Kamis, 19 Februari 2026

Program dan Jadwal Ceramah Masjid Al-Muhajirin




  Ketua DKM Al_Muhajirin saat
Menyampaikan Program di
Hari Pertama Tarawih (19/2)



Hari ini, Kamis 19 Februari 2026, adalah hari pertama umat Islam menjalankan ibadah puasa Ramadhan 1447 H berdasarkan penetapan resmi pemerintah. 

Imam dan Tausyiah Shalat Tarawih Hari Pertama disampaikan oleh Ketua DKM Al-Muhajirin, H. Hasan Munawar, yang menginformasikan beberapa program Ramadhan DKM Al-Muhajirin RW-10 Antapani Kidul Bandung yang dapat digunakan untuk memaksimalkan ibadah di bulan suci ini.

Ketua DKM berpesan agar waktu sisa usia yang tersisa ini dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Manfaatkan waktu untuk kegiatan-kegiatan bermanfaat. Terlebih di bulan Ramadhan yang penuh berkah saat ini dengan pahala yang melimpah dan  berlipat ganda.

Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, DKM Al-Muhajirin RW-10 Antapani Kidul menggelar berbagai program Ramadhan. "Semoga para jamaah Al- Muhajirin di lingkungan RW 10 dan sekitarnya diberikan kesehatan serta selalu dalam bimbingan, lindungan dan hidayah Allah Subhanahu Wata'ala," tandas Ketua DKM.

Dalam memasuki bulan suci Ramadhan dan idul fitri 1447 H ini, Saya atas nama DKM Al-Muhajirin sebelumnya memohon maaf yang sebesar-besarnya apabila masih banyaknya kekurangan dalam melayani dan memfasilitasi ibadah dan menuntut ilmu agama bagi jama’ah dan warga sekalian.

Khususnya dalam rangka memfasilitasi para jamaah dalam beribadah guna mencapai derajat orang yang bertaqwa sesuai dengan tujuan utama shaum Ramadhan ( Q.S Al-Baqoroh: 183).

Adapun beberapa kegiatan yang akan diselenggarakan adalah :

1. Tilawah dan Tadarus Al-Qur’an baik mandiri ataupun berkelompok,
2. Shalat sunah tarawih dan ceramah,
3. Menyediakan ifthar/makanan untuk berbuka shaum/puasa di masjid;
4. Pesantren kilat anak-anak selama 7 hari,
5. I'tikaf selama 10 hari terakhir,
6. Menerima titipan zakat fitri, fidyah, zakat mal, infaq dan sedekah serta menyalurkan zakat fitri dan fidyah pada waktu setelah shalat subuh sampai sebelum shalat idul fitri 1447 H,
7. Menyelenggarakan shalat idul fitri 1447 H.
 
Kegiatan-kegiatan di atas memberi peluang sangat besar kepada kita untuk bisa beribadah di masjid secara lebih intens dan lebih khusyu serta memberi peluang untuk beramal soleh dalam bentuk SHADAQOH HARTA, yang Insya allah pahalanya akan tercatat sebagai pahala agung di bulan suci Ramadhan.

Seperti kita ketahui bahwa sedekah di bulan Ramadhan pahalanya dilipat gandakan dan menjadi jalan diampuninya dosa-dosa kita yang telah lalu. Dalam sebuah hadits:

"Barang siapa memberikan hidangan kepada orang yang berbuka puasa, ia akan mendapatkan pahala puasa seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa sedikitpun mengurangi pahala orang yang berpuasa. ( HR At Tirmidzi).

Dalam kesempatan ini pula kami mengajak bapak, ibu, adik-adik jamaah Al Muhajirin untuk menangkap peluang beramal soleh dengan menyisihkan sebagian rejeki yang dititipkan oleh Allah kepada kita, untuk kegiatan :

1. Menyediakan Ifthar (makanan berbuka puasa) di masjid untuk jamaah, anak-anak dan para
musafir yang ikut berjamaah sholat magrib,
2. Kegiatan itikaf bapak-bapak pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan,
3. Pemberian iftar & makan sahur untuk saudara terdekat kita, 
4. Kegiatan pesantren anak-anak,
5. Iftar untuk Imam dan penceramah tarawih yang berbuka di mesjid Al-Muhajrin.

Insya Allah sedekah bapak/ibu sekalian akan sangat berarti dan bermanfaat bagi kegiatan ini dan Allah Subhanahu WaTa’ala akan memberikan pahala yang berlipat ganda.

Mari kita sambut Ramadhan 1447 H ini dengan penuh suka cita serta penuh harap pahala dan semoga umur kita dipanjangkan sampai pada bulan ramadhan 1447 H supaya bisa melaksanakan dan merasakan nikmatnya ibadah bulan Ramadhan ini dengan penuh kekhusyuan. Aamiin.(//Red/Kisunda-10/Nas/Humas/Dkm/Almjrn//)

Jumat, 13 Februari 2026

Ramadhan Karim Telah Datang Kepadamu

Ramadhan Karim (رمضان كريم) artinya adalah "Ramadhan yang mulia" atau "Ramadhan yang dermawan".

Ungkapan ini merupakan ucapan selamat dan doa agar bulan suci Ramadhan membawa limpahan kebaikan, kemurahan hati, dan keberkahan bagi umat Muslim. 

