Kamis, 19 Februari 2026

Program dan Jadwal Ceramah Masjid Al-Muhajirin




  Ketua DKM Al_Muhajirin saat
Menyampaikan Program di
Hari Pertama Tarawih (19/2)



Hari ini, Kamis 19 Februari 2026, adalah hari pertama umat Islam menjalankan ibadah puasa Ramadhan 1447 H berdasarkan penetapan resmi pemerintah. 

Imam dan Tausyiah Shalat Tarawih Hari Pertama disampaikan oleh Ketua DKM Al-Muhajirin, H. Hasan Munawar, yang menginformasikan beberapa program Ramadhan DKM Al-Muhajirin RW-10 Antapani Kidul Bandung yang dapat digunakan untuk memaksimalkan ibadah di bulan suci ini.

Ketua DKM berpesan agar waktu sisa usia yang tersisa ini dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Manfaatkan waktu untuk kegiatan-kegiatan bermanfaat. Terlebih di bulan Ramadhan yang penuh berkah saat ini dengan pahala yang melimpah dan  berlipat ganda.

Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, DKM Al-Muhajirin RW-10 Antapani Kidul menggelar berbagai program Ramadhan. "Semoga para jamaah Al- Muhajirin di lingkungan RW 10 dan sekitarnya diberikan kesehatan serta selalu dalam bimbingan, lindungan dan hidayah Allah Subhanahu Wata'ala," tandas Ketua DKM.

Dalam memasuki bulan suci Ramadhan dan idul fitri 1447 H ini, Saya atas nama DKM Al-Muhajirin sebelumnya memohon maaf yang sebesar-besarnya apabila masih banyaknya kekurangan dalam melayani dan memfasilitasi ibadah dan menuntut ilmu agama bagi jama’ah dan warga sekalian.

Khususnya dalam rangka memfasilitasi para jamaah dalam beribadah guna mencapai derajat orang yang bertaqwa sesuai dengan tujuan utama shaum Ramadhan ( Q.S Al-Baqoroh: 183).

Adapun beberapa kegiatan yang akan diselenggarakan adalah :

1. Tilawah dan Tadarus Al-Qur’an baik mandiri ataupun berkelompok,
2. Shalat sunah tarawih dan ceramah,
3. Menyediakan ifthar/makanan untuk berbuka shaum/puasa di masjid;
4. Pesantren kilat anak-anak selama 7 hari,
5. I'tikaf selama 10 hari terakhir,
6. Menerima titipan zakat fitri, fidyah, zakat mal, infaq dan sedekah serta menyalurkan zakat fitri dan fidyah pada waktu setelah shalat subuh sampai sebelum shalat idul fitri 1447 H,
7. Menyelenggarakan shalat idul fitri 1447 H.
 
Kegiatan-kegiatan di atas memberi peluang sangat besar kepada kita untuk bisa beribadah di masjid secara lebih intens dan lebih khusyu serta memberi peluang untuk beramal soleh dalam bentuk SHADAQOH HARTA, yang Insya allah pahalanya akan tercatat sebagai pahala agung di bulan suci Ramadhan.

Seperti kita ketahui bahwa sedekah di bulan Ramadhan pahalanya dilipat gandakan dan menjadi jalan diampuninya dosa-dosa kita yang telah lalu. Dalam sebuah hadits:

"Barang siapa memberikan hidangan kepada orang yang berbuka puasa, ia akan mendapatkan pahala puasa seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa sedikitpun mengurangi pahala orang yang berpuasa. ( HR At Tirmidzi).

Dalam kesempatan ini pula kami mengajak bapak, ibu, adik-adik jamaah Al Muhajirin untuk menangkap peluang beramal soleh dengan menyisihkan sebagian rejeki yang dititipkan oleh Allah kepada kita, untuk kegiatan :

1. Menyediakan Ifthar (makanan berbuka puasa) di masjid untuk jamaah, anak-anak dan para
musafir yang ikut berjamaah sholat magrib,
2. Kegiatan itikaf bapak-bapak pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan,
3. Pemberian iftar & makan sahur untuk saudara terdekat kita, 
4. Kegiatan pesantren anak-anak,
5. Iftar untuk Imam dan penceramah tarawih yang berbuka di mesjid Al-Muhajrin.

