putrinya utk membiasakan hatinya tergantung atau terikat ke masjid. Menggelorakan gerakan "membaca Al Qur'an dan sedekah setiap hari" bagi putra putri kita sejak dini. Serta meningkatkan kepedulian thd tetangga dan sesama dg cara saling menolong dan membantu serta menjaga kerukunan hidup bertetangga secara harmonis. Jauhkan dari "gibah", membicarakan kekurangan/aib tetangganya atau org lain.



Peserta Itikaf Anak2 yang berhasil menyelesaikan
Itikaf full selama 10 hari
Dengan demikian semoga Allah SWT selalu memberi rahmat dan ridlo-Nya kpd kita dan keluarga.

Pada kesempatan itu sempat pula diberikan bingkisan utk anak2 yg mengikuti pesantren kilat dan peserta anak yang telah berhasil itikaf selama 10 hari penuh. (/nas)

17 Goweser Waspada Kesehatan Pasca Idul Qurban

(berpose di Depan Kantor Dinas Teritorial Bandara Husen Sastranegara) (Rest Pertama di Gedung Sebelah Hotel Homan) Tujuh belas goweser RW-10...