Ini menegaskan bahwa Ramadhan adalah waktu di mana Allah melimpahkan pahala berlipat ganda.

Makna dan Penggunaan arti secara harfiah: Ramadhan (bulan ke-9 Hijriah) + Karim (mulia/dermawan/murah hati).

Adapun makna yang dikandungnya merupakan doa agar Ramadhan memberikan kemurahan hati atau kebaikan kepada mereka yang merayakannya. Hal ini sering digunakan sebagai ucapan salam, sambutan, atau doa selama bulan puasa
.
Jika seseorang mengucapkan "Ramadhan Karim", bisa dijawab dengan "Allah Akram" yang berarti "Allah Maha Pemurah".

Adapun perbedaan Ramadhan Karim vs. Ramadhan Mubarak, yakni Jika Ramadhan Karim berfokus pada kemurahan hati atau kemuliaan bulan Ramadhan. Maka Ramadhan Mubarak mengandung arti "Ramadhan yang diberkahi".

Meskipun terdapat perbedaan pandangan mengenai penggunaan kata Karim, ungkapan ini secara umum dimaknai positif sebagai bentuk penghormatan dan doa atas keberkahan bulan Ramadan.

Ramadhan Telah Datang


Saudaraku,
Kita senantiasa berharap berusia panjang dan diberikan kesempatan menapaki bulan mulia Ramadhan sebagaimana tertuang dalam doa yang sering kita panjatkan semenjak bulan Rajab dan Sya’ban,

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

“Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan bulan Sya’ban dan pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan.”

Satu doa ringkas penuh makna yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang bertujuan mengingatkan setiap Mukmin untuk bersegera dan berlomba-lomba menyiapkan diri, baik secara lahir maupun batin untuk menyambut datangnya bulan mulia, bulan penuh limpahan keberkahan, bulan suci, bulan istimewa yang penuh rahmat, ampunan...

Saudaraku,
Setidaknya ada beberapa hal yang perlu kita siapkan dalam menyambut dan memaksimalkan keistimewaan bulan Ramadhan yakni persiapan lahir dan batin, fisik dan mental, materil dan immateril.
Allah Azza wa Jalla berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al Baqarah: 183)

Ayat ini menegaskankan dan mengingatkan kepada setiap pribadi hamba Allah yang Mukmin Muslim untuk menunaikan kewajiban ibadah di bulan suci Ramadhan. Sebuah kewajiban yang juga telah diwajibkan kepada umat-umat terdahulu, sebelum Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yakni ibadah puasa. Kewajiban untuk menahan diri, tidak makan dan minum serta menghindari segala sesuatu yang sekiranya dapat membatalkan puasa sebagaimana tuntunan syariat...

Oleh karenanya, perlu persiapan lahiriah agar tubuh dapat beradaptasi dengan baik secara bertahap yakni dengan tutorial latih diri untuk berpuasa di bulan-bulan sebelumnya, seperti bulan Rajab dan Sya’ban. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah memberikan contoh dan kita sebagai umatnya patut untuk meneladaninya sebagaimana termaktub dalam hadits,

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ

“Dari Aisyah r.a. ia menuturkan, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam biasa mengerjakan puasa, sehingga kami berpendapat bahwa beliau tidak pernah tidak berpuasa, dan beliau biasa tidak berpuasa, sehingga kami berpendapat bahwa beliau tidak pernah berpuasa.


Akan tetapi aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berpuasa sebulan penuh, kecuali pada bulan Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa daripada puasa di bulan Sya’ban”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Selain persiapan lahiriah, penting juga untuk melakukan persiapan batiniah dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Dan persiapan awal yang pantas dan bisa dilakukan adalah dengan menanamkan kegembiraan dalam hati, rasa dan pikiran.

Sebab secara psikologis, perasaan dan pikiran gembira saat menyambut sesuatu akan menumbuhkan motif, dorongan dan perasaan kecintaan dalam melakukan sesuatu. Selanjutnya jika motif dan perasaan cinta sudah tumbuh saat melakukan sesuatu, maka pasti akan dapat mencapai perolehan hasil yang maksimal.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengingatkan dalam sebuah hadits kepada ummatnya untuk senantiasa menghadirkan perasaan dan pikiran gembira menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan. Kegembiraan dan perasaan suka ria ini juga niscaya bakal diganjar dengan sebuah keistimewaan pula,

مَنْ فَرِحَ بِدُخُولِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلىَ النِّيْرَانِ

“Siapa bergembira dengan masuknya bulan Ramadhan, Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka.”

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa juga bersabda,

أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ، فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah telah mewajibkan padamu berpuasa di bulan itu. Dalam bulan itu dibukalah pintu-pintu langit, dan ditutuplah pintu-pintu neraka, dan syaitan-syaitan dibelenggu. Pada bulan itu terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.”
(HR. Imam Nasa’i)

Saudaraku,
Yang tidak kalah penting adalah pembekalan diri dengan giat untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman beragama dalam Islam melalui majelis taklim sebagai upaya mengkalibrasi tingkat keimanan dan keyakinan yang mungkin sebelumnya tenggelam dalam hiruk pikuk perhiasan duniawi yang melalaikan.

Hal itu agar tidak kecewa dan merugi disebabkan kehilangan -start point- dan peluang-peluang menarik dalam meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah sepanjang bulan Ramadhan.