Insya Allah sedekah bapak/ibu sekalian akan sangat berarti dan bermanfaat bagi kegiatan ini dan Allah Subhanahu WaTa’ala akan memberikan pahala yang berlipat ganda.

Mari kita sambut Ramadhan 1447 H ini dengan penuh suka cita serta penuh harap pahala dan semoga umur kita dipanjangkan sampai pada bulan ramadhan 1447 H supaya bisa melaksanakan dan merasakan nikmatnya ibadah bulan Ramadhan ini dengan penuh kekhusyuan. Aamiin.(//Red/Kisunda-10/Nas/Humas/Dkm/Almjrn//)

Jumat, 13 Februari 2026

Ramadhan Karim Telah Datang Kepadamu

Ramadhan Karim (رمضان كريم) artinya adalah "Ramadhan yang mulia" atau "Ramadhan yang dermawan".

Ungkapan ini merupakan ucapan selamat dan doa agar bulan suci Ramadhan membawa limpahan kebaikan, kemurahan hati, dan keberkahan bagi umat Muslim. 

Ini menegaskan bahwa Ramadhan adalah waktu di mana Allah melimpahkan pahala berlipat ganda.

Makna dan Penggunaan arti secara harfiah: Ramadhan (bulan ke-9 Hijriah) + Karim (mulia/dermawan/murah hati).

Adapun makna yang dikandungnya merupakan doa agar Ramadhan memberikan kemurahan hati atau kebaikan kepada mereka yang merayakannya. Hal ini sering digunakan sebagai ucapan salam, sambutan, atau doa selama bulan puasa
.
Jika seseorang mengucapkan "Ramadhan Karim", bisa dijawab dengan "Allah Akram" yang berarti "Allah Maha Pemurah".

Adapun perbedaan Ramadhan Karim vs. Ramadhan Mubarak, yakni Jika Ramadhan Karim berfokus pada kemurahan hati atau kemuliaan bulan Ramadhan. Maka Ramadhan Mubarak mengandung arti "Ramadhan yang diberkahi".

Meskipun terdapat perbedaan pandangan mengenai penggunaan kata Karim, ungkapan ini secara umum dimaknai positif sebagai bentuk penghormatan dan doa atas keberkahan bulan Ramadan.

Ramadhan Telah Datang


Saudaraku,
Kita senantiasa berharap berusia panjang dan diberikan kesempatan menapaki bulan mulia Ramadhan sebagaimana tertuang dalam doa yang sering kita panjatkan semenjak bulan Rajab dan Sya’ban,

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

“Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan bulan Sya’ban dan pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan.”

Satu doa ringkas penuh makna yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang bertujuan mengingatkan setiap Mukmin untuk bersegera dan berlomba-lomba menyiapkan diri, baik secara lahir maupun batin untuk menyambut datangnya bulan mulia, bulan penuh limpahan keberkahan, bulan suci, bulan istimewa yang penuh rahmat, ampunan...

Saudaraku,
Setidaknya ada beberapa hal yang perlu kita siapkan dalam menyambut dan memaksimalkan keistimewaan bulan Ramadhan yakni persiapan lahir dan batin, fisik dan mental, materil dan immateril.
Allah Azza wa Jalla berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al Baqarah: 183)

Ayat ini menegaskankan dan mengingatkan kepada setiap pribadi hamba Allah yang Mukmin Muslim untuk menunaikan kewajiban ibadah di bulan suci Ramadhan. Sebuah kewajiban yang juga telah diwajibkan kepada umat-umat terdahulu, sebelum Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yakni ibadah puasa. Kewajiban untuk menahan diri, tidak makan dan minum serta menghindari segala sesuatu yang sekiranya dapat membatalkan puasa sebagaimana tuntunan syariat...

