Rabu, 25 Maret 2026

Keutamaan Bulan Syawal

Kita baru saja melewati bulan Ramadhan, dan sekarang kita sudah berada di bulan Syawal, bulan kesepuluh dalam penanggalan hijriyah. Nyaris tidak ada penyambutan terhadap datangnya bulan syawal. 

Berbeda dengan ketika menyambut Ramadhan, biasanya kita mengucapkan Marhaban Ya Ramadhan!! Tapi untuk bulan Syawal, tidak pernah kita mendengar orang mengucapkan Marhaban Ya Syawal!

Padahal, Syawal juga bulan istimewa dan memiliki keutamaan. Inilah beberapa keistimewaan bulan Syawal.

Bulan Kembali ke Fitrah

Syawal adalah bulan kembalinya umat Islam kepada fitrahnya, diampuni semua dosanya, setelah melakukan ibadah Ramadhan sebulan penuh. Paling tidak, tanggal 1 Syawal umat Islam “kembali makan pagi” dan diharamkan berpuasa pada hari itu.

Ketibaan Syawal membawa kemenangan bagi mereka yang berjaya menjalani ibadah puasa sepanjang Ramadan. Ia merupakan lambang kemenangan umat Islam hasil dari "peperangan" menentang musuh dalam jiwa yang terbesar, yaitu hawa nafsu.

Bulan Takbir

Tanggal 1 Syawal adalah Idul Fitri dimana seluruh umat Islam di berbagai belahan dunia mengumandangkan takbir. Maka, bulan Syawal pun merupakan bulan dikumandangkannya takbir oleh seluruh umat Islam secara serentak, paling tidak satu malam, yakni begitu malam memasuki tanggal 1 Syawal alias Malam Takbiran, menjelang Shalat Idul Fitri.

Kumandang takbir merupakan ungkapan rasa syukur atas keberhasilan ibadah Ramadhan selama sebulan penuh. Kemenangan yang diraih itu tidak akan tercapai, kecuali dengan pertolongan-Nya. Maka umat Islam pun memperbanyakkan dzikir, takbir, tahmid, dan tasbih. “"Dan agar kamu membesarkan Allah atas apa-apa yang telah Ia memberi petunjuk kepada kamu, dan agar kamu bersyukur atas nikmat-nikmat yang telah diberikan" (QS. Al-Baqarah: 185).

Bulan Silaturahmi

Dibandingkan bulan-bulan lainnya, pada bulan inilah umat Islam sangat banyak melakukan amaliah silaturahmi, mulai mudik ke kampung halaman, saling bermaafan dengan teman atau tetangga, hala bihalal, kirim SMS dan telepon, dan sebagainya. Betapa Syawal pun menjadi bulan penuh berkah, rahmat, dan ampunan Allah karena umat Islam menguatkan tali silaturahmi dan ukhuwah Islamiyah.

Bulan Ceria

Syawal adalah bulan penuh ceria. Di Indonesia bahkan identik dengan hal yang serba baru –baju baru, sepatu baru, perabot rumah tangga baru, dan lain-lain. Orang-orang bersuka cita, bersalaman, berpelukan, bertangis bahagia, mengucap syukur yang agung, meminta maaf, memaafkan yang bersalah.

Begitu banyak doa terlempar di udara. Begitu banyak cinta kasih saling diberikan antar seluruh umat manusia. Aura maaf tersebar di seluruh penjuru bumi, nuansa peleburan dosa, nuansa pencarian makna baru dalam hidup.

Puasa Satu Tahun

Amaliah yang ditentukan Rasulullah Saw pada bulan Syawal adalah puasa sunah selama enam hari, sebagai kelanjutan puasa Ramadhan.

“Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan lalu diiringinya dengan puasa enam hari bulan Syawal, berarti ia telah berpuasa setahun penuh” (H.R Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ibnu Majah)

“Allah telah melipatgandakan setiap kebaikan dengan sepuluh kali lipat. Puasa bulan Ramadhan setara dengan berpuasa sebanyak sepuluh bulan. Dan puasa enam hari bulan Syawal yang menggenapkannya satu tahun” (HR An-Nasa’i dan Ibnu Majah dan dicantumkan dalam Shahih At-Targhib).

Bulan Nikah

Syawal adalah bulan yang baik untuk menikah. Hal ini sekaligus mendobrak khurafat, yakni pemikiran dan tradisi jahiliyah yang tidak mau melakukan pernikahan pada bulan Syawal karena takut terjadi malapetaka.

Budaya jahiliyah itu muncul disebabkan pada suatu tahun, tepatnya bulan Syawal, Allah Swt menurunkan wabah penyakit, sehingga banyak orang mati termasuk beberapa pasangan pengantin. Maka sejak itu, kaum jahiliah tidak mau melangsungkan pernikahan pada bulan Syawal.

Khurafat itu didobrak oleh Islam. Rasulullah Saw menunjukkan sendiri bahwa bulan Syawal baik untuk menikah. Siti Aisyah menegaskan: “Rasulullah SAW menikahi saya pada bulan Syawal, berkumpul (membina rumah tangga) dengan saya pada bulan Syawal, maka siapakah dari isteri beliau yang lebih beruntung daripada saya?”. Selain dengan Siti Aisyah, Rasul juga menikahi Ummu Salamah juga pada bulan Syawal.

Menurut Imam An-Nawawi, hadits tersebut berisi anjuran menikah pada bulan Syawal. ‘Aisyah bermaksud, dengan ucapannya ini, untuk menolak tradisi jahiliah dan anggapan mereka bahwa menikah pada bulan Syawal tidak baik.

Bulan Peningkatan

Inilah keistimewaan bulan Syawal yang paling utama. Syawal adalah bulan “peningkatan” kualitas dan kuantitas ibadah. Syawal sendiri, secara harfiyah, artinya “peningkatan”, yakni peningkatan ibadah sebagai hasil training selama bulan Ramadhan. Umat Islam diharapkan mampu meningkatkan amal kebaikannya pada bulan ini, bukannya malah menurun atau kembali ke “watak” semula yang jauh dari Islam. Na’udzubillah.

Bulan Pembuktian Takwa

Inilah makna terpenting bulan Syawal. Setelah Ramadhan berlalu, pada bulan Syawal-lah “pembuktian” berhasil-tidaknya ibadah Ramadhan, utamanya puasa, yang bertujuan meraih derajat takwa.

Jika tujuan itu tercapai, sudah tentu seorang Muslim menjadi lebih baik kehidupannya, lebih saleh perbuatannya, lebih dermawan, lebih bermanfaat bagi sesama, lebih khusyu’ ibadahnya, dan seterusnya. Paling tidak, semangat beribadah dan dakwah tidak menurun setelah Ramadhan. Amin Ya Rabbal Alamin. (Muhammad Yuliawan)

Sabtu, 21 Maret 2026

Keutamaan Puasa Enam Hari Bulan Syawal

Puasa enam hari bulan Syawal selepas mengerjakan puasa wajib bulan Ramadhan adalah amalan sunnat yang dianjurkan, bukan wajib. Seorang muslim dianjurkan mengerjakan puasa enam hari bulan Syawal. 

Banyak sekali keutamaan dan pahala yang besar bagi puasa ini. Diantaranya, barangsiapa yang mengerjakannya niscaya dituliskan baginya puasa satu tahun penuh (jika ia berpuasa pada bulan Ramadhan). Sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits shahih dari Abu Ayyub Radhiyallahu 'Anhu bahwa Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam bersabda:

"Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan lalu diiringinya dengan puasa enam hari bulan Syawal, berarti ia telah berpuasa setahun penuh."
(H.R Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa'i dan Ibnu Majah)

Rasulullah SAW telah menjabarkan lewat sabda beliau:

"Barangsiapa mengerjakan puasa enam hari bulan Syawal selepas 'Iedul Fitri berarti ia telah menyempurnakan puasa setahun penuh. Dan setiap kebaikan diganjar sepuluh kali lipat."