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita sehingga kita tetap Istiqamah senantiasa meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah kita untuk meraih keberkahan dan ridha-Nya.
Aamiin Ya Rabb.
Wallahu a'lam bishawab...

Senin, 09 Februari 2026

Kajian Subuh Ust. Drs. Usin Artyasa, MM.: Spirit Ramadhan dan Penguatan Kehambaan

Pengantar Redaksi:

Spirit Ramadhan adalah momentum peningkatan kualitas diri, ketakwaan, dan disiplin sosial melalui puasa guna melatih kejujuran, pengendalian hawa nafsu, serta kepedulian sosial. Esensi utamanya adalah merawat kebiasaan baik—seperti sedekah, qiyamul lail, dan tadarus—untuk mencapai derajat muttakin (bertakwa) yang konsisten di luar bulan suci.

Dilarang Berlebihan (ghulu)


Beberapa hal yang termasuk ghulu, misalnya: Hari Jumat merupakan hari syaiful ayam, walaupun syaiful ayam namun tidak boleh dikhususkan bepuasa disetiap hari Jumat, karena itu termasuk ghulu (berlebih-lebihan). Adapun doa yang terbaik saat hari Jumat adalah saat khatib duduk diantara dua khotbah.

Mengokohan posisi kehambaan tidak boleh mengabaikan aspek kemanusiaan. Dengan kata lain ubuddiyah tidak boleh merusak konsep Al Basyariah.

Orang yang shaum dilarang tidak berbuka saat sudah sampai waktunya berbuka. Pernah seseorang dizaman Rasulullah melakukan wisol mau berpuasa sampai tiga hari. Puasa tiga hari tanpa makanan dan minum ini juga termasuk yang berlebih-lebihan.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

اَلْحَجُّ اَشْهُرٌ مَّعْلُوْمٰتٌ ۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيْهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوْقَ وَلَا جِدَا لَ فِى الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوْا مِنْ خَيْرٍ يَّعْلَمْهُ اللّٰهُ ۗ وَتَزَوَّدُوْا فَاِ نَّ خَيْرَ الزَّا دِ التَّقْوٰى ۖ وَا تَّقُوْنِ يٰۤاُ ولِى الْاَ لْبَا بِ

al-hajju asy-hurum ma'luumaat, fa mang farodho fiihinnal-hajja fa laa rofasa wa laa fusuuqo wa laa jidaala fil-hajj, wa maa taf'aluu min khoiriy ya'lam-hulloh, wa tazawwaduu fa inna khoiroz-zaadit-taqwaa wattaquuni yaaa ulil-albaab.

"(Musim) haji itu (pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi. Barang siapa mengerjakan (ibadah) haji dalam (bulan-bulan) itu, maka janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat, dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji. Segala yang baik yang kamu kerjakan, Allah mengetahuinya. Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku, wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat!"
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 197).

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَ نْـتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

yaaa ayyuhallaziina aamanuttaqulloha haqqo tuqootihii wa laa tamuutunna illaa wa angtum muslimuun.

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim."
(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 102).

Rasulullah mengajarkan makna dari Alquran agar kita menjadi pengikut .
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

اِنَّمَا تُنْذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمٰنَ بِا لْغَيْبِ ۚ فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍ وَّاَجْرٍ كَرِيْمٍ

innamaa tungziru manittaba'az-zikro wa khosyiyar-rohmaana bil-ghoiib, fa basysyir-hu bimaghfirotiw wa ajring kariim.

"Sesungguhnya engkau hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, walaupun mereka tidak melihat-Nya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia."
(QS. Ya-Sin 36: Ayat 11).

Shaum harus mengacu kepada apa yang dilakukan oleh Rasulullah, dengan niat hanya untuk Allah SWT dan Melakukan sholat dengan khusuk.

Setelah melaksanakan puasa wajib di bulan Ramadhan, maka wajib ditutup dengan membayar zakat fitrah.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

حَا فِظُوْا عَلَى الصَّلَوٰتِ وَا لصَّلٰوةِ الْوُسْطٰى وَقُوْمُوْا لِلّٰهِ قٰنِتِيْنَ

haafizhuu 'alash-sholawaati wash-sholaatil-wusthoo wa quumuu lillaahi qoonitiin.

"Peliharalah semua sholat dan sholat wusta. Dan laksanakanlah (sholat) karena Allah dengan khusyuk."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 238).

Kenapa orang banyak yang ingin masuk surga? Maka jawab Rasulullah bertaqwalah, jangan menambah nambah ibadah. Disesuaikan saja dengan apa yang diajarkan Rasulullah.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْکُمُ الصِّيَا مُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِکُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

yaaa ayyuhallaziina aamanuu kutiba 'alaikumush-shiyaamu kamaa kutiba 'alallaziina ming qoblikum la'allakum tattaquun.

"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,"
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 183).

Disini ditetapkan 3 kriteria pertama orang yang beriman lalu melaksanakan syiam sehingga akan mendatangkan ketaqwaan kepada Allah.