Oleh karenanya, perlu persiapan lahiriah agar tubuh dapat beradaptasi dengan baik secara bertahap yakni dengan tutorial latih diri untuk berpuasa di bulan-bulan sebelumnya, seperti bulan Rajab dan Sya’ban. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah memberikan contoh dan kita sebagai umatnya patut untuk meneladaninya sebagaimana termaktub dalam hadits,

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ

“Dari Aisyah r.a. ia menuturkan, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam biasa mengerjakan puasa, sehingga kami berpendapat bahwa beliau tidak pernah tidak berpuasa, dan beliau biasa tidak berpuasa, sehingga kami berpendapat bahwa beliau tidak pernah berpuasa.


Akan tetapi aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berpuasa sebulan penuh, kecuali pada bulan Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa daripada puasa di bulan Sya’ban”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Selain persiapan lahiriah, penting juga untuk melakukan persiapan batiniah dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Dan persiapan awal yang pantas dan bisa dilakukan adalah dengan menanamkan kegembiraan dalam hati, rasa dan pikiran.

Sebab secara psikologis, perasaan dan pikiran gembira saat menyambut sesuatu akan menumbuhkan motif, dorongan dan perasaan kecintaan dalam melakukan sesuatu. Selanjutnya jika motif dan perasaan cinta sudah tumbuh saat melakukan sesuatu, maka pasti akan dapat mencapai perolehan hasil yang maksimal.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengingatkan dalam sebuah hadits kepada ummatnya untuk senantiasa menghadirkan perasaan dan pikiran gembira menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan. Kegembiraan dan perasaan suka ria ini juga niscaya bakal diganjar dengan sebuah keistimewaan pula,

مَنْ فَرِحَ بِدُخُولِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلىَ النِّيْرَانِ

“Siapa bergembira dengan masuknya bulan Ramadhan, Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka.”

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa juga bersabda,

أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ، فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah telah mewajibkan padamu berpuasa di bulan itu. Dalam bulan itu dibukalah pintu-pintu langit, dan ditutuplah pintu-pintu neraka, dan syaitan-syaitan dibelenggu. Pada bulan itu terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.”
(HR. Imam Nasa’i)

Saudaraku,
Yang tidak kalah penting adalah pembekalan diri dengan giat untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman beragama dalam Islam melalui majelis taklim sebagai upaya mengkalibrasi tingkat keimanan dan keyakinan yang mungkin sebelumnya tenggelam dalam hiruk pikuk perhiasan duniawi yang melalaikan.

Hal itu agar tidak kecewa dan merugi disebabkan kehilangan -start point- dan peluang-peluang menarik dalam meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah sepanjang bulan Ramadhan.

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita sehingga kita tetap Istiqamah senantiasa meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah kita untuk meraih keberkahan dan ridha-Nya.
Aamiin Ya Rabb.
Wallahu a'lam bishawab...

Senin, 09 Februari 2026

Kajian Subuh Ust. Drs. Usin Artyasa, MM.: Spirit Ramadhan dan Penguatan Kehambaan

Pengantar Redaksi:

Spirit Ramadhan adalah momentum peningkatan kualitas diri, ketakwaan, dan disiplin sosial melalui puasa guna melatih kejujuran, pengendalian hawa nafsu, serta kepedulian sosial. Esensi utamanya adalah merawat kebiasaan baik—seperti sedekah, qiyamul lail, dan tadarus—untuk mencapai derajat muttakin (bertakwa) yang konsisten di luar bulan suci.

Dilarang Berlebihan (ghulu)


Beberapa hal yang termasuk ghulu, misalnya: Hari Jumat merupakan hari syaiful ayam, walaupun syaiful ayam namun tidak boleh dikhususkan bepuasa disetiap hari Jumat, karena itu termasuk ghulu (berlebih-lebihan). Adapun doa yang terbaik saat hari Jumat adalah saat khatib duduk diantara dua khotbah.