Dalam sebuah riwayat berbunyi:

"Allah telah melipatgandakan setiap kebaikan dengan sepuluh kali lipat. Puasa bulan Ramadhan setara dengan berpuasa sebanyak sepuluh bulan. Dan puasa enam hari bulan Syawal yang menggenapkannya satu tahun."
(H.R An-Nasa'i dan Ibnu Majah dan dicantumkan dalam Shahih At-Targhib).

Ibnu Khuzaimah meriwayatkan dengan lafazh:

"Puasa bulan Ramadhan setara dengan puasa sepuluh bulan. Sedang puasa enam hari bulan Syawal setara dengan puasa dua bulan. Itulah puasa setahun penuh."

Para ahli fiqih madzhab Hambali dan Syafi'i menegaskan bahwa puasa enam hari bulan Syawal selepas mengerjakan puasa Ramadhan setara dengan puasa setahun penuh, karena pelipat gandaan pahala secara umum juga berlaku pada puasa-puasa sunnat. Dan juga setiap kebaikan dilipat gandakan pahalanya sepuluh kali lipat.

Salah satu faidah terpenting dari pelaksanaan puasa enam hari bulan Syawal ini adalah menutupi kekurangan puasa wajib pada bulan Ramadhan. Sebab puasa yang kita lakukan pada bulan Ramadhan pasti tidak terlepas dari kekurangan atau dosa yang dapat mengurangi keutamaannya. Pada hari kiamat nanti akan diambil pahala puasa sunnat tersebut untuk menutupi kekurangan puasa wajib.

Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam :

"Amal ibadah yang pertama kali di hisab pada Hari Kiamat adalah shalat. Allah Ta'ala berkata kepada malaikat -sedang Dia Maha Mengetahui tentangnya-: "Periksalah ibadah shalat hamba-hamba-Ku, apakah sempurna ataukah kurang. Jika sempurna maka pahalanya ditulis utuh sempurna. Jika kurang, maka Allah memerintahkan malaikat: "Periksalah apakah hamba-Ku itu mengerjakan shalat-shalat sunnat? Jika ia mengerjakannya maka tutupilah kekurangan shalat wajibnya dengan shalat sunnat itu." Begitu pulalah dengan amal-amal ibadah lainnya." (H.R Abu Dawud).
Wallahu a'lam. 
(Syeikh Muhammad Sholih Al-Munajid)

Kamis, 19 Februari 2026

Program dan Jadwal Ceramah Masjid Al-Muhajirin




  Ketua DKM Al_Muhajirin saat
Menyampaikan Program di
Hari Pertama Tarawih (19/2)



Hari ini, Kamis 19 Februari 2026, adalah hari pertama umat Islam menjalankan ibadah puasa Ramadhan 1447 H berdasarkan penetapan resmi pemerintah. 

Imam dan Tausyiah Shalat Tarawih Hari Pertama disampaikan oleh Ketua DKM Al-Muhajirin, H. Hasan Munawar, yang menginformasikan beberapa program Ramadhan DKM Al-Muhajirin RW-10 Antapani Kidul Bandung yang dapat digunakan untuk memaksimalkan ibadah di bulan suci ini.

Ketua DKM berpesan agar waktu sisa usia yang tersisa ini dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Manfaatkan waktu untuk kegiatan-kegiatan bermanfaat. Terlebih di bulan Ramadhan yang penuh berkah saat ini dengan pahala yang melimpah dan  berlipat ganda.

Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, DKM Al-Muhajirin RW-10 Antapani Kidul menggelar berbagai program Ramadhan. "Semoga para jamaah Al- Muhajirin di lingkungan RW 10 dan sekitarnya diberikan kesehatan serta selalu dalam bimbingan, lindungan dan hidayah Allah Subhanahu Wata'ala," tandas Ketua DKM.

Dalam memasuki bulan suci Ramadhan dan idul fitri 1447 H ini, Saya atas nama DKM Al-Muhajirin sebelumnya memohon maaf yang sebesar-besarnya apabila masih banyaknya kekurangan dalam melayani dan memfasilitasi ibadah dan menuntut ilmu agama bagi jama’ah dan warga sekalian.

Khususnya dalam rangka memfasilitasi para jamaah dalam beribadah guna mencapai derajat orang yang bertaqwa sesuai dengan tujuan utama shaum Ramadhan ( Q.S Al-Baqoroh: 183).

Adapun beberapa kegiatan yang akan diselenggarakan adalah :

1. Tilawah dan Tadarus Al-Qur’an baik mandiri ataupun berkelompok,
2. Shalat sunah tarawih dan ceramah,
3. Menyediakan ifthar/makanan untuk berbuka shaum/puasa di masjid;
4. Pesantren kilat anak-anak selama 7 hari,
5. I'tikaf selama 10 hari terakhir,
6. Menerima titipan zakat fitri, fidyah, zakat mal, infaq dan sedekah serta menyalurkan zakat fitri dan fidyah pada waktu setelah shalat subuh sampai sebelum shalat idul fitri 1447 H,
7. Menyelenggarakan shalat idul fitri 1447 H.
 
Kegiatan-kegiatan di atas memberi peluang sangat besar kepada kita untuk bisa beribadah di masjid secara lebih intens dan lebih khusyu serta memberi peluang untuk beramal soleh dalam bentuk SHADAQOH HARTA, yang Insya allah pahalanya akan tercatat sebagai pahala agung di bulan suci Ramadhan.

Seperti kita ketahui bahwa sedekah di bulan Ramadhan pahalanya dilipat gandakan dan menjadi jalan diampuninya dosa-dosa kita yang telah lalu. Dalam sebuah hadits:

"Barang siapa memberikan hidangan kepada orang yang berbuka puasa, ia akan mendapatkan pahala puasa seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa sedikitpun mengurangi pahala orang yang berpuasa. ( HR At Tirmidzi).

Dalam kesempatan ini pula kami mengajak bapak, ibu, adik-adik jamaah Al Muhajirin untuk menangkap peluang beramal soleh dengan menyisihkan sebagian rejeki yang dititipkan oleh Allah kepada kita, untuk kegiatan :

1. Menyediakan Ifthar (makanan berbuka puasa) di masjid untuk jamaah, anak-anak dan para
musafir yang ikut berjamaah sholat magrib,
2. Kegiatan itikaf bapak-bapak pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan,
3. Pemberian iftar & makan sahur untuk saudara terdekat kita, 
4. Kegiatan pesantren anak-anak,
5. Iftar untuk Imam dan penceramah tarawih yang berbuka di mesjid Al-Muhajrin.

Insya Allah sedekah bapak/ibu sekalian akan sangat berarti dan bermanfaat bagi kegiatan ini dan Allah Subhanahu WaTa’ala akan memberikan pahala yang berlipat ganda.

Mari kita sambut Ramadhan 1447 H ini dengan penuh suka cita serta penuh harap pahala dan semoga umur kita dipanjangkan sampai pada bulan ramadhan 1447 H supaya bisa melaksanakan dan merasakan nikmatnya ibadah bulan Ramadhan ini dengan penuh kekhusyuan. Aamiin.(//Red/Kisunda-10/Nas/Humas/Dkm/Almjrn//)

Keutamaan Bulan Syawal

Kita baru saja melewati bulan Ramadhan, dan sekarang kita sudah berada di bulan Syawal, bulan kesepuluh dalam penanggalan hijriyah. Nyaris...