Syariatnya shaum:

1. Berhenti dari yang membatalkan
2. Menahan diwaktu tertentu dari subuh kemaghrib.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

شَهْرُ رَمَضَا نَ الَّذِيْۤ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰ نُ هُدًى لِّلنَّا سِ وَ بَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَا لْفُرْقَا نِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَـصُمْهُ ۗ وَمَنْ کَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّا مٍ اُخَرَ ۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِکُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِکُمُ الْعُسْرَ ۖ وَلِتُکْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُکَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰٮكُمْ وَلَعَلَّکُمْ تَشْكُرُوْنَ

syahru romadhoonallaziii ungzila fiihil-qur-aanu hudal lin-naasi wa bayyinaatim minal-hudaa wal-furqoon, fa mang syahida mingkumusy-syahro falyashum-h, wa mang kaana mariidhon au 'alaa safaring fa 'iddatum min ayyaamin ukhor, yuriidullohu bikumul-yusro wa laa yuriidu bikumul-'usro wa litukmilul-'iddata wa litukabbirulloha 'alaa maa hadaakum wa la'allakum tasykuruun.

"Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 185).

3. Khusus untuk orang tertentu
4. Harus diniatkan.

Orang yang shaum sama dengan yang sudah diperintahkan kepada kaum yang dahulu.

Shaum adalah sarana menuju ketaqwaan, akan menghasilkan Muttaqin.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

لَيْسَ الْبِرَّ اَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَ الْمَغْرِبِ وَلٰـكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَوْمِ الْاٰ خِرِ وَا لْمَلٰٓئِکَةِ وَا لْكِتٰبِ وَا لنَّبِيّٖنَ ۚ وَاٰ تَى الْمَا لَ عَلٰى حُبِّهٖ ذَوِى الْقُرْبٰى وَا لْيَتٰمٰى وَا لْمَسٰكِيْنَ وَا بْنَ السَّبِيْلِ ۙ وَا لسَّآئِلِيْنَ وَفِى الرِّقَا بِ ۚ وَاَ قَا مَ الصَّلٰوةَ وَاٰ تَى الزَّکٰوةَ ۚ وَا لْمُوْفُوْنَ بِعَهْدِهِمْ اِذَا عٰهَدُوْا ۚ وَا لصّٰبِرِيْنَ فِى الْبَأْسَآءِ وَا لضَّرَّآءِ وَحِيْنَ الْبَأْسِ ۗ اُولٰٓئِكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا ۗ وَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ

laisal-birro ang tuwalluu wujuuhakum qibalal-masyriqi wal-maghribi wa laakinnal-birro man aamana billaahi wal-yaumil-aakhiri wal-malaaa-ikati wal-kitaabi wan-nabiyyiin, wa aatal-maala 'alaa hubbihii zawil-qurbaa wal-yataamaa wal-masaakiina wabnas-sabiili was-saaa-iliina wa fir-riqoob, wa aqoomash-sholaata wa aataz-zakaah, wal-muufuuna bi'ahdihim izaa 'aahaduu, wash-shoobiriina fil-ba-saaa-i wadh-dhorrooo-i wa hiinal-ba-s, ulaaa-ikallaziina shodaquu, wa ulaaa-ika humul-muttaquun.

"Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan sholat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 177).

Shaum harus menimbulkan kekuatan menahan hawa nafsu dan menjadikan manusia meningkat kemanusiaannya dan meningkatkan kepekaan terhadap orang miskin.

Sahur merupakan keberkahan yang diberikan Allah kepada orang yang melakukan shaum.

Semoga kita dapat menjalankan shaum ramadhan dengan contoh contoh Rasulullah dan perintah Allah. 

Jangan sampai salah niat dan saat berbuka jangan ditunda agar tidak sampai masuk kedalam mubalagh fih (berlebih lebihan).//Rep:Rusdi/Edit:Nas//

Bahagia Menyambut Ramadhan

Bahagia menyambut Ramadhan adalah wujud keimanan, di mana rasa suka cita atas datangnya bulan mulia ini dapat mengharamkan jasad dari api neraka. 

Kegembiraan ini didasari pada limpahan rahmat, ampunan, dan pahala berlipat ganda, menjadikannya momen penyegaran jiwa (tarhib) untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

Berikut adalah poin-poin penting bahagia menyambut Ramadhan:
1. Tanda Keimanan dan Rasa Syukur: Bergembira menyambut Ramadhan menandakan iman yang kuat dan rasa syukur, bukan sekadar mengikuti tradisi.

2. Tamu Agung yang Dinantikan: Para salafus saleh bahkan berdoa enam bulan sebelumnya agar dipertemukan dengan Ramadhan.

3. Pahala Berlipat Ganda: Bulan ini menawarkan ampunan dosa, pintu surga dibuka, dan setan dibelenggu.

4. Tips Menyambut dengan Bahagia:Persiapan Nafsiyah (Mental): Memperbaiki niat dan hati agar ikhlas.

5. Persiapan Tsaqafiyah (Ilmu): Mempelajari fiqih puasa dan keutamaan Ramadhan.

6. Persiapan Jasadiyah (Fisik): Menjaga kesehatan agar ibadah maksimal.

7. Berdoa: Memohon disampaikan ke bulan Ramadhan (misal: Allahumma ahillahu 'alaina bil amni wal imaani...).

Menyambut Ramadhan dengan bahagia akan memudahkan seseorang dalam memaksimalkan ibadah, menjadikan puasa terasa ringan, dan membawa kedamaian hati.//Versi AI/Nas/Kisunda//

Minggu, 08 Februari 2026

Kajian Subuh Ust. Haikal Sya'ban: "Zakat Wajib Hukumnya"

Kedudukan orang yang sudah diyakini masuk syurga, kemudian ditambahkan umurnya untuk mendapatkan keberkahan ramadhan maka derajat surganya bagai rentang bumi dan langit.