Mengokohan posisi kehambaan tidak boleh mengabaikan aspek kemanusiaan. Dengan kata lain ubuddiyah tidak boleh merusak konsep Al Basyariah.

Orang yang shaum dilarang tidak berbuka saat sudah sampai waktunya berbuka. Pernah seseorang dizaman Rasulullah melakukan wisol mau berpuasa sampai tiga hari. Puasa tiga hari tanpa makanan dan minum ini juga termasuk yang berlebih-lebihan.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

اَلْحَجُّ اَشْهُرٌ مَّعْلُوْمٰتٌ ۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيْهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوْقَ وَلَا جِدَا لَ فِى الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوْا مِنْ خَيْرٍ يَّعْلَمْهُ اللّٰهُ ۗ وَتَزَوَّدُوْا فَاِ نَّ خَيْرَ الزَّا دِ التَّقْوٰى ۖ وَا تَّقُوْنِ يٰۤاُ ولِى الْاَ لْبَا بِ

al-hajju asy-hurum ma'luumaat, fa mang farodho fiihinnal-hajja fa laa rofasa wa laa fusuuqo wa laa jidaala fil-hajj, wa maa taf'aluu min khoiriy ya'lam-hulloh, wa tazawwaduu fa inna khoiroz-zaadit-taqwaa wattaquuni yaaa ulil-albaab.

"(Musim) haji itu (pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi. Barang siapa mengerjakan (ibadah) haji dalam (bulan-bulan) itu, maka janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat, dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji. Segala yang baik yang kamu kerjakan, Allah mengetahuinya. Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku, wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat!"
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 197).

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَ نْـتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

yaaa ayyuhallaziina aamanuttaqulloha haqqo tuqootihii wa laa tamuutunna illaa wa angtum muslimuun.

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim."
(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 102).

Rasulullah mengajarkan makna dari Alquran agar kita menjadi pengikut .
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

اِنَّمَا تُنْذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمٰنَ بِا لْغَيْبِ ۚ فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍ وَّاَجْرٍ كَرِيْمٍ

innamaa tungziru manittaba'az-zikro wa khosyiyar-rohmaana bil-ghoiib, fa basysyir-hu bimaghfirotiw wa ajring kariim.

"Sesungguhnya engkau hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, walaupun mereka tidak melihat-Nya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia."
(QS. Ya-Sin 36: Ayat 11).

Shaum harus mengacu kepada apa yang dilakukan oleh Rasulullah, dengan niat hanya untuk Allah SWT dan Melakukan sholat dengan khusuk.

Setelah melaksanakan puasa wajib di bulan Ramadhan, maka wajib ditutup dengan membayar zakat fitrah.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

حَا فِظُوْا عَلَى الصَّلَوٰتِ وَا لصَّلٰوةِ الْوُسْطٰى وَقُوْمُوْا لِلّٰهِ قٰنِتِيْنَ

haafizhuu 'alash-sholawaati wash-sholaatil-wusthoo wa quumuu lillaahi qoonitiin.

"Peliharalah semua sholat dan sholat wusta. Dan laksanakanlah (sholat) karena Allah dengan khusyuk."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 238).

Kenapa orang banyak yang ingin masuk surga? Maka jawab Rasulullah bertaqwalah, jangan menambah nambah ibadah. Disesuaikan saja dengan apa yang diajarkan Rasulullah.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْکُمُ الصِّيَا مُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِکُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

yaaa ayyuhallaziina aamanuu kutiba 'alaikumush-shiyaamu kamaa kutiba 'alallaziina ming qoblikum la'allakum tattaquun.

"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,"
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 183).

Disini ditetapkan 3 kriteria pertama orang yang beriman lalu melaksanakan syiam sehingga akan mendatangkan ketaqwaan kepada Allah.