Maka selalulah berdoa agar kita sampai dibulan Ramadhan. Dapat beramal dengan keimanan dengan harapan mendapatkan ridhonya Allah. 

Serta mendapatkan hidayah Allah dalam melaksanakan pelbagai ibadah dibulan suci yang sangat mulia ini.

Diharapkan juga lebih fokus mengerjakan yang wajib dengan menambah amalan-amalan sunahnya.

Wajibnya Zakat

Menunaikan zakat  pada hakekatnya sebagai anugrah pada pertambahan harta kita supaya tumbuh. Terutama atas h
arta yang sudah memenuhi nisabnya.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

خُذْ مِنْ اَمْوَا لِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيْهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۗ اِنَّ صَلٰوتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ ۗ وَا للّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ

Khuz min amwaalihim shodaqotang tuthohhiruhum wa tuzakkiihim bihaa wa sholli 'alaihim, inna sholaataka sakanul lahum, wallohu samii'un 'aliim.

"Ambillah zakat dari harta mereka guna membersihkan dan menyucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui."
(QS. At-Taubah 9: Ayat 103).

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَاَ قِيْمُواالصَّلٰوةَ وَاٰ تُواالزَّكٰوةَ وَا رْكَعُوْا مَعَ الرّٰكِعِيْنَ

wa aqiimush-sholaata wa aatuz-zakaata warka'uu ma'ar-rooki'iin

"Dan laksanakanlah sholat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang yang rukuk."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 43).

Zakat adalah wajib hukumnya. Muslim yang tidak membayarkan zakat akan jatuh kedalam dosa besar.

Bahkan bagi orang yang mengatakan zakat tidak wajib maka dia dikategorikan sebagai kafir bahkan disebut murtad.

Abubakar Siddiq memerangi orang-orang yang memisahkan kewajiban zakat ini, karena Allah selalu menghubungkan antara sholat dan zakat.

Harta yang wajib dizakatkan:

1. Hewan ternak yaitu unta, sapi dan kambing

Hadist Rasulullah siapa yang tidak menunaikan zakat hewan, maka diakhirat nanti hewan tersebut akan dihidupkan kembali lebih besar lalu menanduk pemiliknya.

2. Alat tukar (uang):

Emas, perak dan uang hukumnya  wajib untuk dikeluarkan zakatnya.
Bagi orang yang tidak mengeluarkannya maka dihari kiamat akan menjadikan emas dan perak tersebut disetrikakan setelah dibakar kepada yang tidak menjalankan zakat ini.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَنْفِقُوْا مِنْ طَيِّبٰتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّاۤ اَخْرَجْنَا لَـكُمْ مِّنَ الْاَ رْضِ ۗ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيْثَ مِنْهُ تُنْفِقُوْنَ وَلَسْتُمْ بِاٰ خِذِيْهِ اِلَّاۤ اَنْ تُغْمِضُوْا فِيْهِ ۗ وَا عْلَمُوْۤا اَنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ

Yaaa ayyuhallaziina aamanuuu angfiquu ming thoyyibaati maa kasabtum wa mimmaaa akhrojnaa lakum minal-ardh, wa laa tayammamul-khobiisa min-hu tungfiquuna wa lastum bi-aakhiziihi illaaa ang tughmidhuu fiih, wa'lamuuu annalloha ghoniyyun hamiid.

"Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Janganlah kamu memilih yang buruk untuk kamu keluarkan, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya, melainkan dengan memicingkan mata (enggan) terhadapnya. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya, Maha Terpuji."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 267).

3, biji bijian dan buah buahan
Biji bijian yang khusus untuk dimakan

4. Barang tambang dan rikaz
Rikaz adalah harta Karun yang temukan.

Hikmah zakat:

1. Membersihkan dan menumbuhkan harta menghadirkan keberkahan, menghilangkan keburukan
2. Membersihkan Muzakki (pembayar zakat) dari kikir dan Bakhil
3. Melipur duka fakir miskin
4. Mewujudkan solidaritas, tolong menolong
5. Mensyukuri nikmat Allah.
6. Menunjukan kejujuran.

Zakat mas sudah masuk nisab 85 gr. Dikenakan zakat 2,5 %
Sedangkan Dinar atau perak nisabnya 559 gr.

Kalau uang dihitung dengan emas sedangkan ulama Saudi menetapkan dengan perak, maka sekiranya uang yang disimpan sudah melebihi nisabnya dan haulnya sudah setahun menurut kalender Hijriyah Maka wajib hukumnya mengeluarkan zakatnya.

Semoga kita selalu melakukan perintah Allah, dalam perihal zakat ini dan diberi kekuatan menunaikannya.