Syariatnya shaum:

1. Berhenti dari yang membatalkan
2. Menahan diwaktu tertentu dari subuh kemaghrib.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

شَهْرُ رَمَضَا نَ الَّذِيْۤ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰ نُ هُدًى لِّلنَّا سِ وَ بَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَا لْفُرْقَا نِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَـصُمْهُ ۗ وَمَنْ کَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّا مٍ اُخَرَ ۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِکُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِکُمُ الْعُسْرَ ۖ وَلِتُکْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُکَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰٮكُمْ وَلَعَلَّکُمْ تَشْكُرُوْنَ

syahru romadhoonallaziii ungzila fiihil-qur-aanu hudal lin-naasi wa bayyinaatim minal-hudaa wal-furqoon, fa mang syahida mingkumusy-syahro falyashum-h, wa mang kaana mariidhon au 'alaa safaring fa 'iddatum min ayyaamin ukhor, yuriidullohu bikumul-yusro wa laa yuriidu bikumul-'usro wa litukmilul-'iddata wa litukabbirulloha 'alaa maa hadaakum wa la'allakum tasykuruun.

"Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 185).

3. Khusus untuk orang tertentu
4. Harus diniatkan.

Orang yang shaum sama dengan yang sudah diperintahkan kepada kaum yang dahulu.

Shaum adalah sarana menuju ketaqwaan, akan menghasilkan Muttaqin.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

لَيْسَ الْبِرَّ اَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَ الْمَغْرِبِ وَلٰـكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَوْمِ الْاٰ خِرِ وَا لْمَلٰٓئِکَةِ وَا لْكِتٰبِ وَا لنَّبِيّٖنَ ۚ وَاٰ تَى الْمَا لَ عَلٰى حُبِّهٖ ذَوِى الْقُرْبٰى وَا لْيَتٰمٰى وَا لْمَسٰكِيْنَ وَا بْنَ السَّبِيْلِ ۙ وَا لسَّآئِلِيْنَ وَفِى الرِّقَا بِ ۚ وَاَ قَا مَ الصَّلٰوةَ وَاٰ تَى الزَّکٰوةَ ۚ وَا لْمُوْفُوْنَ بِعَهْدِهِمْ اِذَا عٰهَدُوْا ۚ وَا لصّٰبِرِيْنَ فِى الْبَأْسَآءِ وَا لضَّرَّآءِ وَحِيْنَ الْبَأْسِ ۗ اُولٰٓئِكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا ۗ وَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ

laisal-birro ang tuwalluu wujuuhakum qibalal-masyriqi wal-maghribi wa laakinnal-birro man aamana billaahi wal-yaumil-aakhiri wal-malaaa-ikati wal-kitaabi wan-nabiyyiin, wa aatal-maala 'alaa hubbihii zawil-qurbaa wal-yataamaa wal-masaakiina wabnas-sabiili was-saaa-iliina wa fir-riqoob, wa aqoomash-sholaata wa aataz-zakaah, wal-muufuuna bi'ahdihim izaa 'aahaduu, wash-shoobiriina fil-ba-saaa-i wadh-dhorrooo-i wa hiinal-ba-s, ulaaa-ikallaziina shodaquu, wa ulaaa-ika humul-muttaquun.

"Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan sholat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 177).

Shaum harus menimbulkan kekuatan menahan hawa nafsu dan menjadikan manusia meningkat kemanusiaannya dan meningkatkan kepekaan terhadap orang miskin.

Sahur merupakan keberkahan yang diberikan Allah kepada orang yang melakukan shaum.

Semoga kita dapat menjalankan shaum ramadhan dengan contoh contoh Rasulullah dan perintah Allah. 

Jangan sampai salah niat dan saat berbuka jangan ditunda agar tidak sampai masuk kedalam mubalagh fih (berlebih lebihan).//Rep:Rusdi/Edit:Nas//

Program dan Jadwal Ceramah Masjid Al-Muhajirin

  Ketua DKM Al_Muhajirin saat Menyampaikan Program di Hari Pertama Tarawih (19/2) Hari ini, Kamis 19 Februari 2026, adalah hari pertama uma...