Aamiin ya rabb...(Rep:Rusdi/Edit:Nas)

Jumat, 06 Februari 2026

Bahagia Menyambut Ramadhan

Menyambut Ramadhan dengan bahagia adalah wujud syukur dan tanda keimanan, sesuai hadits bahwa yang bergembira menyambutnya diharamkan dari api neraka. Kegembiraan ini diwujudkan dengan persiapan fisik-mental, meningkatkan ibadah, serta menjaga silaturahmi. Ramadhan adalah tamu agung penuh berkah, rahmat, dan ampunan.

Berikut adalah poin-poin penting dalam menyambut Ramadhan dengan penuh kebahagiaan:

Penyucian Hati dan Syukur: Menyambut dengan hati bersih, rindu, dan sukacita karena dipertemukan kembali dengan bulan suci.

Persiapan Fisik dan Mental: Menjaga kesehatan, pola makan seimbang, dan tidur teratur agar ibadah maksimal
.
Peningkatan Ibadah: Memperbanyak doa, istighfar, membaca Al-Qur'an, dan beramal saleh.

Tradisi Positif: Melakukan munggahan atau tradisi silaturahmi bersama keluarga dan kerabat untuk mempererat tali persaudaraan.

Keutamaan Bulan Suci: Bulan penuh ampunan, di mana pintu surga dibuka dan setan dibelenggu, menjadikannya momen terbaik meningkatkan ketaqwaan.

Bahagia menyambut Ramadhan membantu meningkatkan keikhlasan dan semangat dalam berpuasa sebagai momen penyegaran iman.

Bulan panen pahala

Dalam hitungan hari, umat Islam seluruh dunia akan memasuki bulan Ramadhan. Sebuah bulan yang diyakini mulia dan meningkatkan pahala amal ibadah. Dalam artikel berjudul Amalan menyambut Ramadhan di NU Online yang ditulis Ulil Hadrawy, disebutkan bahwa di antara hal penting dalam menyambut Ramadhan yaitu senang dengan datangnya Ramadhan dan meminta maaf kepada sesama manusia. 

Dua amal ini terlihat berbeda dalam tulisan, tapi sejatinya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Bagi seseorang yang senang dengan datangnya Ramadhan, maka ia akan mengunjungi keluarga, tetangga dan teman untuk membagikan kebahagiaan dan minta maaf. Sehingga ketika memasuki bulan Ramadhan, bisa ibadah bersama. 

Pertama, saling memaafkan. Amal baik yang bisa dilakukan ketika menyambut datangnya bulan Ramadhan yaitu meminta maaf kepada Allah (taubat) dan saling memaafkan sesama manusia. Namun, bagi yang meminta maaf terlebih dahulu memiliki nilai lebih. 

Dalam kehidupan sosial sesama manusia, tak jarang terjadi kesalahpahaman yang berujung permusuhan. Sehingga dirasakan perlu meminta maaf kepada sesama manusia agar ketika Ramadhan datang, hati dan pikiran dalam keadaan bersih. 
Hal ini sesuai dengan anjuran Islam dalam al-Baqarah ayat 178 ...فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ ذَلِكَ تَخْفِيفٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَرَحْمَةٌ فَمَنِ اعْتَدَى بَعْدَ ذَلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌ 

Artinya: "Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (dia) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih." (QS Al-Baqarah :178) 

Dalam sebuah hadis shahih, Nabi Muhammad saw menganjurkan agar siapa yang mempunyai tanggung jawab terhadap orang lain, baiknya itu menyangkut kehormatan atau apa saja, segera menyelesaikannya di dunia ini, sehingga tanggung jawab itu menjadi bebas (bisa dengan menebus, bisa dengan meminta halal, atau meminta maaf). 

Sebab nanti di akhirat sudah tidak ada lagi uang untuk tebus menebus. Orang yang mempunyai tanggungan dan belum meminta halal ketika dunia, kelak akan diperhitungkan dengan amalnya: apabila dia punya amal saleh, dari amal shalehnya itulah tanggungannya akan ditebus; bila tidak memiliki, maka dosa atas orang yang disalahinya akan ditimpakan kepadanya, dengan ukuran tanggungannya. (Lihat misalnya, Jawahir al-Bukhari, hlm. 275, hadis nomer: 353 dan shahih Muslim, II/430). 

Kedua, senang dengan kedatangan Ramadhan. Anjuran menyambut Ramadhan dengan senang merupakan ajaran Rasulullah dan kebiasaan para ulama serta orang saleh. Hal ini bisa dilihat dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad bin Hambal dalam Musnadnya sebagai berikut:

 حَدَّثنا عَبْدُ اللهِ، حَدَّثَنِي أَبِي، حَدَّثنا عَفَّانُ، حَدَّثنا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ حَدَّثنا أَيُّوبُ، عَنْ أَبِي قِلاَبَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلى الله عَليه وسَلم يُبَشِّرُ أَصْحَابَهُ قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ يُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَيُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ 

Artinya: "Abdullah telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Ayahku telah menceritakan kepadaku, ia berkata, Affan telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Hammad bin Zaid telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Ayyub telah menceritakan kepada kami, dari Abu Qiladah, dari Abu Hurairah r.a., ia berkata: Rasulullah saw. memberikan kabar gembira kepada sahabat-sahabatnya, “Bulan Ramadhan telah datang. Ramadhan adalah bulan yang diberkahi. Allah telah mewajibkan puasa atas kalian. Pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup rapat-rapat dan setan-setan dibelenggu di dalamnya. 

Di dalam bulan Suci Ramadhan ada satu malam yang lebih baik dari pada malam seribu bulan. Orang yang menghalangi kebaikan di dalam bulan Suci Ramadhan ini, maka dia akan terhalang dengan kebaikan.” 

Hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad ini bisa dijadikan dasar. Bagi orang yang beriman, mengetahui keutamaan-keutamaan yang spesial untuk bulan Ramadhan yang tidak dimiliki oleh bulan-bulan yang lain adalah kabar gembira yang tidak terhingga. 

Dari Abu Hurairah Ra dalam redaksi hadits lain, Rasulullah SAW juga bersabda:

 مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “

Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 38 dan Muslim No. 860). 

Menurut keterangan Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani di kitab Fathul Bari, yang dimaksud berpuasa atas dasar iman yaitu berpuasa karena meyakini akan kewajiban puasa Ramadhan sedangkan yang dimaksud ihtisab adalah mengharap pahala dari Allah Ta’ala. 

Syekh Usman Al-Khaubawi dalam kitabnya yang Durratun Nashihin menulis bahwa seseorang yang bahagia menyambut Ramadhan akan selamat dari api neraka:

مَنْ فَرِحَ بِدُخُوْلِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلَى النِّيْرَانِ 

Barang siapa yang berbahagia dengan masuknya bulan Ramadhan, maka Allah haramkan jasadnya di atas api neraka. 

Hanya saja, redaksi di kitab Durratun Nashihin ini masih diperdebatkan. Apakah mungkin hanya dengan senang saja, seseorang lepas dari api neraka. (kontributor: Syarif Abdurrahman/editing:nanas)


berpuasa, menjadikannya momen penyegaran iman.

Rabu, 04 Februari 2026

Tipu Daya Iblis di Arafah

Cerita tentang "Talbis Iblis" (tipu daya iblis) di Arafah, khususnya dalam konteks sufi, sering merujuk pada upaya iblis untuk merusak amal ibadah yang paling utama di saat puncak haji. 

Kisah ini sering dikaitkan dengan narasi hikmah tentang keputusasaan iblis pada hari Arafah, meskipun mereka tidak berhenti menipu manusia.

Berikut adalah ringkasan cerita dan konsep Talbis Iblis di Arafah berdasarkan perspektif sufi dan ulama:

1. Narasi Iblis Menangis dan Putus Asa di Arafah

Dalam banyak kitab hikmah, diceritakan bahwa pada hari Arafah, iblis merasa sangat jengkel dan merana. Iblis menangis meraung-raung karena melihat rahmat Allah SWT turun secara besar-besaran, dan dosa para jamaah haji diampuni secara massal. 

Talbis: Saat itu, iblis menyadari bahwa usahanya selama setahun untuk menyesatkan manusia hancur dalam sekejap ketika mereka wukuf.

Puncak Kecemburuan: Iblis cemburu melihat hamba-hamba Allah yang kembali suci. Namun, keputusasaan ini tidak membuat iblis berhenti, melainkan memicunya untuk membuat "tipu daya" baru, khususnya terhadap para ahli ibadah (termasuk kaum sufi).

2. Talbis Iblis terhadap Sufi (Orang Zuhud) di Arafah

Imam Ibnu al-Jauzi dalam kitabnya Talbis Iblis mengungkap bagaimana iblis menipu kaum sufi dan orang zuhud, termasuk dalam momen haji: Menyalahi Sunah: Iblis merayu mereka untuk merasa "terlalu suci" sehingga meninggalkan sunah Nabi SAW. Misalnya, berhaji tanpa membawa bekal sama sekali dengan alasan tawakul ekstrim, padahal Nabi SAW sendiri membawa perbekalan.

Kekaguman Diri (Ujub): Iblis berusaha menanamkan perasaan bahwa ibadah mereka lebih tinggi daripada orang awam, membuat mereka terjebak pada ujub (bangga diri) saat berwukuf di Arafah, sehingga pahala haji mereka terhapus.

Tingkah Laku Berlebihan: Iblis membisikkan perilaku berlebihan yang dianggap sebagai zuhud, seperti menyiksa diri sendiri atau meninggalkan kebersihan, yang sebenarnya bertentangan dengan ajaran Islam.

3. Esensi Talbis Iblis di Arafah

Talbis Iblis bertujuan mengubah yang buruk menjadi tampak baik. Di Arafah, iblis tidak selalu menggoda dengan maksiat telanjang, melainkan melalui: Syubhat (Keraguan): Membuat sufi ragu akan sahnya haji mereka sehingga was-was.

Riya dan Sum'ah: Iblis berusaha meyakinkan bahwa membuat ibadah di Arafah ditujukan untuk dipuji atau ingin dianggap sebagai orang shalih.

Kesimpulan Cerita

Kisah "Talbis Iblis di Arafah" adalah pengingat bahwa bahkan di tempat paling suci dan waktu paling mulia, tipu daya iblis tetap mengintai. Iblis tidak hanya menggoda orang awam, tetapi justru fokus menipu para ahli ibadah agar terjebak pada kesombongan ruhani, meninggalkan sunah, dan beramal tanpa dasar ilmu yang benar.

Berikut cuplikan kisah dialog iblis dan sufi

“Apabila kamu telah bertolak dari Arafah, maka berzikirlah kepada Allah…” Begitulah yang tersurat dalam QS. Al-Baqarah (2) : 198.

WUKUF di 'Arafah, kerap dipahami sebagai peristiwa pengenalan dan kesadaran—ketika Nabi Ibrahim meyakini bahwa mimpinya adalah perintah dari Allah.

Dari makna inilah Arafah dipahami sebagai “mengenali” dan “menyadari”.
Saat wukuf di Arafah jemaah haji berdiam sejenak untuk merenung dan bertaubat atas semua kesalahan yang pernah dilakukannya.
Inilah puncak ibadah haji. 

Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ :
“Al-hajju ‘Arafah” — Haji itu (intinya) adalah Arafah. (HR. Tirmidzi, Abu Dawud).

Apabila haji seseorang mabrur, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni. 

Inilah yang membuat Iblis iri. Sehingga ia menggoda manusia dengan ujub—merasa kagum pada amalnya sendiri. Sebab orang yang ujub merasa tak lagi membutuhkan ampunan.

Talbis Iblis

SUATU ketika, di saat jutaan manusia berdiri dengan tangan terangkat dan air mata bercucuran di Padang Arafah, seorang wali Allah memilih untuk duduk agak menjauh.

Bukan karena enggan berdoa, tapi ia menjaga agar hatinya tidak sibuk membandingkan dirinya dengan manusia lain.

Tiba-tiba datang seorang lelaki berpakaian lusuh. Wajahnya pucat, tubuhnya kurus, dan matanya memancarkan kelelahan yang panjang.

Ia duduk tak jauh dari sang wali, lalu berkata lirih,
“Sungguh beruntung manusia-manusia ini. Mereka datang dari berbagai penjuru dunia, lalu berdiri di Arafah, kemudian pulang dengan dosa yang telah diampuni.”

Nada suaranya terdengar sedikit galau, seperti ada sebuah penyesalan.
Sang wali menoleh dan bertanya dengan tenang,
“Mengapa engkau berkata demikian wahai fulan..?”

Lelaki itu lalu menoleh dan tersenyum pahit.
“Bagaimana tidak. Aku telah beribadah ribuan tahun. Sujudku pun tak terhitung," ucapnya lirih. "Tapi karena satu kesalahan, aku dihukum untuk selamanya. Sedangkan mereka, hanya dengan hadir di sini, seluruh dosanya diampuni..,” tambahnya seolah tak terima.

Sang wali lalu memandangnya lebih dalam. Kemudian berkata,
“Apakah engkau menyesal?”

Wajah lelaki itu mengeras.

“Aku menyesal karena mereka diampuni,” jawabnya.
Saat itu sang wali bertanya dengan suara agak tinggi,
“Apakah Engkau Iblis wahai fulan..?”

Lelaki itu tertawa perlahan, lalu menjawab,
“Benar,” katanya. “Tapi aku hanya membicarakan tentang keutamaan wukuf di 'Arafah...”

Sang wali menjawab,
“Ya. Engkau memang membicarakan tentang keutamaan wukuf di Arafah, tapi hatimu penuh kedengkian. Engkau menyebut tentang ampunan, tapi dirimu merasa lebih baik...”

Iblis mendekat dan berbisik,
“Bukankah aku hanya mengatakan bahwa orang-orang ini beruntung? Dan yang tidak hadir di sini adalah orang-orang yang merugi?”

Sang wali menunduk sejenak, lalu berkata,
“Celaka engkau, wahai Iblis. Engkau memang tidak sedang mengajak manusia berbuat dosa. Tapi engkau telah membuat mereka merasa bangga dengan ibadahnya.”

Wajah Iblis pun berubah muram. Lalu berkata,
“Alangkah celakanya diriku, kapankah mereka akan memandang amalnya dengan pandangan ujub (sehingga menjadi sia-sia)? Jangan-jangan mereka sudah lebih pandai dari tipu dayaku?”

Sekejap kemudian iblis pun menghilang, seolah tak pernah ada.

Sang wali kembali mengangkat tangannya dan berdoa,
“Ya Allah, lindungilah aku dari ibadah
yang membuat diriku merasa lebih baik
daripada hamba-hamba-Mu yang lain.”

KISAH ini mengingatkan kita agar selalu berhati-hati terhadap talbis Iblis–yang berusaha menggoda manusia secara halus untuk menimbulkan rasa ujub dalam ibadahnya.

Wukuf di Arafah bukanlah sekadar ritual ibadah, melainkan sebuah perenungan agar manusia senantiasa menjaga kemurnian amalannya.

"Wallahu a‘lam bish-shawab."

DJ-Way | 5 Februari 2026
Copyleft. Free to share.
Sumber : Disadur dari Ihyaa ‘Ulumuddin – al-Ghazali.
Keterangan :
¹ Talbis adalah istilah klasik dalam khazanah tasawuf yang berarti tipuan halus.
² Kisah adabi/simbolik, bukan cerita sebenarnya.

Program dan Jadwal Ceramah Masjid Al-Muhajirin

  Ketua DKM Al_Muhajirin saat Menyampaikan Program di Hari Pertama Tarawih (19/2) Hari ini, Kamis 19 Februari 2026, adalah hari pertama uma...